• Latest
  • Trending
Tuhan dalam genggaman

Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital

September 8, 2026

KHUTBAH: Perilaku Para Penghuni Surga

October 13, 2026
Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

October 10, 2026
Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

September 29, 2026
Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

September 20, 2026
kebhinekaan

Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

August 18, 2026
Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

August 12, 2026
Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

July 24, 2026
eco-masjid

Eco-Masjid di Pekalongan, Dosen UIN Gus Dur Dampingi Mahasiswa Kelola Sampah

August 13, 2026
Menggugat Mitos Superioritas Genealogis

Menggugat Mitos Superioritas Genealogis

July 10, 2026
🎵 BUKAN KARENA NAMA 🎵
RAHMATAN NUSANTARA PRODUCTION
Browser Anda tidak mendukung audio player.
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi Tulisan
  • Redaksi
Saturday, October 24, 2026
Rahmatan.Com
  • Beranda
  • KAJIAN
    • All
    • HADIS
    • TAFSIR
    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    kebhinekaan

    Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    kebhinekaan

    Etika Tertinggi Kebhinekaan

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
  • Beranda
  • KAJIAN
    • All
    • HADIS
    • TAFSIR
    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    kebhinekaan

    Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    kebhinekaan

    Etika Tertinggi Kebhinekaan

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
Rahmatan.Com
No Result
View All Result
Cooming Soon!!

Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital

Salisa Fitrikasari by Salisa Fitrikasari
September 8, 2026
in gagasan, hikmah
Tuhan dalam genggaman

Tuhan dalam genggaman

75
SHARES
226
VIEWS
Share on WhatsAppShare on FacebookShare on Twitter
Klik Di Sini

Hampir seluruh aspek kehidupan manusia kini telah berubah, termasuk cara untuk beragama. Bagi generasi muda, agama bukan lagi hanya dapat dipelajari dalam ruang tradisional seperti di masjid, majelis taklim, atau lembaga pendidikan formal lain. Akan tetapi didapatkan melalui layar ponsel. Platform TikTok, podcast, serta konten reels dan shorts menjadi media baru untuk mempelajari dan menyampaian nilai-nilai keagamaan yang mudah untuk diakses. Fenomena ini menunjukkan bahwa “Tuhan” kini seolah berada dalam genggaman, ada di sela-sela aktivitas scrolling generasi sekarang.

Namun, perubahan dari perkembagan media ini memunculkan pertanyaan penting. Bagaimana media digital mampu membentuk cara generasi muda untuk memahami, mengekspresikan, dan mempraktikkan agama? Apakah dakwah digital dapat memperdalam nilai religiusitas, atau justru mereduksinya menjadi sekadar konsumsi konten saja? Hal ini menjadi sangat penting untuk dikaji secara antropologis, karena menyangkut perubahan kebudayaan, praktik sosial, dan proses akulturasi agama dalam konteks modernitas digital.

Baca juga: Tips Menembus Opini Media Nasional Kompas

Ketika Iman Bertemu Algoritma

Tuhan dalam genggaman

Selain TikTok, podcast religi dan konten Reels atau Shorts juga ikut ambil bagian dalam membentuk ruang refleksi keagamaan yang berbeda. Podcast religi telah menyediakan ruang untuk narasi yang lebih panjang dan interaktif. Sehingga dapat memungkinkan generasi muda untuk mendalami isu tentang iman dan kegelisahan hati. Selain itu, persoalan moral kontemporer yang lebih dalam dengan gaya percakapan yang santai dan inklusif juga semakin semarak.

Sementara itu, Reels dan Shorts juga memperkuat dan mendorong praktik kebiasaan harian keagamaan, seperti mengingat Tuhan melalui potongan ayat, doa singkat, atau pesan spiritual yang dapat dikonsumsi secara berulang di sela-sela aktivitas harian. Penelitian dalam Jurnal Dakwah dan Komunikasi memaparkan bahwa konsumsi dakwah digital telah berkontribusi dalam pembentukan iman  yang lebih individual dan reflektif, meskipun tidak selalu terikat pada praktik keagamaan institusional yang formal (Hidayat, 2022).

Table of contents

Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

Menggugat Mitos Superioritas Genealogis

Agama dalam Cengkeraman Otoritas Digital

Transformasi budaya agama dapat dipahami melalui prisma antropologi agama Clifford Geertz yang mengartikan agama sebagai sistem makna simbolis. Agama, menurut Geertz, bekerja melalui penggunaan simbol yang membangkitkan suasana, motivasi, dan cara interpretasi terhadap keadaan batin manusia.

Table of Contents

Toggle
  • Ketika Iman Bertemu Algoritma
    • Table of contents
    • Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?
    • Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?
    • Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut
    • Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?
    • Menggugat Mitos Superioritas Genealogis
    • Agama dalam Cengkeraman Otoritas Digital
  • Simbol-simbol tuhan
  • Tuhan dalam Genggaman
  • Agama Cepat Saji

Simbol-simbol tuhan

Dalam hal ini, media sosial berfungsi sebagai ruang untuk menghasilkan simbol-simbol agama yang baru, mulai dari mengutip ayat-ayat teks agama yang disertai dengan musik emosional, hingga dai-influencer yang mengintegrasikan otoritas agama dan popularitas digital. Simbol-simbol ini menciptakan pengalaman religius yang santai, pribadi, dan sejalan dengan logika budaya digital generasi muda.

