• Latest
  • Trending
Lockdown, Physical Distancing, dan Kesadaran Warga

Lockdown, Physical Distancing, dan Kesadaran Warga

December 17, 2020
Dari Kevakuman Menuju Pengakuan Internasional, Indonesian Journal of Islamic Law UIN KHAS Jember Tembus Scopus

Dari Kevakuman Menuju Pengakuan Internasional, Indonesian Journal of Islamic Law UIN KHAS Jember Tembus Scopus

November 6, 2026
Sarah Muwahidah

Peneliti Edinburgh Univerisity: Islamofobia Bukan Sekadar Prasangka, tetapi Persoalan Struktural dan Politik Global

November 5, 2026

KHUTBAH: Perilaku Para Penghuni Surga

October 13, 2026
Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

October 10, 2026
Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

September 29, 2026
Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

September 20, 2026
Tuhan dalam genggaman

Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital

September 8, 2026
kebhinekaan

Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

August 18, 2026
Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

August 12, 2026
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi Tulisan
  • Redaksi
Monday, November 9, 2026
Rahmatan.Com
  • Beranda
  • KAJIAN
    • All
    • HADIS
    • TAFSIR
    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    kebhinekaan

    Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    kebhinekaan

    Etika Tertinggi Kebhinekaan

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
  • Beranda
  • KAJIAN
    • All
    • HADIS
    • TAFSIR
    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    kebhinekaan

    Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

    kebhinekaan

    Etika Tertinggi Kebhinekaan

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Kurban dan Kemanusiaan Global

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Jihad Ekologi dan Semangat Pembangunan

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

    Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?

  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
Rahmatan.Com
No Result
View All Result

Lockdown, Physical Distancing, dan Kesadaran Warga

Ahmad Khotim Muzakka by Ahmad Khotim Muzakka
December 17, 2020
in Uncategorized
Lockdown, Physical Distancing, dan Kesadaran Warga

Lockdown, Physical Distancing, dan Kesadaran Warga

237
SHARES
719
VIEWS
Share on WhatsAppShare on FacebookShare on Twitter
Klik Di Sini

Beberapa hari lalu, wacana lockdown di beberapa kota di Indonesia menguat. Hal itu didasari atas, semoga saya tidak salah, atas kepedulian warga. Dimulai dari desa-desa di Yogya, gerakan Lockdown juga sempat menggegerkan desa di mana saya dilahirkan. Di salah satu desa di kecamatan Batangan, Pati.

Saya sendiri menjadi ODP setiba pulang kampung dari Solo, 12 hari lalu. Pasca pengumuman walikota Solo yang menerbitkan status Kejadian Luar Biasa di Solo akibat dari ditemukan satu pasien positif Covid-19, saya sudah ancang-ancang untuk mudik, antara ke Pekalongan atau Pati.

Mungkin, sebagaimana diskusi-diskusi yang terhampar di penjuru Indonesia tentang Corona, keriuhan juga terjadi di desa kami. Begitu, setidaknya yang saya rasakan. Baik ketika ngobrol dengan keluarga yang bercerita tentang hebohnya Covid 19 di televisi ataupun perbincangan di sawah.

Saya tidak tahu tepatnya, di hari keberapa saya di rumah, saat beberapa pemuda di grup WA yang saya ikuti mulai mawas dan bergerak. Saya, yang berstatus ODP, hanya berdiam diri di rumah, menjaga stamina dan lebih berhati-hati. Hal yang lumayan janggal saya lakukan pasca Covid 19 ini adalah setiap kali menjelang makan, saya selalu mencuci tangan dengan sabun; satu hal yang jarang atau bahkan hampir tidak pernah saya lakukan sebagai rutinitas. Di satu sisi, ini menjadi kebiasaan yang positif.

