• PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi
  • Redaksi
Thursday, December 11, 2025
Rahmatan.Com
  • Beranda
  • KOLOM
  • KAJIAN
No Result
View All Result
  • Beranda
  • KOLOM
  • KAJIAN
No Result
View All Result
Rahmatan.Com
No Result
View All Result

Mufassir Kontemporer: Mengapa Gus Baha Tidak Menuliskan Tafsirnya?

nena ulfatan by nena ulfatan
May 28, 2025
in kajian
Mufassir Kontemporer: Mengapa Gus Baha Tidak Menuliskan Tafsirnya?
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan Teman Ayo bagi
Bagikan..

Mengapa Gus Baha tidak menuliskan penafsirannya menjadi sebuah kitab tafsir?  pertanyaan ini timbul ketika ada seorang ulama mufassir kontemporer dengan pemikirannya yang luar biasa yang menyampaikan pemikirannya lewat lisan dalam kajian dan ceramah-ceramah. Dengan pengikut dan penggemar begitu banyak, Gus Baha menyampaikan pemikirannya dalam kajiannya yang selalau padat jamaah dari berbagai daerah.

Di Tengah perkembangan zaman yang semakin canggih dan global, pemikiran dan penafsiran tokoh agama bisa di akses dimana saja, mulai dari kitab, buku, e-book, artikel, hingga media digital. Namun, K.H. Bahauddin Nursalim atau sapaan akrabnya Gus Baha, seorang ulama dan mufassir kondang dari Rembang, Jawa Tengah, memilih jalur berbeda. Dikenal karena keluasan ilmu dan cara penyampaian yang sederhana, Gus Baha menyampaikan banyak sekali pemikiran dan penafsiran Al-Qur’annya hanya melalui ceramah-ceramah dan majelis ilmu.

Artikel lain

Kurban dan Kemanusiaan Global

Childfree dan Dilema Modernitas Keluarga Muslim

Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

Imam Syibli dan Hikayat Puasa Bos Begal

Kini, Siapa yang tidak mengenal sosok Gus Baha? Meski Namanya semakin terkenal ke seluruh negeri dan pemikirannya menjadi rujukan banyak orang, Gus Baha belum menuliskan pemikiran tersebut menjadi sebuah buku tafsir. Hal ini menjadi kekhawatiran di kalangan Masyarakat: apakah pemikiran dan penafsiran beliau akan bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya?

Tanpa buku sebagai media dokumentasi yang terstruktur dan utuh, Pemikiran Gus Baha mempunyai resiko hilang atau salah ditafsirkan seiring berjalannya waktu. Artikel ini mencoba menggali lebih dalam bagaimana pemikiran Gus Baha, serta bagaimana cara alternatif untuk membantu menyebarkan dan menjaga warisan intelektual pemikiran Gus Baha agar tetap bisa dinikmati dan menjadi rujukan bagi generasi mendatang.

Orality dan Literacy

Menurut Walter J. Ong dalam bukunya Orality and Literacy (2002), Terdapat Perbedaan mendasar antara Oral Tradition (budaya lisan) dan Literacy tradition (budaya tulisan). Oral tradition mengandalkan komunikasi verbal dalam menyampaikan dan mempertahankan pengetahuan, sedangkan Literacy tradition berupa teks atau tulisan yang memungkinkan informasi bertahan lebih lama dan lebih mudah disebarluaskan lintas generasi. Oral tradition lebih menggunakan tektik mnemonik, yaitu mengandalkan ingatan, yang dihubungkan dengan imajinasi, sehingga orang-orang bertradisi lisan berkemampuan mengingat suatu ujaran. Sementara, menurut Ong, tulisan bersifat otoritatif dan tulisan telah mengubah kesadaran manusia, serta teknologi tulisan mendorong Masyarakat menjadi lebih analitif.

Gus Baha adalah contoh menarik dari tokoh yang meneruskan pemikiran penafsirannya dalam tradisi lisan. Menggunakan tradisi lisan mempunyai keuntungan dan tantangan tersendiri, salah satu keuntungan utamanya yaitu pendekatan lisan yang dipilih Gus Baha Memungkinkan terjadinya kedekatan yang lebih erat dengan para pendengar.  Gaya Bahasa yang sederhana dan narasi yang hidup membuat pemikiran Gus Baha lebih mudah dipahami oleh banyak orang, terutama orang-orang awan yang tidak akrab dengan teks-teks klasik atau bahasa arab. Hal ini sesuai dengan pandangan Ong, bahwa budaya lisan menciptakan keintiman dan kedekatan, terutama karena komunikasi terjadi secara langsung dan interaktif.

Tidak hanya itu, dalam budaya tulisan, Gus Baha memiliki beberapa karya, yaitu kitab Hifdzuna Li Hadza al-Mushaf yang menjelaskan tentang rasm Usmani, Khazanah Andalus Menguak Karya monumental Alfiyah Ibnu Malik, kemudian karya selanjutnya yaitu Tafsir dan Terjemah Al-Qur’an UII, yang merupakan terjemah dengan penjelasan singkat.

