• Latest
  • Trending
“Mengapa Islamisme Bukanlah Islam?”

“Mengapa Islamisme Bukanlah Islam?”

July 18, 2019
Sarah Muwahidah

Peneliti Edinburgh Univerisity: Islamofobia Bukan Sekadar Prasangka, tetapi Persoalan Struktural dan Politik Global

November 5, 2026

KHUTBAH: Perilaku Para Penghuni Surga

October 13, 2026
Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

October 10, 2026
Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

September 29, 2026
Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

September 20, 2026
Tuhan dalam genggaman

Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital

September 8, 2026
kebhinekaan

Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

August 18, 2026
Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

August 12, 2026
Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

July 24, 2026
🎵 BUKAN KARENA NAMA 🎵
RAHMATAN NUSANTARA PRODUCTION
Browser Anda tidak mendukung audio player.
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi Tulisan
  • Redaksi
Thursday, November 5, 2026
Rahmatan.Com
  • Beranda
  • KAJIAN
    • All
    • HADIS
    • TAFSIR
    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    kebhinekaan

    Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    kebhinekaan

    Etika Tertinggi Kebhinekaan

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
  • Beranda
  • KAJIAN
    • All
    • HADIS
    • TAFSIR
    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    kebhinekaan

    Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    kebhinekaan

    Etika Tertinggi Kebhinekaan

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
Rahmatan.Com
No Result
View All Result
Cooming Soon!!

“Mengapa Islamisme Bukanlah Islam?”

Redaksi Rahmatan by Redaksi Rahmatan
July 18, 2019
in rehal
“Mengapa Islamisme Bukanlah Islam?”

Mengapa Islamisme bukan Islam

140
SHARES
425
VIEWS
Share on WhatsAppShare on FacebookShare on Twitter
Klik Di Sini

Bagaimana representasi Islam di era globalisasi seperti sekarang ini? Apakah Islam yang berwatak keras yang dipropagandakan oleh—untuk sekadar menyebut contoh kekinian—Islamic State of Iraq Syuriah (ISIS) di Timur Tengah sana? Jika bukan, lantas bagaimana penggunaan simbol dan atribut yang melekat dan secara intens digunakan oleh meraka yang menghadirkan “wajah Islam”?

Lewat buku ini, Bassam Tibi, guru besar emeritus bidang Hubungan Internasional di Universitas Gottingen, Jerman mengajukan polemik mengesankan. Tibi mengelaborasi secara kritis-analitik kecenderungan latah atas penggunaan terma islam dan islamisme ke dalam satu pemahaman. Padahal menurutnya, dua istilah tersebut memiliki intensi berbeda sehingga akan melahirkan pemahaman berbeda pula.

Polemik diskursif yang dipaparkan Bassam Tibi hasil terjemahan dari Islamism and Islam yang diterbitkan Yale University Press pada 2012 ini menyajikan wacana yang menantang. Pria kelahiran Damaskus pada 1944 ini mengawali bukunya dengan bab “Mengapa Islamisme Bukanlah Islam”.

Tibi mengajukan pertanyaan mendasar: apa perbedaan antara Islamisme dan Islam? Ia berargumentasi meski Islamisme berkait dengan tatanan politik—dan bukan persoalan keimanan—namun, Islamisme bukan mencakup politik an sich. Cakupan politiknya adalah “politik yang diagamaisasikan”. Kerangka agamaisasi politik ini yang menjadi titik tolak dan titik pacu pembahasan.
Bassam Tibi tidak menampik terdapat kesamaan di antara kedua istilah Islam dan Islamisme. Islamisme merupakan sebentuk respons politik budaya atas kegagalan pembanguan masyarakat Islam pascakolonial. Kredo utamanya bertumpu pada konsep din-wa-daulah. Konsepsi itu mencanangkan kesatuan antara agama dan negara.

Table of contents

Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

Menyemai Moderasi dalam Bingkai Puisi

Islam dan Pentingnya Literasi

Inspirasi “Kartini” dari Pakistan

Panduan Damai dari Kitab Suci

Ruang bagi Tafsir Kontekstual

Pembedaan antara Islam dan Islamisme, menurut Bassam Tibi (hal 13-14 dan hal 304), akan melahirkan setidaknya tiga kelompok yang akan bersikukuh menolaknya. Kelompok pertama datang dari para Islamis sendiri, yang mana akan menentang gagasan deferensiatif tersebut. Pasalnya, gagasan satu Islam yang mereka usung ditelanjangi secara fulgar. Dengan membiarkan pemisahan Islam dan Islamisme, hajat politik mereka akan semakin jauh panggang dari api. Oleh karenanya, sebisa mungkin diskursus itu ditolak.

Table of Contents

Toggle
  • Table of contents
  • Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi
  • Menyemai Moderasi dalam Bingkai Puisi
  • Islam dan Pentingnya Literasi
  • Inspirasi “Kartini” dari Pakistan
  • Panduan Damai dari Kitab Suci
  • Ruang bagi Tafsir Kontekstual

Kelompok kedua adalah orang-orang di Barat yang keliru mempercayai Islamisme adalah akibat logis dari agama Islam. Golongan ketiga merupakan orang-orang di Barat yang merangkul orang-orang Islamis berlabel “Muslim moderat”. Mereka datang dari berbagai kalangan di Barat dan—secara tidak langsung—membantu “mendukung” argumentasi teologis yang dikemukakan Islamis lewat berbagai macam sanjungan.
Ketiga kelompok tersebut dinilai tidak mampu secara jernih memahami apa sebenarnya Islamisme. Kerancuan dalam mengulik arti mendasar dari islamisme menjadikan diskursus ini menemui jalan rancu.

