• Latest
  • Trending

Narasi Ke(ber)agamaan Pasca Gus Dur

April 4, 2018

KHUTBAH: Perilaku Para Penghuni Surga

October 13, 2026
Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

October 10, 2026
Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

September 29, 2026
Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

September 20, 2026
Tuhan dalam genggaman

Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital

September 8, 2026
kebhinekaan

Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

August 18, 2026
Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

August 12, 2026
Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

July 24, 2026
eco-masjid

Eco-Masjid di Pekalongan, Dosen UIN Gus Dur Dampingi Mahasiswa Kelola Sampah

August 13, 2026
🎵 BUKAN KARENA NAMA 🎵
RAHMATAN NUSANTARA PRODUCTION
Browser Anda tidak mendukung audio player.
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi Tulisan
  • Redaksi
Sunday, October 18, 2026
Rahmatan.Com
  • Beranda
  • KAJIAN
    • All
    • HADIS
    • TAFSIR
    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    kebhinekaan

    Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    kebhinekaan

    Etika Tertinggi Kebhinekaan

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
  • Beranda
  • KAJIAN
    • All
    • HADIS
    • TAFSIR
    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    kebhinekaan

    Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    kebhinekaan

    Etika Tertinggi Kebhinekaan

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
Rahmatan.Com
No Result
View All Result
Cooming Soon!!

Narasi Ke(ber)agamaan Pasca Gus Dur

Redaksi Rahmatan by Redaksi Rahmatan
April 4, 2018
in gagasan, kajian
82
SHARES
248
VIEWS
Share on WhatsAppShare on FacebookShare on Twitter
Klik Di Sini

 

Tiap 30 Desember, kita diingatkan dengan sosok pejuang keberagaman di Indonesia. Kontribusinya terhadap kemanusiaan merupakan sumbangsih besar bagi tumbuh-kembangnya kesetaraan, baik dalam lingkup ras, agama, dan suku. Dulu, kita melekatkan predikat pahlawan bagi mereka yang merelakan darahnya tertumpah demi tanah air dan meregang nyawa karenanya. Kini, di zaman yang katanya telah merdeka, kita barangkali sepakat untuk memberikan anugerah gelar tersebut kepada Bapak Pluralisme: Abdurrahman Wahid (1940-2009).

Kepulangannya 2009 silam meninggalkan luka mendalam. Tidak hanya pada mereka yang memiliki latar belakang santri dan muslim saja, mengingat Gus Dur adalah sosok yang lahir dari rahim keluarga santri dan tumbuh di lingkungan santri. Namun, juga mereka yang berbeda keyakinan. Hal ini tidak lain karena semasa hidup Gus Dur menjadi salah satu pejuang kemerdekaan bagi siapa pun untuk berkeyakinan sesuai yang dipercayai. Peran semacam ini, yang kemudian, menumbuhkan rasa cinta dari semua kalangan.

Salah satu terobosan yang dibuat Gus Dur adalah ketika komunitas Tionghoa diakui sebagai agama di Indonesia. Adalah mencabut Inpres No. 14 Th 1967 yang dikeluarkan Orde Baru. Inpres ini berisi pelarangan apapun bentuk ekspresi keagamaan orang Tionghoa di muka umum. Peraturan diskriminatif itu diganti dengan Peraturan Pemerintah No. 6 Th 2000, yang mana menjadikan tahun baru Imlek menjadi hari libur nasioanl sebagaimana hari raya agama-agama lain di Indonesia. Oleh sebagian kalangan, langkah itu dinilai kontroversial. Tapi, Gus Dur memiliki perspektif lain memandangnya. Kebebasan, sebagaimana diatur juga dalam UUD 45, merupakan hak segala bangsa. Maka, segala bentuk pengekangan tidak boleh dibiarkan berkepanjangan.

Tak heran jika kemudian ia begitu dicintai dan kepergiaannya ditangisi oleh semua orang. Perjuangannya membela minoritas seperti Ahmadiyah juga memperlihatkan kegigihan Gus Dur memperjuangkan asas-asas pluralisme sebagai pondasi bangsa ini. Kesadaran atas kemajemukan bangsa Indonesia membuatnya tahan banting berjuang. Hal ini menandaskan bahwa pembelaannya tidak terbatas pada tataran teoritis yang ia dengungkan, namun juga menyentuh hal-hal prinsipil di lapangan. Sehingga menghasilkan kebijakan negara yang implementatif. Regulasi yang dibuat Gus Dur tentu saja mempengaruhi dinamika keagamaan di Indonesia. Setidaknya membuka kran yang luas bagi kebebasan (diskursus) ke(ber)agamaan.

