اَلْحَمْدُ للّهِ / اَلْحَمْدُ للّهِ الَّذِى نَوَّرَ قُلُوْبَ المُؤْمِنِيْنِ فِى كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ / أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ / وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْد الأَمِيْن / اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتِمِ الأَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيْنَ / وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:
قال الله تعالى / اَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرّجيْمِ / بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرّحِيْمِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ
وقال أيضا …..الذاريات: -19-15-
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16)
كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18) وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (19) – صدق الله العظيم
Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah,
Marilah yang pertama dan utama, kita panjatkan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas Rohmah, Hidaayah, dan ‘Inaayah yang dianugerahkan kepada kita, dengan cara meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita kepadaNya, serta berbuat baik kepada sesama manusia.
Sholawat serta salam hendaknya kita haturkan kepada baginda Rasulullah SAW, sosok yang dengan akhlaqnya Islam terdakwahkan dalam cara dan gaya yang indah, sosok yang menjadi teladan sempurna dan paripurna bagi kita semua, dan sosok yang kelak kita nantikan syafaa’ahnya di Yaumul Qiyamah kelak. Amin.
Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah,
Hidup kita (1) sebagai Mu’min yang mengimani 6 rukun keimanan, (2) sebagai Muslim yang mengamalkan 5 rukun keislaman, dan juga (3) sebagai Muhsin yang mengaplikasikan keimanan dan keislaman dalam tindakan keseharian kita, secara umum, adalah bentuk pengejawantahan nyata sebagai hamba Allah SWT.
Sebagaimana dijanjikan dalam QS al-‘Ankabut 29:58 bahwa atas keimanan dan amal shaleh yang kita lakukan, Allah menjanjikan ‘ruang di ketinggian’ yakni Surga yang mengalir air di bawahnya. Kata jannatun yang diterjemahkan Surga, pada dasarnya bermakna kebun, yang ketika kita berada di dalamnya kita merasakan keteduhan. Namun, jangan dibayangkan Surga sebagai sesuatu yang seperti di dunia.
Gambaran atau ciri-ciri Surga tertuang dalam sebuah Hadis yang dimuat dalam kitab Shahih Bukhari, mengomentari QS as-Sajdah 32:17. Redaksi hadisnya berbunyi:
حَدَّثَنَا الحُمَيْدِيُّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللَّهُ «أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ، فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ»
“Allah berfirman: “Aku telah menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih (kenikmatan) yang belum pernah mata melihatnya, telinga mendengarnya dan terbetik dari lubuk hati manusia”. Bacalah firman-Nya jika kamu mau (pada QS as-Sajadah 17) yang artinya (“Tidak seorangpun yang mengetahui apa yang telah disediakan untuk mereka (kenikmatan) yang menyedapkan mata.”)
Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah,
Surga yang penuh keindahan dijanjikan kepada hamba terbaik Allah SWT yang bertaqwa. Yang membuat penasaran adalah apa sajakah perbuatan yang mereka lakukan selama di dunia sehingga membuat mereka mendapat jaminan tempat di Surga. Nah, QS adz-Dzaariyat 51:15-19 memberi kita gambaran paling graphic atau jelas atas hal itu.
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16)
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam taman-taman (Surga) dan mata air-mata air. Mereka mengambil apa yang dianugerahkan kepada mereka oleh Tuhan mereka. (1) Sesungguhnya mereka sebelum itu (saat di dunia) adalah orang-orang muhsinin.”
Muhsinin adalah orang yang menyandang sifat Ihsan. Kata Ihsan, menurut Quraish Shihab, mengandung makna memperlakukan pihak lain lebih baik dari perlakuan pihak lain kepada kita. Ihsan, karenanya, posisinya lebih tinggi dari adil. Ihsan sama artinya memberi lebih dari yang seharusnya kita beri kepada orang lain.
Jika dalam konteks hubungan vertikal kepada Allah SWT, maka pelaku Ihsan berusaha hanya melihat adanya Allah SWT dalam dirinya, serta, berusaha beribadah melebihi kewajiban dasar peribadatan hamba kepada Allah SWT. Saat seseorang memandang bahwa semua hidupnya adalah tentang Allah SWT (yakni melakukan sesuatu karena Allah, merasa diawasi Allah, dan mendasarkan tindakannya atas rambu-rambu dari Allah), maka di situlah puncak kebaikan amal perbuatan berada.
Itulah gambaran pertama penghuni Surga, yakni orang-orang muhsinin yang memberi nilai lebih atas semua tindakan yang dilakukannya.
Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah,
Selanjutnya, gambaran kedua penghuni Surga dijelaskan pada ayat 17-18 dari QS adz-Dzaariyaat.
كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18)
“Mereka dahulu sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir malam, mereka beristighfar.”
Penjelasan mengenai pernyataan ‘sedikit sekali tidur di waktu malam’, ada banyak sekali versinya dalam Tafsir ath-Thabari. Namun, pada intinya adalah melakukan shalat di malam hari, baik itu di awal malam, pertengahan malam, akhir malam, atau antara sholat Maghrib dan Isya. Ada penjelasan lain yang kami rasa lebih cocok penjelasannya, yakni dari riwayat Abu Kuraib dan Ibnu Humaid, di mana maksud ‘sedikit sekali tidur di waktu malam’ adalah: ‘mengambil bagian untuk mendapatkan pahala di setiap malamnya’.
Jadi, sambil menggapai pahala melalui beragam ibadah, mereka melakukan ritual memohon ampun kepada Allah SWT atas kesalahan-kesalahannya. Wa bil ashaari hum yastaghfiruun… Itulah ciri kedua penghuni Surga yang bertaqwa.
Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah,
Terakhir, gambaran ketiga penghuni Surga dalam QS adz-Dzaariyaat 51:19.
