🎵 BUKAN KARENA NAMA 🎵
RAHMATAN NUSANTARA PRODUCTION
Browser Anda tidak mendukung audio player.
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi Tulisan
  • Redaksi
Sunday, October 4, 2026
Rahmatan.Com
  • Beranda
  • KOLOM
  • KAJIAN
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
  • Beranda
  • KOLOM
  • KAJIAN
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
Rahmatan.Com
No Result
View All Result
Cooming Soon!!

Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

Iqbal Kholidi by Iqbal Kholidi
August 18, 2026
in gagasan, tafsir
kebhinekaan

kebhinekaan

68
SHARES
207
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan!

Di tengah dinamika kehidupan beragama saat ini, istilah “moderasi beragama” masih sering disalahpahami oleh sebagian masyarakat. Tidak sedikit yang menganggap moderasi sebagai bentuk kompromi terhadap ajaran agama, bahkan dinilai sebagai upaya mengurangi keteguhan iman seseorang. Padahal, pemahaman tersebut lahir dari cara pandang yang kurang tepat terhadap makna moderasi itu sendiri.

Moderasi beragama bukan berarti membuat seseorang menjadi ragu terhadap keyakinannya. Sebaliknya, moderasi beragama merupakan cara memahami dan menjalankan agama secara seimbang, dengan tetap berpegang pada prinsip ajaran agama sekaligus menghargai kehidupan bersama. Dalam konteks Islam, moderasi memiliki akar kuat dalam konsep wasathiyah, yaitu sikap pertengahan yang menghindari sikap berlebihan maupun pengabaian terhadap nilai-nilai agama.

Al-Qur’an menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan atau umat yang berada di jalan tengah (QS. Al-Baqarah: 143).

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًاۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menetapkan kiblat (Baitulmaqdis) yang (dahulu) kamu berkiblat kepadanya, kecuali agar Kami mengetahui (dalam kenyataan) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

Table of contents

Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital

Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

Menggugat Mitos Superioritas Genealogis

Agama dalam Cengkeraman Otoritas Digital

Baca juga: Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-ankabut Ayat 45

Sikap Moderat

Konsep ini menunjukkan bahwa keberagamaan ideal bukanlah keberagamaan yang ekstrem, melainkan keberagamaan yang mampu menghadirkan keadilan, keseimbangan, dan kemaslahatan. Dengan demikian, sikap moderat bukan tanda lemahnya iman, tetapi bentuk kedewasaan seseorang dalam memahami agamanya.

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa orang yang moderat berarti tidak memiliki prinsip. Padahal, keterbukaan terhadap perbedaan tidak sama dengan kehilangan identitas keagamaan. Seseorang dapat tetap teguh dalam keyakinannya sekaligus menghormati keberadaan orang lain. Justru kemampuan untuk menjaga keyakinan tanpa merendahkan pihak lain menunjukkan kualitas pemahaman agama yang matang.

Dalam sejarah Islam, perbedaan pendapat bukanlah sesuatu yang asing. Para ulama memiliki tradisi panjang dalam menyikapi perbedaan pemikiran melalui diskusi dan argumentasi ilmiah. Perbedaan dalam persoalan fikih, misalnya, tidak selalu dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari kekayaan intelektual Islam. Tradisi tersebut menunjukkan bahwa Islam memiliki ruang bagi dialog dan penghargaan terhadap keragaman pemikiran.

Bukti kematangan keberagamaan

Moderasi beragama juga penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang memiliki keberagaman latar belakang. Sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia membutuhkan cara beragama yang mampu memperkuat persaudaraan dan menjaga kehidupan sosial. Kementerian Agama Republik Indonesia menjelaskan bahwa moderasi beragama ditandai oleh empat indikator utama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi yang berkembang di masyarakat (Kementerian Agama RI, 2019).

Nilai-nilai tersebut sesungguhnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Islam mengajarkan pentingnya menjaga kedamaian, menegakkan keadilan, dan memperlakukan manusia dengan baik. Nabi Muhammad SAW dalam berbagai riwayat menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui penyampaian ajaran, tetapi juga melalui keteladanan akhlak.

Di era digital, kebutuhan terhadap moderasi beragama semakin besar. Media sosial sering kali menjadi ruang munculnya perdebatan keagamaan yang keras, penyebaran informasi yang tidak akurat, serta kecenderungan mudah memberikan penilaian terhadap orang lain. Dalam situasi seperti ini, moderasi beragama menjadi sikap penting agar keberagamaan tidak berubah menjadi sumber konflik, melainkan menjadi energi positif bagi masyarakat.

Bukan Ancaman

Penting dipahami bahwa agama tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan manusia dengan sesama. Ukuran keberagamaan seseorang tidak hanya terlihat dari seberapa sering ia berbicara tentang agama, tetapi juga dari bagaimana ia menunjukkan akhlak, kejujuran, kepedulian, dan penghormatan terhadap orang lain. (M. Quraish Shihab, 2019)

Karena itu, moderasi beragama tidak boleh dipandang sebagai ancaman terhadap iman. Justru moderasi adalah cara untuk memastikan bahwa nilai-nilai agama hadir secara utuh dalam kehidupan. Keimanan yang matang tidak melahirkan kebencian, melainkan melahirkan kebijaksanaan. Semakin seseorang memahami agamanya secara mendalam, semakin besar pula kemampuannya menghadirkan kedamaian.

Pada akhirnya, moderasi beragama adalah tentang bagaimana seseorang menjadi lebih baik dalam menjalankan keyakinannya. Ia bukan pengurangan nilai agama, melainkan upaya menghadirkan agama dengan wajah yang penuh kasih, adil, dan membawa manfaat bagi kehidupan bersama.

Buku baru

Facebook Comments

↓ Download PDF

Tags: dakwah digitalislamotoritas digital

Subcribe untuk berlangganan artikel selanjutnya.

Unsubscribe
Iqbal Kholidi

Iqbal Kholidi

STAI Nurul Qadim - Probolinggo

About Author

Iqbal Kholidi

STAI Nurul Qadim – Probolinggo

Contents hide
1 Table of contents
2 Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?
3 Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis
4 Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital
5 Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut
6 Menggugat Mitos Superioritas Genealogis
7 Agama dalam Cengkeraman Otoritas Digital
  • Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

    10 shares
    Share 4 Tweet 3
  • Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital

    45 shares
    Share 18 Tweet 11
  • Salam Multikultur, Harmoni Sosial, dan Warisan Gus Dur

    309 shares
    Share 124 Tweet 77
  • Eco-Masjid di Pekalongan, Dosen UIN Gus Dur Dampingi Mahasiswa Kelola Sampah

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • WhatsApp

    • PEDOMAN MEDIA SIBER
    • Tentang
    • Kontribusi Tulisan
    • Redaksi

    © 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • KOLOM
    • KAJIAN
    • REHAL
    • BERITA

    © 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

    Login to your account below

    Forgotten Password? Sign Up

    Fill the forms bellow to register

    All fields are required. Log In

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    error: Content is protected !!
    English
    Arabic