• Latest
  • Trending
Ka’bah, Sejarah Kiblat Umat Manusia

Ka’bah, Sejarah Kiblat Umat Manusia

April 11, 2019

KHUTBAH: Perilaku Para Penghuni Surga

October 13, 2026
Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

October 10, 2026
Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

September 29, 2026
Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

September 20, 2026
Tuhan dalam genggaman

Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital

September 8, 2026
kebhinekaan

Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

August 18, 2026
Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

August 12, 2026
Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

July 24, 2026
eco-masjid

Eco-Masjid di Pekalongan, Dosen UIN Gus Dur Dampingi Mahasiswa Kelola Sampah

August 13, 2026
🎵 BUKAN KARENA NAMA 🎵
RAHMATAN NUSANTARA PRODUCTION
Browser Anda tidak mendukung audio player.
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi Tulisan
  • Redaksi
Monday, October 19, 2026
Rahmatan.Com
  • Beranda
  • KAJIAN
    • All
    • HADIS
    • TAFSIR
    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    kebhinekaan

    Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    kebhinekaan

    Etika Tertinggi Kebhinekaan

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
  • Beranda
  • KAJIAN
    • All
    • HADIS
    • TAFSIR
    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    kebhinekaan

    Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    kebhinekaan

    Etika Tertinggi Kebhinekaan

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
Rahmatan.Com
No Result
View All Result
Cooming Soon!!

Ka’bah, Sejarah Kiblat Umat Manusia

Redaksi Rahmatan by Redaksi Rahmatan
April 11, 2019
in Uncategorized
Ka’bah, Sejarah Kiblat Umat Manusia

ka'bah

237
SHARES
717
VIEWS
Share on WhatsAppShare on FacebookShare on Twitter
Klik Di Sini

Ka’bah telah ada dan dibangun sejak manusia pertama, Adam bersama Hawa. Mereka adalah arsitek bangunan yang kelak menjadi kiblat umat Islam itu. Mulai saat itu bangunan tersebut menjadi pusat kiblat dalam menyembah Allah. Nabi Nuh meneruskan fungsi itu bersama para pengikut setianya.

Itulah salah satu kisah kibat paling awal yang disebutkan sebagian ahli sejarah.

Kemudian Nabi Ibrahim datang ke daerah Mekah dan membangun Ka’bah kembali dibantu putra kesayangannya, Ismail.

Di tempat itulah Nabi Ibrahim melakukan ibadah, thawaf, sujud dan ruku’, serta menyeru segenap manusia untuk datang beribadah haji di sana (QS. al-Hajj/22: 26-27). Sejak itulah perintah haji ke Baitullah dimulai.

Nabi Isma’il melanjutkan tugas sang ayah. Ia berhasil mengajak penduduk Mekah dan sekitarnya untuk menyembah Allah. Keberhasilan syiar tersebut tidak lepas dari kedekatan Isma’il dengan penduduk setempat terutama setelah ia menikahi gadis keturunan Jurhum, suku yang menjadi penguasa Mekah saat itu.

Table of contents

Rocky Gerung dan Kedunguannya Membahas Islamophobia di Indonesia

Kritik Atas Nalar Agamaisasi Kekerasan

Gerakan Agama Filosofis Pasca Kritik Ortodoksi al-Ghazali

Salam Multikultur, Harmoni Sosial, dan Warisan Gus Dur

Lagu Kebangsaan, Keindonesiaan, dan Tafsir Pancasila

Mempertemukan Agama dan Covid-19 di Masa PPKM Darurat

Secara turun temurun tradisi itu dilestarikan oleh penduduk Mekah dan sekitarnya. Mereka disebut dengan kaum Hanif yang konsisten menjalankan ajaran Nabi Ibrahim dan Ismail.

Table of Contents

Toggle
  • Table of contents
  • Rocky Gerung dan Kedunguannya Membahas Islamophobia di Indonesia
  • Kritik Atas Nalar Agamaisasi Kekerasan
  • Gerakan Agama Filosofis Pasca Kritik Ortodoksi al-Ghazali
  • Salam Multikultur, Harmoni Sosial, dan Warisan Gus Dur
  • Lagu Kebangsaan, Keindonesiaan, dan Tafsir Pancasila
  • Mempertemukan Agama dan Covid-19 di Masa PPKM Darurat

Hingga datang ‘Amr bin Luhay, tokoh paling berpengaruh di Tanah Arab pada masa itu. Ia adalah orang pertama yang menancapkan atau memasang patung tepat di sumur di tengah-tengah Ka’bah. Patung tersebut diberi nama Hubal, berhala paling penting di zaman Jahiliah.


Saat Islam datang membawa ajaran pembebas, Ka’bah masih menjadi pusat peribadatan kaum pagan, penyembah patung berhala. Sehingga, ketika perintah shalat diterima nabi Muhammad dalam peristiwa Isra’ Mi’raj (satu setengah tahun sebelum hijrah), kibat shalat Nabi dan kaum muslimin adalah Baitul Maqdis, Masjidil Aqsha.

Di awal periode Madinah, Allah memerintahkan Nabi agar mengubah kiblatnya menuju Ka’bah, Masjidil Haram. “Sungguh Kami melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam,” (QS. Al-Baqarah/2: 144).

