• Latest
  • Trending
Mempertemukan Agama dan Covid-19 di Masa PPKM Darurat

Mempertemukan Agama dan Covid-19 di Masa PPKM Darurat

July 8, 2021

KHUTBAH: Perilaku Para Penghuni Surga

October 13, 2026
Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

October 10, 2026
Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

September 29, 2026
Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

September 20, 2026
Tuhan dalam genggaman

Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital

September 8, 2026
kebhinekaan

Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

August 18, 2026
Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

August 12, 2026
Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

July 24, 2026
eco-masjid

Eco-Masjid di Pekalongan, Dosen UIN Gus Dur Dampingi Mahasiswa Kelola Sampah

August 13, 2026
🎵 BUKAN KARENA NAMA 🎵
RAHMATAN NUSANTARA PRODUCTION
Browser Anda tidak mendukung audio player.
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi Tulisan
  • Redaksi
Monday, October 19, 2026
Rahmatan.Com
  • Beranda
  • KAJIAN
    • All
    • HADIS
    • TAFSIR
    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    kebhinekaan

    Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    kebhinekaan

    Etika Tertinggi Kebhinekaan

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
  • Beranda
  • KAJIAN
    • All
    • HADIS
    • TAFSIR
    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    kebhinekaan

    Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    kebhinekaan

    Etika Tertinggi Kebhinekaan

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
Rahmatan.Com
No Result
View All Result
Cooming Soon!!

Mempertemukan Agama dan Covid-19 di Masa PPKM Darurat

Muhammad Akmaluddin by Muhammad Akmaluddin
July 8, 2021
in Uncategorized
Mempertemukan Agama dan Covid-19 di Masa PPKM Darurat

Mempertemukan Agama dan Covid-19 di Masa PPKM Darurat

87
SHARES
265
VIEWS
Share on WhatsAppShare on FacebookShare on Twitter
Klik Di Sini

Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Indonesia semakin memprihatinkan. Pemerintah pada akhirnya memberlakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pada 3-20 Juli 2019. Pasalnya, pada awal Juli, kasus harian mencapai 24.836 kasus atau meningkat dua kali lipat dari dua pekan terakhir. Angka kematian juga meningkat 250% dalam periode yang sama.

Pembatasan ini bertujuan untuk menahan laju penyebaran Covid-19 dan menyelamatkan jiwa masyarakat. Namun kebijakan pemerintah tidak lepas dari dukungan dan penolakan. Salah satu penolakan tersebut berasal dari sebagian kalangan agamawan dan para pengikutnya.

Banyak dari mereka yang menganggap bahwa Covid-19 adalah sebuah rekayasa, konspirasi dan pengalihan publik atas berbagai kasus korupsi, kemerosotan ekonomi dan hal negatif lainnya yang tidak bisa diatasi pemerintah.

Padahal sudah banyak jurnal ilmiah, penelitian medis, data statistik dan realitas empiris lain sebagainya yang menunjukkan ancaman dan bahaya Covid-19. Sebagian kalangan agamawan dan para pengikutnya tidak percaya pada bukti-bukti tersebut. Sebagaimana para pengikut fatalisme (jabbariyyah), mereka lebih memilih bahwa agama satu-satunya yang menyelamatkan kehidupan mereka, bukan obat atau tindakan medis lainnya.

Agama dan Covid-19

Di samping itu, mereka percaya bahwa tempat ibadah dan segala aktivitas di dalamnya akan aman dari penyebaran Covid-19. Tindakan seperti ini adalah bentuk pendekatan konflik di mana para agamawan dan para pengikutnya memperhadapkan agama dengan sains (termasuk medis) dan menganggap agama sebagai satu-satunya sumber kebenaran (Barbour, 1966 dan Haught, 1995).

Table of contents

Rocky Gerung dan Kedunguannya Membahas Islamophobia di Indonesia

Kritik Atas Nalar Agamaisasi Kekerasan

Gerakan Agama Filosofis Pasca Kritik Ortodoksi al-Ghazali

Salam Multikultur, Harmoni Sosial, dan Warisan Gus Dur

Lagu Kebangsaan, Keindonesiaan, dan Tafsir Pancasila

Berani Gak, Sodaqoh Masjid untuk Tangani Covid-19?

Pendekatan konflik seperti itu terus diproduksi dan diulang-ulang di masyarakat sehingga dianggap sebagai satu-satunya pendekatan yang paling benar. Pendekatan seperti ini terus muncul sejak awal pandemi hingga sekarang.

