Mendengar kata Dalailu al-Khoirot, pikiran kita akan langsung tertuju ke sebuah daerah di Kabupaten Kudus yang bernama Bareng yang terletak di Kecamatan Jekulo. Pasalnya, di daerah tersebut pernah tinggal ulama besar yang menjadi Mujiz (pemberi Ijazah) amalan Dalailu al-Khoirot atau yang lebih dikenal dengan tirakat dalail. Beliau adalah KH Yasin bin H Amin atau yang akrab disapa Mbah Yasin Bareng.
KH Yasin lahir sekitar tahun tahun 1890-an di desa Cebolek Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati. Beliau memiliki nama asli Soekandar sesuai pemberian orang tuanya. Nama tersebut kemudian diubah menjadi Yasin setelah beliau melaksanakan ibadah haji. Nama kedua inilah yang akhirnya lebih dikenal oleh masyarakat sekitar. KH Yasin merupakan anak ke-7 dari 9 bersaudara yang lahir dari pasangan Ibu Salamah dan Bapak Tasmin yang setelah melaksanakan ibadah haji, keluarga mengganti namanya dengan H. Amin. Sejak kecil, beliau sudah ditinggal ayahnya yang meninggal di Baitullah. Akhirnya, beliau diangkat anak oleh KH Salam yang merupakan ayah dari KH Abdullah Salam atau kakek dari KH.Sahal Mahfudh Kajen Pati.
KH Yasin pindah ke Jekulo Kudus setelah diambil menantu oleh KH Yasir, salah satu ulama terkemuka di desa tersebut. Beliau dinikahkan dengan putrinya yang bernama Muthiah atas rekomendasi KH Sanusi yang masih memiliki hubungan sauadara dengan KH Yasir sekaligus guru spiritual KH Yasin. “Waktu itu, Mbah Sanusi ngendiko kepada Mbah Yasir, kalau ingin pesantrenmu besar bawalah pemuda yang bernama Soekandar ke sini. Dia anak yang pintar,” ungkap Drs. KH. Mohammad Afif, M.Ag, cucu KH Yasin Bareng saat acara Bedah Buku “KH.Yasin Bareng, Sang Mujiz Dalailu al-Khoirot dari Nusantara” yang digelar di SMA NU Al-Ma’ruf Kudus, 23 Februari 2019 lalu.
Mendengar yang merekomendasikan adalah KH Sanusi, lanjut Gus Afif –sapaan akrab KH. Mohammad Afif- KH Yasin tidak berani menolak. Apalagi KH Sanusi adalah guru sufinya yang telah memiliki ilmu hikmah. Konon, gurunya tersebut termasuk salah satu kekasih Allah atau yang lebih dikenal dengan waliyullah. Menurutnya, KH Sanusi sangat senang memiliki murid KH Yasin. Begitu juga sebaliknya, KH Yasin sangat bersyukur memiliki guru seperti KH Sanusi. “Hubungan keduanya seperti Mursyid dengan Murid-nya,” terangnya.
Atas dukungan mertua dan gurunya, KH Yasin mulai mengajarkan ilmu agama kepada murid-muridnya. Dari yang awal jumlahnya sedikit kemudian bertambah menjadi banyak. Para santrinya pun banyak yang berdatangan dari luar daerah. Di antara murid-muridnya yang kemudian juga menjadi ulama adalah KH.Muhammadun (Pondohan Pati), KH. Hambali (Kudus), Habib Muhsin (Pemalang), KH.Ma`mun (Kudus), KH. Hanafi (Jekulo Kudus), KH. Ahmad Basyir (Jekulo Kudus), KH Shaleh (Sayung Demak), Habib Ali bin Syihab (Mayong Jepara), Habib Muhammad Al Kaf (Imam Masjid Agung Magelang) dan masih banyak yang lainnya.
“Mbah Yasin adalah sosok yang lurus dan hanya mengelola di pesantren. Pernah suatu ketika beliau mendapat undangan ceramah. Pada saat melangkah, tiba-tiba kakinya tidak dapat digerakan. Setelah dipikir-pikir, ternyata beliau belum meminta ijin kepada gurunya Mbah Sanusi. Pada saat menghadap itulah, beliau tidak diperkenankan keluar dan diminta fokus mengurusi pondok saja,” beber Gus Afif.
