• Latest
  • Trending
Menelisik Tiga Agama Abrahamik

Menelisik Tiga Agama Abrahamik

April 4, 2018
Sarah Muwahidah

Peneliti Edinburgh Univerisity: Islamofobia Bukan Sekadar Prasangka, tetapi Persoalan Struktural dan Politik Global

November 5, 2026

KHUTBAH: Perilaku Para Penghuni Surga

October 13, 2026
Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

October 10, 2026
Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

September 29, 2026
Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

September 20, 2026
Tuhan dalam genggaman

Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital

September 8, 2026
kebhinekaan

Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

August 18, 2026
Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

August 12, 2026
Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

July 24, 2026
🎵 BUKAN KARENA NAMA 🎵
RAHMATAN NUSANTARA PRODUCTION
Browser Anda tidak mendukung audio player.
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi Tulisan
  • Redaksi
Thursday, November 5, 2026
Rahmatan.Com
  • Beranda
  • KAJIAN
    • All
    • HADIS
    • TAFSIR
    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    kebhinekaan

    Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    kebhinekaan

    Etika Tertinggi Kebhinekaan

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
  • Beranda
  • KAJIAN
    • All
    • HADIS
    • TAFSIR
    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    kebhinekaan

    Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    kebhinekaan

    Etika Tertinggi Kebhinekaan

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
Rahmatan.Com
No Result
View All Result
Cooming Soon!!

Menelisik Tiga Agama Abrahamik

Redaksi Rahmatan by Redaksi Rahmatan
April 4, 2018
in kajian, rehal
Menelisik Tiga Agama Abrahamik

Doc. Isitimewa

172
SHARES
520
VIEWS
Share on WhatsAppShare on FacebookShare on Twitter
Klik Di Sini

Membahas tiga agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam), Waryono Abdul Ghafur, dosen tafsir UIN Sunan Kalijaga ini menghadirkan diskursus mengesankan ihwal dialektika agama-agama para Nabi ini.

Judul : Persaudaraan Agama-agama, Millah Ibrahim dalam Tafsir Al-Mizan
Penulis : Waryono Abdul Ghofur
Penerbit : Mizan
Tebal : 274 halaman
Terbit : pertama, November 2016

Apa yang dimaksud dengan persaudaraan agama-agama Abrahamik? Bagaimana Yahudi, Kristen, dan Islam menempatkan Ibrahim dalam epistimologi teologisnya? Setidaknya, beberapa pertanyaan itulah yang coba diejawentahkan Waryono dalam buku ini.
Agama Yahudi, Kristen, dan Islam memiliki muara yang sama: Ibrahim. Ibrahim merupakan asal-muasal basis teologis ketiga agama serumpun itu. Yahudi dan Kristen sama-sama datang dari jalur Ya’qub-Ishaq-Ibrahim. Yang membedakan adalah tokohnya. Yahudi dibawa oleh Musa, sedangkan Kristen oleh Isa. Berbeda dengan kedua nya, Islam melalui jalur Ismail-Ibrahim.

Di samping perbedaan di atas, yang membedakan antara Yahudi dan Kristen serta Islam adalah siapa ibu biologis dari Ismail dan Ishaq. Sementara Ishaq lahir dari ibu bangsawan, Sarah; Ismail datang dari seorang budak bernama Hajar.

Akan tetapi, beberapa perbedaan tersebut tidak dapat menafikan bahwa ketiganya memiliki spirit keagamaan yang sama secara teologis. Yakni sama-sama menempatkan Ibrahim sebagai spirit keagamaan, meski dengan penyebutan yang berbeda. Secara berurutan sebutan itu adalah “Bapak Monoteis”, “Bapak Orang Beriman”, dan “hanif yang Muslim” yang dilekatkan pada Yahudi, Kristen, dan Islam.

Buku “Persaudaraan Agama-agama, Millah Ibrahim dalam Tafsir Al-Mizan” sendiri merupakan hasil kajian kitab tafsir al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an karya Thabathaba’i. Thabathaba’i lahir di Desa Shadegan, Provinsi Tibriz. Nama aslinya Muhammad Husein. Gelar Thabathaba’i diberikan oleh sang ayah. Thabathaba’i sendiri adalah julukan salah satu kakeknya, Ibrahim Thabathaba’i bin Ismail al-Dibaji. Ia tergolong berdarah biru karena berasal dari keluarga ulama keturunan Nabi. Thabathaba’i tak hanya dikenal mahir dalam bidang bahasa dan agama, namun juga sintaksis, fikih, ushul fikih, mantiq serta filsafat dan teologi, hal 10-11.

Table of contents

Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

Etika Tertinggi Kebhinekaan

Sebagai salah satu nabi ulul azmi, Ibrahim menempati posisi istimewa dalam diskursus keagamaan bercorak monoteis. Ia dijadikan sebagai contoh, model, dan teladan bagi nabi-nabi setelahnya. Lewat Ibrahim, paham monoteis (bertuhan satu) mulai dikenal dan berkembang hingga pada masa Muhammad. Dalam sejarahnya, Ibrahim lahir dan tumbuh hingga menjadi Nabi di tengah masyarakat yang politeis. Masyarakatnya percaya pada Allah, tetapi sekaligus “menciptakan” tuhan-tuhan baru bagi mereka.

