Pendidikan Islam perlu membangun kesadaran kritis, solidaritas lintas agama, dan keberanian melawan segala bentuk diskriminasi.
Islamofobia di Amerika Serikat dan Inggris tidak dapat dipahami semata-mata sebagai prasangka individu terhadap umat Islam. Fenomena tersebut juga berkaitan dengan struktur politik, kepentingan ekonomi, media, serta perkembangan teknologi digital. Hal itu disampaikan Dr. Siti Sarah dalam sebuah forum diskusi akademik yang membahas perkembangan Islam di Amerika Serikat dan Inggris.
Dalam pemaparannya, Sarah Muwahidah, Ph.D., peneliti University of Edinburgh, menjelaskan bahwa Islamofobia di kedua negara memiliki karakteristik yang berbeda. Di Amerika Serikat, sentimen anti-Muslim kerap muncul secara terbuka dalam retorika politik dan kebijakan pemerintah. Sementara itu, di Inggris, Islamofobia sering kali beroperasi melalui wacana tentang imigrasi, integrasi, identitas nasional, dan keamanan.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perbedaan ekspresi tersebut tidak berarti Inggris lebih terbebas dari Islamofobia. Bahkan, kelompok politik sayap kanan seperti Reform UK dan tokoh-tokoh populis turut menjadikan sentimen anti-Muslim sebagai komoditas politik.
“Islamofobia itu sekarang sudah sangat terstruktur. Ada kepentingan politik, kekuatan finansial, dan platform digital yang ikut memperluas penyebarannya,” jelasnya.
AI dan Media Sosial Memperkuat Penyebaran Islamofobia
Dr. Sarah juga menyoroti peran kecerdasan buatan (AI) dan media sosial dalam memperkuat penyebaran disinformasi serta stereotip terhadap umat Islam. Konten manipulatif, video palsu, dan narasi yang diulang-ulang di platform digital dapat membentuk persepsi publik, terutama ketika disebarkan atau diperkuat oleh tokoh-tokoh berpengaruh.
Salah satu contoh yang disorot adalah narasi mengenai dugaan jaringan kejahatan seksual yang dikaitkan dengan laki-laki Muslim keturunan Pakistan di Inggris. Menurutnya, narasi semacam itu kerap disebarkan tanpa konteks statistik yang memadai dan berpotensi menggeneralisasi suatu kelompok berdasarkan identitas agama maupun etnis.
Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun narasi tandingan berbasis data dan fakta. Akademisi tidak cukup hanya menghasilkan penelitian di ruang kampus, tetapi juga perlu terlibat dalam ruang publik melalui tulisan, video pendek, dan media sosial.
Ia juga membagikan pengalamannya menyaksikan langsung tindakan kekerasan terhadap seorang perempuan Muslim bercadar di Edinburgh, Skotlandia. Perempuan tersebut didorong ke jalan raya, kemudian cadarnya dirampas oleh seorang laki-laki yang meneriakkan ujaran kebencian. Peristiwa itu memperlihatkan bahwa Islamofobia bukan sekadar persoalan wacana, melainkan dapat hadir dalam bentuk kekerasan fisik di ruang publik.
Memahami Keragaman Muslim dan Membangun Solidaritas
Dalam diskusi mengenai perkembangan Islam di Amerika Serikat, Dr. Sarah turut menjelaskan sejarah dan dinamika komunitas Muslim kulit hitam atau Black Muslims. Banyak di antara mereka memiliki keterhubungan historis dengan Afrika Barat, termasuk tradisi keilmuan dan spiritualitas Islam yang berkembang di kawasan tersebut.
Ia menyebut buku The Walking Qur’an sebagai salah satu referensi penting untuk memahami sejarah Islam di Afrika Barat dan warisan intelektual Muslim Afrika. Menurutnya, upaya komunitas Muslim kulit hitam untuk menelusuri kembali asal-usul leluhur juga dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari penelitian sejarah dan silsilah, hingga penelusuran budaya material seperti pakaian, tradisi lisan, dan ekspresi seni.