Baca juga: Tafsir al-Ankabut 45: Agar Shalat Lebih Bermakna

Meskipun demikian, adanya transformasi dakwah digital justru menghadirkan kontradiksi. Di satu sisi, media digital dapat memperluas akses terhadap pengetahuan agama dan memperkuat keterhubungan spiritual generasi muda dengan nilai-nilai keimanan. Di sisi lain, terdapat risiko dalam penyederhanaan dan komersialisasi  agama, terlebih ketika ajaran religius disederhanakan menjadi konten singkat yang hanya untuk mengejar kepopuleran dan perhatian dari khalayak umum.

Studi dalam Jurnal Komunikasi Islam menyampaikan bahwa meskipun dakwah digital meningkatkan penyajian pesan keagamaan, namun untuk kedalaman pemahaman teologis sangat bergantung pada tingkat literasi digital dan kemampuan berpikir kritis dari audiens itu sendiri (Aini & Rahman, 2023). Akibatnya, praktik beragama generasi muda cenderung selektif, terbagi, dan sangat personal.

Tuhan dalam Genggaman

Dengan demikian, istilah “Tuhan dalam Genggaman” bukan sekadar simbol teknologi, melainkan sebagai refleksi dari perubahan budaya beragama di era digital ini. Generasi muda bukan sedang menjauhkan diri dari agama, melainkan menegosiasikannya ulang melalui media yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Dakwah digital ini telah menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara nilai-nilai transendental dan budaya populer. Tantangan ke depan bukan lagi menolak media digital, melainkan memastikan bahwa transformasi ini tetap mengarah pada pemaknaan agama yang mendalam, reflektif, dan beretika dalam kehidupan generasi muda.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kehadiran media digital kini telah mengubah cara generasi muda dalam berinteraksi dengan agama. Agama kini tidak lagi hanya ditemui di ruang-ruang ibadah atau forum formal. Tetapi hadir di dalam layar ponsel, mendampingi kegiatan harian melalui video singkat, podcast, dan kutipan yang reflektif. Perubahan ini menunjukkan bahwa generasi muda sebetulnya tidak meninggalkan agama. Sebaliknya, mencari cara baru yang lebih dekat dan relevan dengan realitas hidup mereka untuk memahami dan memaknainya.

Agama Cepat Saji

Namun, kemudahan akses tersebut juga perlu ditanggapi dengan kesadaran kritis. Ketika ajaran agama dikonsumsi secara cepat dan instan, ada risiko pemaknaan yang rendah dan selektif. Dari sinilah pentingnya refleksi untuk penggunaan media digital yang seharusnya menjadi pintu awal untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Bukan tujuan akhir dari keberagamaan itu sendiri. Konten dakwah idealnya mendorong proses untuk berpikir, perenungan, dan praktik nyata dalam kehidupan sosial, bukan sekadar memberi rasa nyaman sesaat.

Sebagai himbauan dan solusi, generasi muda sebaiknya perlu dibekali literasi digital dan keagamaan supaya mampu untuk memilah dan meimilih konten secara bijak. Di sisi lain, para dai dan konten creator atau influencer diharapkan mampu menghadirkan dakwah yang tidak hanya menarik, tetapi juga bermakna, bermanfaat dan bertanggung jawab bagi masyarakat. Dengan demikian, “Tuhan dalam Genggaman” dapat menjadi simbol kedekatan spiritual yang autentik, bukan sekadar hasil dari budaya scrolling semata.

↓ Download PDF

Tags: islamotoritas digital

Subcribe untuk berlangganan artikel selanjutnya.

Unsubscribe
Salisa Fitrikasari

Salisa Fitrikasari

Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UIN K.H. Abdurrahman Wahid, Pekalongan.

Contents hide
1 Ketika Iman Bertemu Algoritma
1.1 Table of contents
1.2 Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?
1.3 Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?
1.4 Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut
1.5 Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?
1.6 Menggugat Mitos Superioritas Genealogis
1.7 Agama dalam Cengkeraman Otoritas Digital
2 Simbol-simbol tuhan
3 Tuhan dalam Genggaman
4 Agama Cepat Saji
  • Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

    Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

    79 shares
    Share 32 Tweet 20
  • KHUTBAH: Perilaku Para Penghuni Surga

    11 shares
    Share 4 Tweet 3
  • Gagasan Alternatif Memahami Ayat-Ayat Polemik al-Qur’an ala Mun’im Sirry

    267 shares
    Share 107 Tweet 67
  • Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

    76 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    88 shares
    Share 35 Tweet 22
  • WhatsApp

  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi Tulisan
  • Redaksi

© 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • KAJIAN
  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA

© 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
error: Content is protected !!