• PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi
  • Redaksi
Thursday, December 11, 2025
Rahmatan.Com
  • Beranda
  • KOLOM
  • KAJIAN
No Result
View All Result
  • Beranda
  • KOLOM
  • KAJIAN
No Result
View All Result
Rahmatan.Com
No Result
View All Result

Childfree dan Dilema Modernitas Keluarga Muslim

Veriansyah Jihad Maulana by Veriansyah Jihad Maulana
June 4, 2025
in kajian
Childfree dan Dilema Modernitas Keluarga Muslim
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan Teman Ayo bagi
Bagikan..

Artikel lain

Kurban dan Kemanusiaan Global

Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

Mufassir Kontemporer: Mengapa Gus Baha Tidak Menuliskan Tafsirnya?

Imam Syibli dan Hikayat Puasa Bos Begal

Menurut Agrillo dan Rachel Chrastil, istilah childfree merujuk pada individu yang secara sadar dan sukarela memutuskan untuk tidak memiliki anak, tanpa adanya keinginan maupun usaha untuk memiliki keturunan, meskipun mereka berada dalam kondisi fisik yang sehat. Di Indonesia, fenomena childfree saat ini tengah berkembang dan menjadi topik diskusi di tengah masyarakat. Perbincangan ini memunculkan berbagai pendapat, baik yang mendukung maupun yang menentang, terkait kebebasan dalam menentukan pilihan untuk memiliki anak (Jalaludin: th).

Isu childfree semakin mendapat sorotan setelah seorang influencer, Gita Savitri, secara terbuka menyatakan keputusannya untuk tidak memiliki anak. Dalam unggahan Instagram Story melalui akun @gitasav, Gita menyampaikan bahwa dalam pandangannya, kemungkinan untuk “tiba-tiba memiliki anak” sangat kecil. Ia menilai bahwa memilih untuk tidak memiliki anak lebih mudah dibandingkan sebaliknya, karena tersedia banyak cara untuk mencegah kehamilan. Ia menegaskan bahwa skenario memiliki anak sangat kecil kemungkinannya terjadi dalam hidupnya.

Salah satu faktor yang memengaruhi munculnya fenomena childfree ini adalah meningkatnya pengaruh gerakan feminisme yang memperjuangkan hak-hak perempuan, termasuk hak atas tubuh dan reproduksi. Di samping itu, berbagai alasan lain juga melatarbelakangi keputusan seseorang untuk menjalani kehidupan tanpa anak.

Dalam konteks antropologi Islam, fenomena ini menciptakan tegangan menarik antara nilai-nilai tradisional yang mengakar kuat dalam budaya lokal dan arus modernisasi yang dibawa oleh globalisasi. Pilihan childfree tidak hanya menyentuh aspek personal, tetapi juga bersinggungan dengan dimensi sosial, kultural, dan religious yang kompleks dalam masyarakat Muslim Indonesia.

Dalam tradisi masyarakat Muslim Indonesia, anak dipandang sebagai anugerah yang tak ternilai dan juga keberlanjutan garis keturunan merupakan hal yang sangat penting. Sebagaimana dikemukakan oleh Mujiburrahman (2018) dalam penelitiannya tentang “Nilai Anak dalam Masyarakat Banjar”, konsep “banyak anak banyak rezeki” masih mengakar kuat dalam mindset masyarakat tradisional. Nilai-nilai ini tidak hanya berakar pada ajaran agama saja, akan tetapi juga terjalin erat dengan sistem ekonomi dan struktur sosial yang menekankan pentingnya keluarga besar sebagai unit produksi dan jaminan sosial di masa tua.

Namun, gelombang globalisasi telah membawa perubahan signifikan dalam cara pandang masyarakat terhadap konsep keluarga dan reproduksi. Urbanisasi, industrialisasi, dan meningkatnya akses pendidikan tinggi, khususnya bagi perempuan, telah menciptakan ruang diskusi baru tentang pilihan reproduksi. Menurut kajian Nur Hidayah (2020) dalam “Transformasi Peran Perempuan Muslim Urban”, generasi muda Muslim perkotaan mulai mempertimbangkan childfree sebagai pilihan hidup yang legitimate (sah), meski hal ini sering berhadapan dengan resistensi sosial dan cultural.

