• Latest
  • Trending
Dubes RI-Arab Saudi bersama K.H. Najib Suyuthi

Dubes RI-Arab Saudi (16-21) Kagum Pencapaian Pesantren Guyangan Punya Rumah Sakit

October 24, 2025
Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

October 10, 2026
Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

September 29, 2026
Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

September 20, 2026
Tuhan dalam genggaman

Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital

September 8, 2026
kebhinekaan

Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

August 18, 2026
Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

August 12, 2026
Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

July 24, 2026
eco-masjid

Eco-Masjid di Pekalongan, Dosen UIN Gus Dur Dampingi Mahasiswa Kelola Sampah

August 13, 2026
Menggugat Mitos Superioritas Genealogis

Menggugat Mitos Superioritas Genealogis

July 10, 2026
🎵 BUKAN KARENA NAMA 🎵
RAHMATAN NUSANTARA PRODUCTION
Browser Anda tidak mendukung audio player.
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi Tulisan
  • Redaksi
Friday, October 16, 2026
Rahmatan.Com
  • Beranda
  • KAJIAN
    • All
    • HADIS
    • TAFSIR
    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    kebhinekaan

    Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    kebhinekaan

    Etika Tertinggi Kebhinekaan

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
  • Beranda
  • KAJIAN
    • All
    • HADIS
    • TAFSIR
    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    kebhinekaan

    Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    kebhinekaan

    Etika Tertinggi Kebhinekaan

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
Rahmatan.Com
No Result
View All Result
Cooming Soon!!

Dubes RI-Arab Saudi (16-21) Kagum Pencapaian Pesantren Guyangan Punya Rumah Sakit

Redaksi Rahmatan by Redaksi Rahmatan
October 24, 2025
in berita
Dubes RI-Arab Saudi bersama K.H. Najib Suyuthi
67
SHARES
204
VIEWS
Share on WhatsAppShare on FacebookShare on Twitter
Klik Di Sini


Sabtu, 18 Oktober, minggu lalu saya hadir di acara walimah pernikahan putri sahabat saya, KH. Muhammad Najib Suyuthi di kompleks pondok pesantren Raudhatul Ulum Guyangan Pati. Kyai Najib adalah pengasuh pesantren yang santrinya lebih dari 7000 ini.

Pesantren ini sangat megah, dari jarak 1 km sudah terlihat tower 7 lantai dengan nama gagah tertulis dalam Bahasa Arab “Ma’had Raudhatul Ulum al-Islamiy” (raudhah dibaca rafak karena I’rab khibari) dibuat dengan ingkisan warna kuning yang terkesan gagah dan mewah.

Di samping pondok pesantren ini, berdiri Rumah Sakit As-Suyuthiyyah. Nama ini diambil dari nama pendiri KH. Suyuthi Abdul Qadir, Abah Kyai Najib yang juga tercatat sebagai murid dari Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari. Pesantren yang memiliki Rumah Sakit bisa dihitung dengan jari seperti Tebuireng dan Lirboyo yang miliki ini “orval” (bentuk upgrade—Islam tradisi dari kata viral).

Building pesantren ini dibangun dengan arsitektur modern tertata rapi dan banyak sentuhan-sentuhan artistik yang semakin membuat pesantren ini berwibawa.

Alumni pesantren ini tidak hanya bertebaran di kampus-kampus agama seperti IAIN, UIN, tetapi juga kampus-kampus UGM, UI, UNAIR dan lain-lain. Tidak hanya dalam disiplin social sciences dan humaniora tapi juga dalam ilmu-ilmu eksak dan IT. Santri alumni pesantren ini juga menggurita di kampus-kampus luar negeri seperti Mesir, Tunisia, Maroko dan negara-negara Arab lainnya.

Tahun kemarin, pesantren ini juga satu-satunya pesantren yang “beraroma NU” yang mendapatkan sertifikat Mu’adalah (persamaan) dari Universitas Madinah Arab Saudi. Mu’adalah Al-Azhar Mesir sudah lama puluhan tahun yang lalu.

Saya hadir bersama sahabat saya Arvin Hakim Thoha, santri Sarang dan Tombak Beras yang pernah menjadi anggota DPR RI 2015–2019.

Kami bertiga bersahabat sejak tahun 1985 ketika bareng-bareng masuk IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kami santri yang pada waktu itu belum mengerti apa-apa tentang makhluk bernama kampus. Santri-santri ndeso yang berproses dari “ketidaktahuan” menuju ke “sedikit tahu”. Sebenarnya bukan bertiga tapi berempat yaitu bersama KH. Ahmad Farid Abdul Hadi yang sudah mendahului kami sowan Allah.

Saya dan Kyai Najib thalabul ilmi di jurusan spesialisasi Tafsir dan Hadis sementara Arvin Hakim ambil di studi Peradilan Agama (al-Qadha’) di Fakultas Syariah.

Persahabatan semakin erat dan lengket ketika kami berdua bersama kawan-kawan yang rata-rata suka membedah kitab-kitab tafsir dan kitab-kitab hadis berbagai mazhab, corak dan aliran. Mulai tafsir yang berafiliasi ke Mazhab Sunni sampai dengan tafsir beraroma Muktazilah dan Syiah harus kami bedah di meja diskusi untuk dipelajari sekaligus dikritisi.