Bagi kalangan Islamis, tujuan utama dari gagasan mereka adalah mengubah tatanan dunia. Ambisi tersebut dicita-citakan karena mereka menilai tatanan dunia yang ada sekarang ini tidak ideal. Perdamaian Westphalia 1648, misalnya, bagi mereka dimasukkan dalam kategori sekuler. Sebagai gantinya, mereka menawarkan sebuah tatanan dunia baru yang “sakral”: sesuai konsep daulah Islamiyah dan hakimiyah Allah (pemerintahan Tuhan). Ini merupakan ciri pertama bagi kalangan untuk bisa dikaterikan sebagai kalangan Islamis.

Bassam Tibi menolak pandangan umum Barat yang mengatakan Islamisme (baca: Islam Politik) muncul belakangan, yakni ketika terjadi revolusi Syiah Khomeinis di Iran. Jauh sebelumnya, Tibi merujuk kemunculan Ikhwanul Muslimin pada 1928 sebagai embrio lahirnya apa yang kemudian disebut dengan “Islamisme”.
Sementara itu, ciri kedua untuk mengidentifikasi Islamisme—sekaligus sebagai implikasi dari yang pertama—adalah tentang persepsi adanya persaingan atas tatanan dunia. Bassam Tibi menjabarkan bahwa tengah terjadi dua pertentangan dua arus besar. Tibi menjelaskan bahwa kalangan Islamis menempatkan orang-orang Yahudi sebagai “musuh kosmik”. Dalam konteks pergerakan Ikhwanul Muslimin, yang berdiri pada 1928 memandang dirinya melakukan konfrontasi dengan cara berperang melawan “konspirasi Yahudi”.

Perang kosmik antara Islam dan Yahudi, dalam sejarah versi Islamis, dipandang dimulai ketika pemerintahan pada 622 dibentuk. Orang Yahudi dinilai berperan dalam menentang pendirian negara yang disebut sebagai “negara Islam” pertama di Madinah oleh Nabi Muhammad. Dan kini, Islam dipandang tengah dalam situasi yang hampir sama: yakni dalam kepungan konspirasi Yahudi. Maka, tak heran jika kerap kali muncul wacana yang mempertentangkan di antara keduanya.

Argumentasi menarik dikemukakan oleh Bassam Tibi. Selama ini, fenomena kekerasan atas nama agama kerapkali dihubungkan dengan globalisasi. Dalam era ini, pertukaran informasi dan gagasan semakin riuh-rendah. Globalisasi telah membuka kran perdebatan tak berujung sehingga melahirkan skeptisisme baru.

Namun, bagi Tibi, menyalahkan globalisasi sebagai biang keladi merupakan sebuah kekeliruan. Ia adalah sebentuk upaya defensif untuk memobilisasi gerakan revolusioner. Dalam narasi identitas, islamisme memperuncing konflik identitas dengan identitas yang lain. Menggunakan narasi islamisme yang monolitik memperunyam relasi dengan ide-ide plurasme global dan perdamaian demokratis.

Dalam bab delapan Islamisme dan Totalitarianisme, Bassam Tibi menghentak pembaca dengan menyatakan bahwa Islamisme merupakan sebentuk totalitarianisme baru. Hal tersebut sejalan dengan narasi besar yang sedang dibentuk oleh kalangan Islamis yang tidak mengenal diskursus moderatisme—meskipun mereka mendaku cukup akomodatif. Islam kompatibel dengan demokrasi, sedangkan Islamisme mengkhianatinya dengan cara hidup di dalamnya seperti bungklon: mengingkari demokrasi, tetapi memanfaatkannya untuk meraih tujuannya mewujudkan “Islamisme totaliter”. Apakah Anda setuju?

AHMAD KHOTIM MUZAKKA, Dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan.

Tulisan ini tayang pertama kali di Koran Tempo.

↓ Download PDF

Tags: islamisme

Subcribe untuk berlangganan artikel selanjutnya.

Unsubscribe
Redaksi Rahmatan

Redaksi Rahmatan

Contents hide
1 Table of contents
2 Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi
3 Menyemai Moderasi dalam Bingkai Puisi
4 Islam dan Pentingnya Literasi
5 Inspirasi “Kartini” dari Pakistan
6 Panduan Damai dari Kitab Suci
7 Ruang bagi Tafsir Kontekstual
  • Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

    Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

    166 shares
    Share 66 Tweet 42
  • KHUTBAH: Perilaku Para Penghuni Surga

    35 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

    88 shares
    Share 35 Tweet 22
  • Peneliti Edinburgh Univerisity: Islamofobia Bukan Sekadar Prasangka, tetapi Persoalan Struktural dan Politik Global

    4 shares
    Share 2 Tweet 1
  • Wasiat Kebangsaan Mbah Maimoen Zubair dan Dukone Habib Hasyim

    98 shares
    Share 39 Tweet 25
  • WhatsApp

  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi Tulisan
  • Redaksi

© 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • KAJIAN
  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA

© 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
error: Content is protected !!