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (19)
“Pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang butuh yang tidak meminta.”
Ayat ini mengemukakan 2 jenis kelompok manusia yang padanya harta-harta kita tertuju. Untuk kelompok ‘miskin yang meminta’ atau as-saail, mungkin telah jelas maksudnya, yakni siapapun yang menyadari dirinya kurang beruntung dan tidak ada opsi selain meminta bantuan orang lain. Sementara untuk kelompok al-mahruum, ada banyak pendapat di sana. Secara umum maknanya adalah ‘orang butuh yang tidak meminta bantuan kepada orang lain’.
Namun, melihat beberapa keterangan dari Tafsir ath-Thabari, setidaknya ada 4 keterangan tentang al-mahruum:(1) orang yang tidak dipedulikan orang lain, atau (2) orang yang tidak memiliki keterlibatan sehingga tidak mendapatkan sesuatu, atau (3) orang yang sebenarnya kaya tapi saat itu sedang tidak beruntung karena, misalnya, mengalami bencana pada dirinya, atau (4) orang yang kurang beruntung, sehingga tidak memiliki harta sebagaimana seharusnya, misalnya, gaji yang telat dibayarkan atau karena ditipu orang lain.
Namun, yang dapat ditegaskan dari keterangan pada Tafsir ath-Thabari adalah bahwa mereka yang al-mahruum tersebut menyengaja tidak meminta bantuan kepada orang lain sama sekali. Dia tetap ingin berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Dia tidak ingin dipandang sebelah mata oleh orang lain. Meski terlihat bercukupan di mata orang lain, namun pada dasarnya mereka membutuhkan bantuan dari orang lain.
Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah,
Adanya kelompok al-mahruum mengundang sebuah pertanyaan penting yang dapat ditujukan kepada kelompok orang yang punya ‘power’, kekuatan, atau pengaruh di tengah masyarakat. Pertanyaannya, “Sudikah kita menunjukkan kepekaan kepada mereka yang membutuhkan namun menjaga martabat dirinya?”
Kita yang punya ‘power’ diharapkan untuk tidak enggan menolong mereka, sekalipun mereka tidak pernah meminta. Kepekaan dan ketidakengganan berbuat sesuatu kepada orang lain sejatinya juga merupakan pesan utama QS al-Maa’uun 107. Pada ayat terakhir QS al-Maa’uun tersebut kita diharapkan untuk tidak enggan berbuat baik. Artinya, kita harus pro-aktif menebar kebaikan, pertolongan, dan solusi bagi orang lain.
Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah,
Membicarakan Surga di masa kini dengan segala pernak-perniknya merupakan diskusi yang terlalu jauh untuk digapai. Meski begitu, kita bisa mulai membicarakannya secara sederhana melalui keseharian kita, baik sebagai dosen, mahasiswa, tenaga pendidik, maupun profesi lainnya.
Intinya, ciri-ciri penghuni Surga dalam QS adz-Dzaariyat 51:15-19 yang mencakup (1) perilaku sebagai muhsinin, (2) pelaku ibadah di waktu malam, maupun (3) penyedekah harta, ilmu, dan kesempatan bagi orang lain, semuanya bisa kita cicil sejak sekarang.
Khusus topik al-mahruum (orang miskin yang tidak meminta-minta), diharapkan kita sebagai orang yang memiliki worth tinggi seharusnya lebih pro-aktif melakukan sedekah harta, ilmu, dan atau kesempatan bagi mereka.
Perlu diingat, jangan sampai menunggu orang lain untuk meminta tolong. Pahamilah bahwa adakalanya orang yang butuh pertolongan itu malu untuk merepotkan orang lain. Maka, ada baiknya, sebelum mereka meminta tolong, kita menolongnya terlebih dahulu tanpa menunggunya meminta tolong sambil merendahkan martabat dirinya.
Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah,
Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga renungan ayat-ayat al-Qur’an pada kesempatan kali ini memberi inspirasi bagi kita untuk tetap berada dalam jalur kebaikan yang telah kita tempuh selama ini. Semoga kita diberikan keikhlasan dan keistiqomahan yang paripurna. Amin ya Rabbal ‘Aalamiin.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم / ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم / أقول قولي هذا / وأستغفر الله لي ولكم و لسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات / فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ للّهِ / الحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا / وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ / الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا / مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ / فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ / اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ / لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ / وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ / الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ / اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثيْرًا. اَمَّا بَعْدُ :
فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ / وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى / قَالَ اللهُ تَعاَلَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ اِتَّقُوااللهَ اِتَّقُوااللهَ | وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ / وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ / وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى / يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا / اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ / صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ / وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ / وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبـِعَهُمْ بـِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ / وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ / وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ / الأحياء منهم والأموات / إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ / اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ / وَاجْعَلْ قُلُوبَهُمْ عَلَى قُلُوبِ خِيَارِهِمُ / اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تفتنا بعده واغفر لنا وله / وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ / وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا / رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
اللّهُمَّ تَقَبّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَ صِيَامَنَا وَ قِيَامَنَا وَ قِرَاءَتَنَا وَ رُكُوْعَنَا وَ سُجُوْدَنَا وَ قُعُوْدَنَا وَ تَسْبِيْحَنَا وَ تَهْلِيْلَنَا وتكبيرنا و تضرعنا و تخشعنا يا الله يا إلـهنا يا رب العالمين / برحمتك يا أرحم الراحمين / و صلى الله على سيدنا محمد و آله و صحبه و سلم / والحمد لله رب العالمين.
عباد الله / إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى / وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ / يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ / فاذكروا الله العظيم يذكركم / واشكروه على نعمه يزدكم / ولذكر الله أكبر.
Subcribe untuk berlangganan artikel selanjutnya.






