Table of Contents

Toggle
  • Agama dan Covid-19
    • Table of contents
    • Rocky Gerung dan Kedunguannya Membahas Islamophobia di Indonesia
    • Kritik Atas Nalar Agamaisasi Kekerasan
    • Gerakan Agama Filosofis Pasca Kritik Ortodoksi al-Ghazali
    • Salam Multikultur, Harmoni Sosial, dan Warisan Gus Dur
    • Lagu Kebangsaan, Keindonesiaan, dan Tafsir Pancasila
    • Berani Gak, Sodaqoh Masjid untuk Tangani Covid-19?
  • Relasi Agama dan Sains

Ada banyak contoh pendekatan ini yang dilakukan para agamawan maupun pengikutnya. Misalnya ketidaksediaan seorang ulama untuk menjadi imam, kecuali jika jamaah mencopot maskernya, merapatkan barisan dan berjabat tangan setelah ibadah. Hal ini terjadi di suatu kabupaten di Pantura yang pada saat itu menjadi zona merah. Namun ajakan itu sendiri ditolak oleh pengurus Masjid Agung daerah tersebut.

Baca juga: Salam Multikultur dan Warisan Gus Dur

Ada juga seorang pria yang menolak penutupan masjid di Situbondo dan bahkan menyatakan siap perang. Jika sebelumnya dilakukan oleh individu, penolakan untuk menutup tempat ibadah dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat dan diakomodir oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

Relasi Agama dan Sains

Dari beberapa fakta lapangan tersebut, pendekatan konflik cenderung lebih disukai. Padahal ada banyak pendekatan lainnya untuk melihat relasi agama dan sains. Barbour (1966) dan Haught (1995) melihat ada pendekatan dialogis, integratif dan konfirmatif. Agama dan sains tidak saling bertentangan, keduanya merupakan bagian paling penting dalam kehidupan manusia. Pendekatan lain tersebut mengusahakan dialog, interaksi dan kemungkinan adanya integrasi antara agama dan ilmu pengetahuan. Bahkan agama memperkuat dorongan yang memunculkan sains yang melangkah lebih jauh (Haught, 1995).

Menutup tempat ibadah, mengurangi ritual ibadah yang sunnah serta mengurangi jumlah jamaah memang suatu hal tabu, mafsadat (menyebabkan akibat buruk), bahkan bisa mengurangi pahala yang selama ini telah biasa dilakukan secara berjamaah. Namun membawa tempat ibadah dan jamaah kepada penyakit yang belum ada obatnya, jauh lebih tabu dan mafsadat.

Dalam kaidah fikih, jika ada dua mafsadat terjadi, maka mafsadat yang lebih berat yang harus dihindari. Prioritas dalam kaidah tersebut adalah untuk menghindari dan menekan mafsadat yang lebih besar, sebagaimana kebijakan PPKM Darurat yang dilakukan oleh pemerintah.

Sebagaimana judul buku Habib Ali al-Jufri, kemanusiaan, termasuk kesehatan dan keselamatan serta jiwa manusia, adalah sebelum keberagamaan. Keberagamaan adalah bagaimana seseorang menjalankan agama, bukan agama itu sendiri. Tempat ibadah untuk menunaikan kewajiban secara berjamaah bisa ditutup, tapi kewajiban itu masih bisa dilakukan rumah untuk menghindari penyebaran Covid-19. Apalagi Rasulullah SAW bersabda “orang mukmin yang kuat lebih disukai Allah daripada orang mukmin yang kurang kuat.” Kuatnya seorang mukmin tidak hanya dalam imannya saja, tetapi juga dalam badannya yang sehat dan bugar, serta terhindar dari Covid-19 untuk melakukan ibadah di masa pandemi ini.

Menerbitkan Buku adalah Kunci Akademik

↓ Download PDF

Subcribe untuk berlangganan artikel selanjutnya.

Unsubscribe
Muhammad Akmaluddin

Muhammad Akmaluddin

dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan anggota Lajnah Ta’lif wa Nasyr (LTN) PWNU Jawa Tengah

Contents hide
1 Agama dan Covid-19
1.1 Table of contents
1.2 Rocky Gerung dan Kedunguannya Membahas Islamophobia di Indonesia
1.3 Kritik Atas Nalar Agamaisasi Kekerasan
1.4 Gerakan Agama Filosofis Pasca Kritik Ortodoksi al-Ghazali
1.5 Salam Multikultur, Harmoni Sosial, dan Warisan Gus Dur
1.6 Lagu Kebangsaan, Keindonesiaan, dan Tafsir Pancasila
1.7 Berani Gak, Sodaqoh Masjid untuk Tangani Covid-19?
2 Relasi Agama dan Sains
  • Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

    Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

    46 shares
    Share 18 Tweet 12
  • Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

    74 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    85 shares
    Share 34 Tweet 21
  • Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital

    74 shares
    Share 30 Tweet 19
  • KHUTBAH: Perilaku Para Penghuni Surga

    3 shares
    Share 1 Tweet 1
  • WhatsApp

  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi Tulisan
  • Redaksi

© 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • KAJIAN
  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA

© 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
error: Content is protected !!