Proses tersebut merupakan bagian dari upaya merebut kembali identitas dan ingatan sejarah yang terputus akibat perbudakan dan kolonialisme. Dr. Sarah juga menekankan bahwa komunitas Muslim tidak boleh dipandang sebagai kelompok yang homogen. Keragaman etnis, sejarah, tradisi keagamaan, dan pengalaman sosial perlu menjadi bagian penting dalam pembelajaran Islam.
Dalam konteks pendidikan, ia mencontohkan penggunaan karya sastra dan film Laskar Pelangi untuk memperkenalkan organisasi Islam di Indonesia, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, kepada mahasiswa di Amerika Serikat. Pendekatan naratif dan audiovisual dinilai membantu mahasiswa memahami Islam melalui pengalaman sosial dan kebudayaan, bukan hanya melalui penjelasan doktrinal.
Pendidikan Islam Harus Menghubungkan Kesalehan dan Berpikir Kritis
Menanggapi pertanyaan mengenai pendidikan Islam di Amerika Serikat, Dr. Sarah menjelaskan bahwa pembelajaran agama di negara tersebut sangat beragam, bergantung pada jenis sekolah, lingkungan sosial, dan komunitas keagamaan.
Sekolah publik umumnya tidak memberikan pendidikan Islam sebagai pendidikan keimanan. Pengetahuan mengenai Islam dapat diperkenalkan melalui pembelajaran agama-agama dunia, tetapi penerapannya tidak merata. Sementara itu, pendidikan Islam bagi anak-anak Muslim lebih banyak berlangsung melalui keluarga, masjid, sekolah Islam, kelas akhir pekan, dan pembelajaran daring.
Namun, menurutnya, persoalan terpenting bukan hanya apakah Islam diajarkan di sekolah, melainkan Islam seperti apa yang diperkenalkan kepada peserta didik. Ia berpandangan bahwa pendidikan Islam semestinya tidak berhenti pada penguasaan teks, sejarah, dan praktik ibadah. Nilai-nilai solidaritas sosial, keadilan, antikekerasan, dan penolakan terhadap penindasan juga perlu diperkenalkan sejak pendidikan dasar.
Sebagai contoh, ia mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan Piagam Madinah, kepedulian Rasulullah terhadap kelompok miskin, serta perjuangan melawan perbudakan. Nilai-nilai kemanusiaan dalam Islam, menurutnya, memiliki relevansi yang melampaui batas identitas agama.
“Pendidikan Islam seharusnya tidak hanya mengajarkan tentang Islam, tetapi juga semangat perjuangan dalam Islam,” tegasnya.
Islam sebagai Penggerak Keadilan Lintas Agama
Lebih jauh, Dr. Sarah menegaskan bahwa advokasi terhadap Islam tidak semestinya dibatasi pada pembelaan terhadap umat Islam semata. Perjuangan melawan diskriminasi harus mencakup seluruh kelompok yang mengalami penindasan, tanpa membedakan agama, ras, maupun latar belakang sosial.
Ia mendorong mahasiswa untuk membangun hubungan dengan aktivis Muslim dan organisasi masyarakat di lingkungan mereka. Dialog dan kerja sama lintas agama juga perlu dikembangkan sebagai bagian dari praktik pendidikan.
Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya mengetahui Islam sebagai objek kajian akademik. Mereka perlu memahami kehidupan komunitas Muslim secara langsung, membangun persahabatan, dan terlibat dalam gerakan sosial bersama kelompok lain.
Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat decolonial pedagogy atau pedagogi dekolonial yang menjadi salah satu landasan pemikirannya. Melalui pendekatan ini, pembelajaran Islam diarahkan untuk mengkritisi cara pandang kolonial yang kerap menempatkan Muslim sebagai kelompok lain (the Other), sekaligus mengembalikan posisi umat Islam sebagai subjek yang memiliki suara, sejarah, dan agensi.
Diskusi tersebut menegaskan bahwa pendidikan Islam memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif. Islam tidak hanya dipelajari sebagai tradisi keagamaan, tetapi juga sebagai sumber nilai untuk membangun keadilan, solidaritas, dan kehidupan bersama di tengah masyarakat yang majemuk.
Subcribe untuk berlangganan artikel selanjutnya.