Table of Contents

Toggle
      • Judul : Persaudaraan Agama-agama, Millah Ibrahim dalam Tafsir Al-Mizan Penulis : Waryono Abdul Ghofur Penerbit : Mizan Tebal : 274 halaman Terbit : pertama, November 2016
  • Table of contents
  • Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi
  • Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis
  • Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?
  • Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut
  • Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?
  • Etika Tertinggi Kebhinekaan

Sumbangan penting buku ini adalah ketika meletakkan sekaligus mendiskusikan tiga istilah kunci dalam perdebatan agama-agama. Ketiga istilah tersebut yaitu, millah, din, dan syari’ah. Menurut Thabathaba’i, ketiga kata itu memiliki makna dasar yang sama, al-thariqah (jalan), meski berbeda dalam penggunaan.

Millah—bentuk tunggal dari milal—digunakan bagi pembawa syariat secara umum. Meski tidak ditujukan kepada per individu, kata ini, secara khusus bisa dinisbatkan kepada Ibrahim. Dengan lain kata, Ibrahim adalah perkecualian bagi penggunaan kata ini. Secara singkat bisa dikatakan, millah digunakan untuk menjelaskan pandangan hidup, kepercayaan, perilaku, dan “agama” (hal 43 dan 52). Sama halnya dengan millah, syariah lebih umum dalam penggunaan maknanya dibandingkan kata din. Millah dan Syariah adalah wujud nyata pemahaman keagamaan yang berkesesuaian dengan din. Keduanya adalah contoh konkret dari pemahaman dari din itu sendiri.

Universalitas?
Dalam menjelaskan kalimatun sawa’ yang terdapat dalam QS. Ali Imran [3]: 64, Thabathaba’i menjelaskan bahwa itu merupakan ajaran universal para nabi seperti Nuh, Hud, Shaleh, Ibrahim, Syua’ib, Musa, Isa, hingga Muhammad. Dalam konteks agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam), kalimatun sawa’ menandaskan bahwa terdapat kesamaan universal yang tercantum dalam Al-Qur’an, Taurat, dan Injil, (hal 102-103).
Salah satu contoh kesamaan tersebut tercermin ketika berbicara tentang abnaullah wa ahibbatuhu (anak-anak Tuhan dan para kekasihnya). Bagi Thabathaba’i, ungkapan anak-anak Tuhan bukan dalam artian yang sebenarnya. Namun, itu hanya satu kiasan mengenai keistimewaan golongan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa bunuwwah/bigetisme (paham bahwa Allah memiliki anak) dimaksudkan sebagai ekspresi bentuk kekhususan dan kedekatan atau al-ikhthishash wa al-taqarrub (hal 142). Dengan kata lain, itu hanya satu metafora yang digunakan untuk menggambarkan (hal 144).

Yang dipersoalkan Thabathaba’i, lebih lanjut, bukan pada tuduhan bahwa Yahudi sebagai politeis dengan pernyataan “anak Tuhan”. Namun, Thabathaba’i mempersoalkan klaim mereka yang mengatakan mendapatkan keistimewaan dari Allah. Keistemewaan itu berupa tidak akan mendapat perlakuan buruk, baik di dunia atau akhirat.

Namun, demikian, wacana kalimatun sawa yang coba diangkat dibuku ini cukup problematis. Hal tersebut dikarenakan, meski Waryono terlihat mencoba menyetarakan ketiganya, namun dia tidak bisa memungkiri perbedaan-perbedaan mendasar di antaranya. Hal tersebut tercermin dalam sub-bab “Dampak Kekafiran Yahudi dan Nasrani secara Sosial-Religius”.

Meski demikian, buku ini tetap memberikan sumbangan berharga bagi diskursus lanjutan dari tema agama Abrahamik. Ya, setidaknya menjadi pelengkap buku mutakhir Ibrahim Bapak Semua Agama: Sebuah Rekonstruksi Sejarah Kenabian Ibrahim AS. Sebagaimana Tertuang dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an (2014) terbitan Lentera Hati.

↓ Download PDF

Tags: agama abrahamikbapak monoteismeislamkristenyahudi

Subcribe untuk berlangganan artikel selanjutnya.

Unsubscribe
Redaksi Rahmatan

Redaksi Rahmatan

Contents hide
1 Judul : Persaudaraan Agama-agama, Millah Ibrahim dalam Tafsir Al-Mizan Penulis : Waryono Abdul Ghofur Penerbit : Mizan Tebal : 274 halaman Terbit : pertama, November 2016
2 Table of contents
3 Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi
4 Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis
5 Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?
6 Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut
7 Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?
8 Etika Tertinggi Kebhinekaan
  • Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

    Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

    166 shares
    Share 66 Tweet 42
  • KHUTBAH: Perilaku Para Penghuni Surga

    35 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

    88 shares
    Share 35 Tweet 22
  • Peneliti Edinburgh Univerisity: Islamofobia Bukan Sekadar Prasangka, tetapi Persoalan Struktural dan Politik Global

    4 shares
    Share 2 Tweet 1
  • Wasiat Kebangsaan Mbah Maimoen Zubair dan Dukone Habib Hasyim

    98 shares
    Share 39 Tweet 25
  • WhatsApp

  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi Tulisan
  • Redaksi

© 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • KAJIAN
  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA

© 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
error: Content is protected !!