Penafsiran Gus baha

Gus baha dikenal dengan ulama tafsir kontemporer, keahliannya dalam bidang Al-Qur’an merupakan hasil dari belajarnya sejak kecil, bahkan latar belakang keluarga beliau juga merupakan kyai-kyai ahli Al-Qur’an. Ayahnya, Kyai Nur Salim, adalah ulama Pakar Al-Qur’an yang mempunyai Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA, Rembang. Selain itu beliau juga sangat ahli dalam bidang fikih. Pemikiran dan penafsiran beliau yang mudah dan menyenangkan sangat disukai masyarakat, misalnya saja ketika menafsirkan ayat-ayat mengenai surga dan nikmat Allah, sehingga menurut pendengar, seolah mencapai surga itu sangat mudah. Beliau juga simpel dan tidak rumit ketika menafsirkan dan menceritakan suatu ayat.

Meskipun belum menuliskan buku, teknologi digital telah memberikan alternatif untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan pemikiran Gus Baha. Ceramah-ceramah beliau yang direkam dan diunggah ke berbagai platform media sosial, seperti youtube, podcast, dan lain sebagainya. Hal ini membawa kita kepada konsep Ong tentang secondary orality, dimana teknologi modern membawa kembali tradisi lisan, namun kali ini dalam skala global dan dapat diakses lintas generasi. Fathurrosyid dalam artikel jurnalnya, Nalar Moderasi tafsir Pop Gus baha (2020), mengklasifikasikan penafsiran Gus Baha ke dalam tafsir pop. Ia mendefinisikan, Tafsir Pop Gus Baha merupakan kajian tafsir Al-Qur’an oleh Gus Baha dengan pendekatan yang moderat, kemudian disebarluaskan melalui berbagai media popular seperti facebook, Instagram, dan youtube.

Namun, teknologi digital ini tetap memiliki keterbatasan. Tidak semua materi tersedia dalam bentuk transkip atau pengeditan teks, sehinngga mereka yang tidak memiliki akses atau kemampuan untuk mendengarkan media digital bisa saja kesulitan. Selain itu, tanpa buku yang disusun secara sistematis, pemikiran Gus Baha mungkin terasa lebih terfregmentasi, mengingat setiap ceramah biasanya disampaikan berdasarkan topik tertentu, bukan sebagai rangkuman lengkap dari seluruh pemikiran beliau.

Untuk membantu menjaga warisan pemikiran Gus Baha, banyak dari komunitas dan para muhibbin Gus Baha berusaha mendokumentasikan, menyalin, merangkum, dan usaha-usaha penyusunan transkip pemikiran beliau menjadi tulisan. Karena tanpa dokumentasi tertulis, ada resiko bahwa pemikiran Gus Baha bisa hilang atau berubah seiring waktu. Ketergantungan pada lisan membuat pemikiran beliau rentan terhadap interpretasi yang salah atau terdirsodir oleh pendengar yang mencoba mengingat atau menerjemahkan kembali apa yang pernah disampaikan. Itulah mengapa pertanyaan di awal itu timbul, mengapa Gus Baha tidak menuliskan pemikirannya menjadi suatu kitab tafsir? Mungkin belum, dan harapannya suatu saat nanti akan ditulis agar pemikirannya menjadi satu kitab tafsir utuh dan bisa dinikmati generasi selanjutnya. Karena akan sangat disayangkan, jika pemikiran yang sangat luar biasa tidak bisa dinikmati dan dipelajari generasi mendatang.

Nena Ulfatan, Mahasiswa Ilmu AL-Qur’an dan Tafsir, Uin K.H. Abdurrahman Wahid, Pekalongan, Peneliti di Rahmatan Institute Indonesia




Facebook Comments


Bagikan..
Tags: mufassir indonesiamufassir kontemporertafsir indonesia

Subcribe untuk berlangganan artikel selanjutnya.

Unsubscribe
nena ulfatan

nena ulfatan

    About Author

    • Islam dan Pentingnya Literasi

      Islam dan Pentingnya Literasi

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Ruang bagi Tafsir Kontekstual

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • PELUANG DAN TANTANGAN GURU DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Islam dan Tanggung Jawab terhadap Lingkungan

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Piagam Madinah Akar Toleransi Umat Beragama

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

      • PEDOMAN MEDIA SIBER
      • Tentang
      • Kontribusi
      • Redaksi

      © 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

      No Result
      View All Result
      • Beranda
      • KOLOM
      • KAJIAN

      © 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

      Login to your account below

      Forgotten Password? Sign Up

      Fill the forms bellow to register

      All fields are required. Log In

      Retrieve your password

      Please enter your username or email address to reset your password.

      Log In
      error: Content is protected !!