Saat perintah itu turun, para sahabat Nabi sedang melaksanakan shalat shubuh di masjib Qubba’ (Quba) —karena alasan ini masjid tersebut dikenal dengan “zhul qiblatain” (masjid dua kiblat).

Perubahan arah kiblat terjadi pasca adanya komplain dari kaum Ahli Kitab kepada Nabi. Bagi kaum Yahudi, Muhammad inkonsisten menilai kaum Yahudi sebab mengingkari sebagian cara beragama mereka, sementara pada saat yang sama ia justru menghadap ke kiblat mereka.

Sebagian ulama menilai perubahan itu karena beberapa pertimbangan: (1) Masjidil Haram sebagai kebanggaan mereka sekaligus kiblat nenek moyang masyarakat Mekah sehingga perubahan itu dapat mendorong mereka untuk beriman; (2) agar umat Islam berbeda dari kaum Yahudi; (3) agar bisa dibedakan antara pengikut yang setia kepada Rasul SAW dan mereka yang munafik (al-Razi, 4/95; Zamahsyari, 1/202).

Ka’bah adalah bukti kontinuitas ajaran langit untuk manusia yang beriman dan menyembah kepada Allah. Ia terus dijaga dan menjadi kiblat siapapun yang shalat menghadap-Nya. Rasul Muhammad adalah uswahnya. Para sahabat yang melestarikannya, dilanjut oleh para tabi’in dan generasi berikutnya.


Karena itu, para ulama mufakat menghadap Ka’bah bagian dari kewajiban (fardhu) dalam setiap shalat yang ditunaikan. Ini perintah yang tak boleh disepelekan. Bagi yang berada di dekatnya, posisi harus persis menghadap ke arahnya ((‘ain al-Ka’bah)).

Bagi orang yang jauh darinya, ia cukup menghadap ke arah di mana kibat itu berada (jihah al-Ka’bah), walaupun tidak persis lurus ke posisinya. Begitu kata Imam Abu Hanifah (80 – 150 H). Pendapat imam Abu Hanifah tersebut diamini oleh imam Malik (93 – 179 H).

Namun, bagi imam Syafi’i (150 – 204 H), kiblat shalat tetap berusaha menghadap persis ke posisi Ka’bah. Pesan dari mazhab Syafi’iyah, kita harus hati-hati dalam menghadap kiblat saat shalat karena ini kewajiban yang mesti dilaksanakan secara serius.

Pesan dari mahzab Hanafiah dan Malikiah, umat Islam sudah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Mereka berada jauh hingga jarak ribuan kilometer dari Ka’bah. Jarak antara Indonesia dan Mekah sekitar 8000-an kilometer. Jauh sekali. Tidak mudah memastikan posisi akurat menghadap kiblat dari jarak tersebut.

Maka, yang paling memudahkan adalah menghadap ke arah mata angin utama di mana posisi kiblat berada, tidak harus persis lurus ke posisi Ka’bah–walaupun saat ini posisi persis Ka’bah sudah bisa ditentukan secara lebih akurat melalui teknologi seperti Global Positioning System (GPS) atau layanan Google Earth. Keputusan Fatwa MUI No. 3 Tahun 2010 bisa menjadi acuan.

Semoga kita bisa istiqomah melaksanakan shalat dan konsisten menghadap Ka’bah, kiblat para nabi pilihan dan pusat ibadah umat Islam yang tidak akan berubah lagi sampai kapanpun.
Doa ini untuk saya, Anda dan mereka yang beragama Islam, siapapun, di manapun.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq

========
Dihimpun dari:
Al-Zamahsyari, al-Kasysyaf
Jawwad Ali, al-Mufassal fi Tarikh al-‘Arab qabl al-Islam
Ibn Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah
Al-Raziy, Mafatih al-Ghayb
Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Wahbah Zuhaili
Al-Nawawi, al-Majmu’
Al-Buthy, Fiqh al-Sirah

Kurdi Fadal, Dosen Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Pekalongan

↓ Download PDF

Subcribe untuk berlangganan artikel selanjutnya.

Unsubscribe
Redaksi Rahmatan

Redaksi Rahmatan

Contents hide
1 Table of contents
2 Rocky Gerung dan Kedunguannya Membahas Islamophobia di Indonesia
3 Kritik Atas Nalar Agamaisasi Kekerasan
4 Gerakan Agama Filosofis Pasca Kritik Ortodoksi al-Ghazali
5 Salam Multikultur, Harmoni Sosial, dan Warisan Gus Dur
6 Lagu Kebangsaan, Keindonesiaan, dan Tafsir Pancasila
7 Mempertemukan Agama dan Covid-19 di Masa PPKM Darurat
  • Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

    Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

    46 shares
    Share 18 Tweet 12
  • Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

    74 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    85 shares
    Share 34 Tweet 21
  • Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital

    74 shares
    Share 30 Tweet 19
  • KHUTBAH: Perilaku Para Penghuni Surga

    3 shares
    Share 1 Tweet 1
  • WhatsApp

  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi Tulisan
  • Redaksi

© 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • KAJIAN
  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA

© 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
error: Content is protected !!