Di bawah bimbingan KH. Malik Madany, the Rising Scholar and Lecturer, kami diajari untuk tidak tabu mengkaji karya-karya klasik berbagai mazhab agar adil dan objektif dalam memahami the sacred text, teks-teks suci keagamaan. Kitab-kitab Tafsir yang seperti Al-Mizan karya Thabathabai, Tafsir As-Syafi’i karya Jawwad Mughniyah juga menjadi menu yang menarik dalam setiap diskursus qur’anic exegesis. Kitab-kitab Syiah seperti Usulul Kafi karya Imam Kuli dan Nahjul Balaghah karya Al-Imam Al-Ghadir-nya Al-Amini juga menjadi santapan bersama para santri-santri di jurusan Tafsir Hadis.

Kami dalam mengikuti tugas qirā’ah tidak pernah mempermasalahkan antara mazhab-mazhab keagamaan. Kami sadari, Syiah, Muktazilah dan lain-lain adalah “jalan” produk sejarah dan bukan “agama” an-sich, “product” teks-teks suci keagamaan. Berantem sampai berlorah-darah atau perdebatan yang goreng-gorengan harus dihindari semua sebab semua mazhab bertujuan untuk mencari kebenaran dengan pendekatan proses keilmuan.

Saya juga menjadi saksi bahwa Kyai Najib pengasuh pesantren Raudhatul Ulum ini sangat alim dan berwawasan luas tetapi dalam mengkaji hadis dan tafsir, beliau juga sangat terbuka untuk melakukan reformulasi tradisi keilmuan pesantren. Dia berani melakukan kritik terhadap tradisi keilmuan pesantren yang fikih sentris.

Dalam perjalanan intelektualnya, Kyai Najib menulis sebuah skripsi yang sangat penting dan monumental. Skripsi itu menyoroti sebuah nama yang sangat populer dalam forum-forum bahstul masail di pesantren-pesantren dan juga di kalangan NU. Nama tersebut adalah al-Khatib as-Syirbiniy.

Nama Khatib as-Syirbiniy sangat masyhur dan sering disebut di pesantren terutama ketika bahstul masail (kajian permasalahan). Sayangnya nama besar ini hanya dikenal di pesantren dalam studi-studi fiqih lewat karyanya Al-Iqna’ fi hall alfaz Abi Syuja’ dan Mughni Muhtaj ila Ma’rifatil Alfaz al-Minhaj. Padahal Syirbini ini seorang mufassir yang andal dalam qur’anic exegesis, tafsir al-Qur’an.

Berangkat dari realitas tersebut Kyai Najib menulis skripsi dengan judul Al-Khatib as-Syirbiniy dan Pemikiran Tafsirnya dalam kitab As-Siraj al-Munir fi al-Qur’an al-Karim bidzikri kalami Rabbina al-Aziz al-Khabir.

Ini dobrakan revolusioner Kyai Najib agar pesantren juga mengkaji dan mendalami keilmuan As-Syirbiniy bukan hanya berdasarkan al-Qur’an dan hadis yang bergelut dengan “ibarat”-fiqih-fiqihnya.

Di acara walimah pernikahan tersebut saya “diplekotho” alias dipaksa untuk memberikan mauidhah kepada keluarga mempelai Ning Najwa dan Gus Mukhosis.

Saya terus terang grogi ndobos di depan para tamu yang rata-rata orang alim dengan kitab kuning. Saya sampaikan saya ini bukan kyai, hanya “mutakayyik” alias sok bergaya Kyai padahal bukan Kyai. Sementara sahabat Arvin khitbah juga “diplekotho” jadi wakil keluarga dan memberikan pidato yang sangat semangat seperti instruktur LKD PMII.

Saya dan sahabat Arvin juga punya hutang dengan Kyai Najib ini, tidak hanya sering ditraktir “Gudeg Cukupan” dekat Batas Kota, tetapi kami juga sering dibelikan karcis untuk nonton dangdut di Purawisata pada tahun 80-an tersebut.

Kyai Najib penggemar dangdut meski tidak bisa nyanyi dangdut. Sahabat Arvin bisa nyanyi meskipun notasinya dan cengkoknya model “orang mbelah” Karangmangu Sarang Rembang.

Saya saya tutup coretan ini dengan kidah yang belum ditulis dan divisualisasi di kitab-kitab kuning:

الصحبة الودية غير متناهية، واللامتناهية لاتنقض بالمتناهية.


Persahabatan tulus adalah sesuatu yang tanpa akhir. Sesuatu yang tanpa akhir tidak boleh diruntuhkan dengan sesuatu yang ada akhir (misalnya: label dan jabatan apapun).

Sebuah perjalanan persahabatan tanpa akhir, unending persahabatan.

Druwo Sewon, 21/10/25
Agus Maftuh Abegebriel, Dubes RI untuk Kerajaan Arab Saudi merangkap OKI, 2016 – 2021



↓ Download PDF

Tags: Agus Maftuh Abegebrielkh. najib suyuthipondok pesantrenypru guyangan

Subcribe untuk berlangganan artikel selanjutnya.

Unsubscribe
Redaksi Rahmatan

Redaksi Rahmatan

  • Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

    Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

    43 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

    72 shares
    Share 29 Tweet 18
  • Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    85 shares
    Share 34 Tweet 21
  • Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    98 shares
    Share 39 Tweet 25
  • Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital

    73 shares
    Share 29 Tweet 18
  • WhatsApp

  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi Tulisan
  • Redaksi

© 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • KAJIAN
  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA

© 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
error: Content is protected !!