Dalam kesehariannya, KH Yasin tidak pernah lepas dari amalan Dalailu al-Khoirot. Amalan tersebut didapatkan dari gurunya, KH Amir Pekalongan yang menjadi menantu KH Sholeh Darat Semarang. KH Amir Pekalongan tercatat sebagai Katib (juru tulis) Syekh Mahfudz At-Termasi, salah satu guru besar di Masjidil Haram. Dari Syekh Mahfudz inilah KH Yasin memiliki sanad keilmuan yang sambung kepada Rasulullah Muhammad SAW melalui sahabat Abdullah bin Umar. Konon, Abdullah bin Umar ini tiap harinya selalu berpuasa sampai 40 tahun.
Gus Afif menambahkan, sebenarnya masih banyak kisah-kisah tentang KH Yasin dengan Dalailu al-Khoirot-nya. Salah satunya pada saat beliau mondok di tempatnya KH Nawawi Sidogiri Pasuruan. Pada saat itu, KH Nawawi kedatangan tamu bos yang terjerat hukum karena difitnah seseorang. Maksud kedatangan bos tersebut untuk minta bantuan KH Nawawi supaya lepas dari hukuman.
“Maka dipanggil lah Mbah Yasin untuk membantunya. pada saat itu Mbah Nawawi bertanya, Yasin kamu punya apa. Kemudian ditunjukkanlah saputangan kusut miliknya. Kepada bos tersebut, Mbah Nawawi ngendiko saat sidang nanti peganglah saputangan tersebut dengan kuat. Insya Allah selamat,” beber Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Kabupaten Kudus itu.
Terang saja, lanjut Gus Afif, akhirnya bos tersebut selamat dari hukuman. Sebagai imbalan, bos itu kemudian mengembalikan saputangan disertai sejumlah uang. Uang tersebut kemudian dipakai untuk berangkat ibadah haji oleh KH Nawawi bersama muridnya, KH Yasin. “Ternyata, pada saat bos tersebut pamit untuk menghadiri pengadilan, Mbah Yasin diminta Mbah Nawawi untuk terus membaca Dalailu al-Khoirot untuk membantu bos tersebut agar selamat,” pungkasnya.
Sementara itu, Gus Amirul Ulum, penulis buku KH.Yasin Bareng, Sang Mujiz Dalailu al-Khoirot dari Nusantara yang juga hadir dalam kesempatan itu mengaku kesulitan untuk melacak sejarah kehidupan KH Yasin. Sebab, KH Yasin tidak banyak terlibat dalam kegiatan masyarakat yang melibatkan banyak pihak. Menurutnya, KH Yasin mengikuti madzhab-nya KH Amir Pekalongan yang kegiatan sehari-harinya adalah ngaji dan wirid.
“Apalagi sumbernya adalah Syekh Mahfudz At-Termasi yang memang tidak suka pergerakan. Berbeda dengan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang kemudian diikuti Mbah Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan Mbah Hasyim Asyari. Beruntung Mbah Hasyim Asyari juga berguru kepada Syekh Mahfudz At-Termasi,” terang penulis yang juga santri dari KH Maimoen Zubair itu.
Oleh karena itu, lanjut Gus Amirul, pendekatan yang dilakukan dalam penulisan buku ini berbeda dengan buku-buku yang pernah ditulisnya. Ia mengaku menggunakan pendekatan tarikh (tahun) yang dikombinasikan dengan metode Al-jawi Al-Makki atau yang lebih akrab disebut metode Jaringan Nusantara-Haramain. “Saya mewancarai langsung ulama-ulama yang ada di Makkah dan bahkan di Singapura yang memiliki keterkaitan langsung dengannya,” tandas pria kelahiran Pati, 25 Maret 1986 ini. (fai)
Subcribe untuk berlangganan artikel selanjutnya.