Teologi Reproduksi

Dalam perspektif antropologi Islam, fenomena childfree dapat dipahami sebagai hasil interaksi dinamis antara interpretasi ajaran agama dan perubahan sosial. Profesor Nasaruddin Umar (2019) dalam bukunya “Teologi Reproduksi” menjelaskan bahwa meski Islam menganjurkan reproduksi, tidak ada kewajiban mutlak untuk memiliki keturunan. Interpretasi ini membuka ruang dialog antara nilai-nilai Islam dengan realitas kontemporer yang dihadapi umat Muslim.

Pengaruh globalisasi telah menghadirkan narasi baru tentang kesuksesan, pemenuhan diri, dan kebahagiaan yang tidak selalu terikat dengan parenthood. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian Arifah Yuliani (2021) dalam “Childfree Movement di Kalangan Muslimah Milenial” yang menunjukkan bahwa motivasi childfree di kalangan Muslim urban tidak semata-mata karena pengaruh Barat, tetapi juga didorong oleh pertimbangan rasional tentang kesiapan mental, finansial, dan tanggung jawab moral terhadap anak.

Menariknya, resistensi terhadap childfree tidak hanya muncul dari kalangan tradisional, tetapi juga dari kelompok Muslim modern yang melihat fenomena ini sebagai ancaman terhadap institusi keluarga. Ahmad Rofiq (2022) dalam kajiannya “Dilema Modernitas dalam Keluarga Muslim Indonesia” mengidentifikasi adanya kecemasan kolektif bahwa pilihan childfree dapat mengancam keberlangsungan nilai-nilai keluarga Islam dan kohesi sosial masyarakat.

Tantangan terbesar dalam diskursus childfree dalam konteks antropologi Islam adalah menemukan titik temu antara hak individu untuk menentukan pilihan reproduksi dan kewajiban sosial-religius dalam mempertahankan nilai-nilai komunal. Sebagaimana diargumentasikan oleh Lies Marcoes (2023) dalam “Negosiasi Identitas Muslimah Kontemporer”, diperlukan pendekatan yang lebih nuanced dalam memahami dinamika antara agency individual dan tanggung jawab sosial dalam konteks masyarakat Muslim modern.

Perkembangan teknologi dan juga media sosial turut berkontribusi dalam membentuk persepsi publik tentang childfree. Platform digital menjadi ruang diskusi dan pertukaran gagasan yang memungkinkan individu Muslim untuk mengeksplorasi dan mendiskusikan pilihan hidup mereka secara lebih terbuka. Namun, sebagaimana dicatat oleh Siti Ruhaini Dzuhayatin (2022) dalam “Media Sosial dan Transformasi Nilai Keluarga Muslim”, keterbukaan ini juga dapat menimbulkan polarisasi pandangan dalam masyarakat.

Dalam menghadapi fenomena childfree, diperlukan pendekatan antropologi Islam yang lebih inklusif dan kontekstual. Pendekatan ini harus mampu mengakomodasi perubahan sosial sambil tetap mempertahankan nilai-nilai esensial Islam. Hal ini sejalan dengan prinsip “al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah” (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).

Kesimpulannya, fenomena childfree dalam perspektif antropologi Islam merepresentasikan kompleksitas hubungan antara tradisi dan modernitas dalam masyarakat Muslim kontemporer. Diperlukan dialog yang konstruktif antara nilai-nilai lokal dan tuntutan global untuk merespons fenomena ini secara bijak dan proporsional. Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat Muslim dapat mengembangkan pemahaman yang lebih matang tentang pilihan reproduksi dalam bingkai nilai-nilai Islam yang responsif terhadap perkembangan zaman.

Facebook Comments


Bagikan..
Tags: ChildfreeKeluarga MuslimMuslimah MilenialTeologi Reproduksi

Subcribe untuk berlangganan artikel selanjutnya.

Unsubscribe
Veriansyah Jihad Maulana

Veriansyah Jihad Maulana

    About Author

    • Islam dan Pentingnya Literasi

      Islam dan Pentingnya Literasi

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Ruang bagi Tafsir Kontekstual

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • PELUANG DAN TANTANGAN GURU DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Islam dan Tanggung Jawab terhadap Lingkungan

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Piagam Madinah Akar Toleransi Umat Beragama

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

      • PEDOMAN MEDIA SIBER
      • Tentang
      • Kontribusi
      • Redaksi

      © 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

      No Result
      View All Result
      • Beranda
      • KOLOM
      • KAJIAN

      © 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

      Login to your account below

      Forgotten Password? Sign Up

      Fill the forms bellow to register

      All fields are required. Log In

      Retrieve your password

      Please enter your username or email address to reset your password.

      Log In
      error: Content is protected !!