Table of contents

Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital

Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

Apa selanjutnya?
Lalu, apa yang bisa kita lakukan selanjutnya? Dalam basis ideologis, sangat tepat jika kita mereproduksi gagasan besar Gus Dur mengenai prinsip keberagamaan di Indonesia. Gagasan Gus Dur mengenai “pribumisasi Islam” sangat kontekstual untuk terus dikumandangkan. Pribumisasi Islam berarti seorang muslim secara sadar mengakui bahwa kemuslimannya bukan lantas meniru segala hal yang datang dari Arab, di mana Islam muncul dari sana. Sehingga tidak terjadi adopsi kebudayaan yang tak perlu, seperti cara berpakaian yang terkesan Arab, cara memanggil yang memakai istilah arab, dan lain sebagainya.

Table of Contents

Toggle
  • Table of contents
  • Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?
  • Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis
  • Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital
  • Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?
  • Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut
  • Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

Kontektualisasi ini sangat berpengaruh pada konstruksi berpikir. Diharapkan dapat menyeleksi apa yang menjadi prinsipil dan mana yang hanya artifisial dan temporal. Berbekal paradigma semacam ini, nalar berpikir manusia Indonesia tidak semestinya arab-sentris, yang menempatkannya sebagai pusat kebudayaan. Ia seharusnya diposisikan sebagai inspirasi untuk menggali lebih dalam lagi potensi-potensi nilai-nilai lokal yang ada di Indonesia.

Dalam kacamata Moh. Dahlan dalam Paradigma Ushul Fiqh Multikultural Gus Dur (2013: 81), yang menjadikan wawasan Gus Dur luas, di mana menggabungkan basis keislaman dan fakta ke-indonesiaan, karena ia mengubah orientasi yang “teosentris-ideologis” menjadi “antroposentris-pluralis”.

Menurutnya, yang menjadi tujuan jihad Gus Dur tidak terbatas untuk membentuk maqasid al-syar’i (tujuan pembentuk hukum fiqih), tapi lebih pada implementasi tujuan baik yang dialamatkan kepada manusia (maqasid al-nas). Apa yang dulu pernah dilontarkan Gus Dur bahwa “Tuhan tidak perlu dibela” menemukan kontekstualisasinya. Bahwa manusialah, tanpa memandang suku, agama, dan ras, yang perlu mendapatkan perhatian dan pembelaan yang sebenarnya. Diskriminasi tidak boleh terjadi.

Memperingati kepulangan Gus Dur, refleksi semacam ini yang perlu terus didengungkan. Agar perjuangannya semasa hidup tidak ditelan kelalaian kita memandang Indonesia yang majemuk. Kesadaran atas keberbedaan ini bisa menumbuhkan optimisme melihat Indonesia di masa mendatang.

Negeri yang, semoga, dijauhkan dari upaya-upaya separatis yang menegasikan orang lain atas nama ras, suku, dan agama. Negeri yang baldatun tayyibatun, negeri yang baik-damai-sentosa bagi semua. Indonesia yang makmur, Indonesia yang subur, Indonesia yang dipenuhi dengan orang-orang yang pandai bersyukur dan memaknai berkah pluralitas. Apakah kita siap memikul narasi ke(ber)agamaan yang sudah diperjuangkan Gus Dur? Kita lihat saja.

↓ Download PDF

Tags: abdurrahman wahidgus durkeberagaman

Subcribe untuk berlangganan artikel selanjutnya.

Unsubscribe
Redaksi Rahmatan

Redaksi Rahmatan

Contents hide
1 Table of contents
2 Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?
3 Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis
4 Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital
5 Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?
6 Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut
7 Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?
  • Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

    Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

    45 shares
    Share 18 Tweet 11
  • Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

    74 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    85 shares
    Share 34 Tweet 21
  • Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital

    74 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    98 shares
    Share 39 Tweet 25
  • WhatsApp

  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi Tulisan
  • Redaksi

© 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • KAJIAN
  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA

© 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
error: Content is protected !!