🎵 BUKAN KARENA NAMA 🎵
RAHMATAN NUSANTARA PRODUCTION
Browser Anda tidak mendukung audio player.
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi Tulisan
  • Redaksi
Monday, September 28, 2026
Rahmatan.Com
  • Beranda
  • KOLOM
  • KAJIAN
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
  • Beranda
  • KOLOM
  • KAJIAN
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
Rahmatan.Com
No Result
View All Result
Cooming Soon!!

Krisis Iklim: Perempuan Pesisir Bercerita

Redaksi Rahmatan by Redaksi Rahmatan
May 13, 2026
in berita
Krisis Iklim: Perempuan Pesisir Bercerita
43
SHARES
129
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan!

Pekalongan — Isu krisis iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menyentuh langsung kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir, khususnya perempuan. Hal itu mengemuka dalam kegiatan Seminar Perempuan Pesisir Bercerita Krisis Iklim dan Launcing Buku yang digelar pada Senin, 11 Mei 2026, di Meeting Room Fakultas Syariah UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dekan Fakultas Syariah, Prof. Maghfur, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Riset MORA The Air Funds. Seminar menghadirkan para penulis buku Perempuan Pesisir dan Keadilan Iklim. Para penulis menyampaikan hasil tulisannya menyoal perubahan iklim, nasib perempuan pesisir, hingga kajian green economy. Kegiatan dilakukan secara hybrid: offline dan online.

Artikel lain

Eco-Masjid di Pekalongan, Dosen UIN Gus Dur Dampingi Mahasiswa Kelola Sampah

Dubes RI-Arab Saudi (16-21) Kagum Pencapaian Pesantren Guyangan Punya Rumah Sakit

Gus Dur, “Profesor” Pemberdayaan Masyarakat

Melawan Hoax, MAN 2 Kota Pekalongan Gelar Seminar dan Deklarasi

Dalam sambutannya, Prof. Maghfur menegaskan bahwa perempuan pesisir merupakan kelompok yang paling merasakan dampak krisis iklim, namun seringkali suaranya kurang mendapat perhatian dalam penyusunan kebijakan. Menurutnya, ruang akademik harus menjadi tempat lahirnya narasi dan solusi yang berpihak pada masyarakat rentan.

Peran Perempuan

“Perempuan pesisir bukan hanya korban perubahan iklim, tetapi juga penjaga ketahanan keluarga dan lingkungan. Karena itu, pengalaman mereka penting untuk didengar dan dijadikan dasar dalam merumuskan kebijakan yang lebih adil dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa perempuan menghadapi beban ganda akibat krisis iklim. Selain harus membantu menopang ekonomi keluarga ketika hasil laut menurun, perempuan juga tetap memikul tanggung jawab domestik di tengah kondisi lingkungan yang semakin tidak menentu.

“Krisis iklim membuat perempuan bekerja dua kali lebih berat. Mereka harus bertahan secara ekonomi, sekaligus menjaga keluarga dalam situasi yang serba sulit. Karena itu, perspektif gender dalam kebijakan lingkungan menjadi sangat penting,” tambah Prof. Maghfur.

Sementara itu, anggota tim riset, Dr. Siti Mumun Muniroh, menyoroti dampak psikologis yang dialami perempuan akibat bencana iklim seperti banjir dan rob yang terus berulang di kawasan pesisir. Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan rasa cemas, stres, hingga kelelahan mental karena perempuan harus menghadapi ketidakpastian hidup dalam jangka panjang.

Baca juga: Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

akibat krisis iklim

“Ketika banjir dan rob datang terus-menerus, perempuan bukan hanya kehilangan rasa aman, tetapi juga mengalami tekanan psikologis yang berat. Mereka memikirkan keselamatan keluarga, kebutuhan ekonomi, kesehatan anak, hingga kondisi rumah yang rusak akibat bencana,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa persoalan kesehatan mental akibat krisis iklim masih sering luput dari perhatian publik maupun kebijakan pemerintah.Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan dalam menangani masyarakat terdampak, khususnya perempuan pesisir.

Seminar berlangsung interaktif dengan menghadirkan diskusi mengenai ekologi, keadilan sosial, serta peran perempuan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir. Peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, pegiat lingkungan, dan masyarakat umum tampak antusias mengikuti jalannya kegiatan.

Melalui seminar ini, Fakultas Syariah berharap kesadaran terhadap krisis iklim semakin meningkat sekaligus memperkuat perspektif keadilan gender dalam isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

jurnal

Facebook Comments

↓ Download PDF

Subcribe untuk berlangganan artikel selanjutnya.

Unsubscribe
Redaksi Rahmatan

Redaksi Rahmatan

About Author

Contents hide
1 Artikel lain
2 Eco-Masjid di Pekalongan, Dosen UIN Gus Dur Dampingi Mahasiswa Kelola Sampah
3 Dubes RI-Arab Saudi (16-21) Kagum Pencapaian Pesantren Guyangan Punya Rumah Sakit
4 Gus Dur, “Profesor” Pemberdayaan Masyarakat
5 Melawan Hoax, MAN 2 Kota Pekalongan Gelar Seminar dan Deklarasi
6 Peran Perempuan
7 akibat krisis iklim
  • Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Salam Multikultur, Harmoni Sosial, dan Warisan Gus Dur

    305 shares
    Share 122 Tweet 76
  • Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital

    40 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    61 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    65 shares
    Share 26 Tweet 16
  • WhatsApp

    • PEDOMAN MEDIA SIBER
    • Tentang
    • Kontribusi Tulisan
    • Redaksi

    © 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • KOLOM
    • KAJIAN
    • REHAL
    • BERITA

    © 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

    Login to your account below

    Forgotten Password? Sign Up

    Fill the forms bellow to register

    All fields are required. Log In

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    error: Content is protected !!
    English
    Arabic