Manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan, sebab manusia memiliki tugas sebagai khalifah fil ard, sebagai representasi Allah swt untuk menguasai alam. Namun terkadang diberi tanggung jawab untuk menjaga dan merawat lingkungan justru merusak, mereka berkuasa secara antroposentris, berlaku sewenang-wenang. Membangun sesuatu tanpa melihat dampak lingkungan. Semangat pembangunan itu malah menimbulkan banyak bencana yang dialami. Misalnya banjir, gempa bumi, tsunami dan bencana lainnya.
Menjaga Lingkungan merupakan tanggung jawab kita, sebab lingkungan adalah sebuah pilar bagi semuah kehidupan termasuk manusia. Sayangnya, sekarang sering muncul eksploitasi lingkungan yang berakibat terhadap kualitas lingkungan yang mengkhawatirkan, berakibat terhadap penurunan kualitas udara, air dan kepunahan satwa liar. Berbagai permasalahan itu muncul sebab manusia kurang bertanggung jawab akan tugasnya. Akhirnya, tidak hanya menganggu keberlangsungan kehidupan di saat ini tetapi juga keberlangsungan masa depan.
Salah satu faktor yang mempengaruhi kerusakan lingkungan yang terjadi pada alam ini merupakan kurang kesadaran manusia yang posisinya sebagai khalifah fil ard yang memiliki arti manusia berhak untuk menguasai dan mengeksploitasi alam dalam rangka memenuhi segala kebutuhan manusia secara berlebihan.
Dalam alquran surat ar rum ayat 41
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Telah tampak kerusakan di darat dan laut itu disebabkan oleh tanggan manusia sendiri Ini jelas bahwasanya allah memperingati manusia untuk jangan manusia menjadi antrosentris berkuasa sewenang dengan mengekspor alam berlebih,
Posisi manusia menjadi subjek perubahan dan pelaku utama dalam berkehidupan di alam ini. Kehancuran dan kerusakan ekosistem itu dipengaruhi oleh manusia itu sendiri karena manusia yang menguasai alam. Dari sikap dan cara berpikir bahkah tindakan terhadap alam akan mempengaruhi kerusakan ekosistem.
Bermacam bencana yang ada di sekitar diakibatkan oleh manusia yang mengekspoitasi lingkungan tanpa ada pertimbangan lingkungan dan keseimbangan. Manusia yang telah menjadi wakil tuhan di muka bumi yang itu diberikan Amanah untuk dapat melestarikan alam ini namun manusia itu menjadi agen perusak lingkungan atas nama keserakahan. Pola dari hubungan manusia dengan alam hanya sebagai relasi instrumental.
Melihat banyaknya permasalahan lingkungan dewasa ini di antaranya disebabkan oleh pandangan yang menyatakan bahwa ekologi pembangunan seharusnya mengarah kepada kritikan kepada makna dan terminologi pembangunan yang bias kepada tingkat pertumbuhan. Selama pembangunan masih menganut paradigma pertumbuhan dan masih menjadi unggulan utama maka tidak akan banyak yang akan dicapai dalam pengelolaan lingkungan.
Sustainability Development
Melihat banyaknya dampak negatif akhirnya perlu untuk mencari sebuah solusi supaya setiap pembangunan tidak terkesan anti lingkungan. Pandangan ini melahirkan terminologi eco-development yang menjadikan pembangunan berwawasan lingkungan. Kritikan terus berkembang akhirnya menimbulkan pemikiran baru agar tidak melegitimasi pembangunan yang merusak lingkungan.
Para environmentalist masih belum puas karena saat berbicara tentang pembanguan maka ada hubungannya dengan negara berkembang, dimana lingkungan menjadi sesuatu yang dikorbankan. Konsepnya ialah bagaimana mengubah sumber daya supaya bernilai ekonomis bagi kesejahteraan bangsa. Maka diperlukan memfokuskan kajian pada kepada aspek lingkungan yang lebih intens. Konsep pembanguan berkelanjutan memungkinkan berbagai integrasi di lingkup masyarakat dalam tiga aspek yaitu ekonomi, lingkungan, aspek sosial budaya.
Ekosufisme
Reni Dian Anggraini dan Ratu Vina Rohmatika, dalam ‘Konsep Ekosufisme: Harmoni Tuhan, Alam Dan Manusia Dalam Pandangan Seyyed Hossein Nasr (2022) mengelaborasi relasi tuhan, alam, dan manusia. Tulisan ini menyadarkan bahwa manusia selalu menyalahkan tanggung jawab sebagai khalifah fil ardh dengan cara melakukan ekspoitasi alam. Apalagi dengan perkembangan teknologi modern menjadikan manusia lupa sisi-sisi spiritualitas, yang menjurus pada peniadaan eksistensi–dan peran–tuhan. Hal ini menjadikan mereka kehilangan jati diri dan tujuan hidup yang mengeringkan spiritualisme.
Walhasil, jika telah ditunaikan bagaimana cara manusia memahami keteraturan alam, akan sampai pada tahap ekosufisme, yang mana menekan ketamakan manusia dalam menaklukkan semesta. Manusia dituntut mengembalikan kesadaran ekologis yang fundamental. Bahwa tugas manusia adalah merawat ekosistem dan menyeimbangkan kelestarian alam sebagai bukti bakti kepada Tuhan.
Dimas muhamad rizky, mahasiswa Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah UIN KH Abdurahman Wahid
Subcribe untuk berlangganan artikel selanjutnya.