Di luar hiruk-pikuk diskusi di medsos, saya mencermati satu gerakan kultural dari bencana internasional ini. Apa itu? Ya. Sebagaimana yang juga Anda rasakah. Yaitu kepedulian warga, khususnya para pemudanya, untuk menjaga desanya dari bahaya yang datang dari luar. Gerakan kultural itu berupa himbauan-himbauan yang timbul tenggelam di grup WA desa, mulai dari gaya slengean antar pemuda, agak serius, dan tak jarang agak bersitegang dengan orang-orang yang sedang menerima amanah jabatan di tingkat desa.

Table of contents

Rocky Gerung dan Kedunguannya Membahas Islamophobia di Indonesia

Kritik Atas Nalar Agamaisasi Kekerasan

Gerakan Agama Filosofis Pasca Kritik Ortodoksi al-Ghazali

Salam Multikultur, Harmoni Sosial, dan Warisan Gus Dur

Lagu Kebangsaan, Keindonesiaan, dan Tafsir Pancasila

Mempertemukan Agama dan Covid-19 di Masa PPKM Darurat

Kecerewetan warga itu tidak mesti dipandang sebagai sesuatu yang selalu negatif. Justru, pada level tertentu, mesti kita apresiasi sebagai bentuk kepedulian yang berwatak lokal. Maka, tak heran jika kemudian tersiar spanduk-spanduk di penjuru kota tentang himbauan “Lockdown Desa”, “Lockdown RT”, dan balakurawanya.

Table of Contents

Toggle
  • Table of contents
  • Rocky Gerung dan Kedunguannya Membahas Islamophobia di Indonesia
  • Kritik Atas Nalar Agamaisasi Kekerasan
  • Gerakan Agama Filosofis Pasca Kritik Ortodoksi al-Ghazali
  • Salam Multikultur, Harmoni Sosial, dan Warisan Gus Dur
  • Lagu Kebangsaan, Keindonesiaan, dan Tafsir Pancasila
  • Mempertemukan Agama dan Covid-19 di Masa PPKM Darurat

Apa kita perlu cemas dengan kecerewetan semacam itu? Saya kira tidak. Lagi-lagi, saya memandang, kecewetan itu mesti kita duduk-perkarakan sebagaimana mestinya. Tidak hanya sebatas melihat kecerewetan sebagai kecerewetan. Bisa jadi, saya tegaskan sekali lagi, bisa jadi model keceweretan yang tidak kita inginkan itu adalah bukti konkrit kecintaan mereka pada daerahnya, pada desanya, pada kotanya. Bukti riil kecintaan kita pada sesuatu itu. Meskipun, nantinya, hanya akan dibilang, “ah cerewet loe”.

Dua belas hari sudah, saya mendekam dalam kamar sebagai amalan physical distancing, sebagaiman anjuran berbagai ahli. Tirakat nasional ini semoga saja cepat bisa mengakhiri wabah Corona, sehingga bisa mengambil jarak kurva orang yang terpapar dengan kekuatan sistem kesehatan nasional kita.

Saya yang hidup di desa, tentu merasakan perbedaan yang besar dibandingkan dengan mereka yang hidup di perkotaan. Yang mana arus pertemuan antar manusia lebih deras dan lebih intens. Di desa, physical distancing bisa lebih ditekan, dengan syarat warganya memahami betul apa yang sedang dihadapi bersama ini.

Melihat persebaran Covid-19 yang berskala internasional hingga diberi “gelar” oleh WHO sebagai pandemi, kita sebetulnya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menarik kewaspadaan lebih tinggi. Jangan juga menunggu jatuh korban meninggal hingga ribuan, puluhan, atau ratusan ribu untuk menyadari bahwa ini sebuah ancaman. Cukup, bayangkan saja hal tersebut menimpa orang-orang terdekat Anda.

Akhiran, yang kita memang hadapi bukan kobra, atau King Kobra yang nampak, namun sesuatu yang oleh beberapa orang dianggap tidak betul-betul ada. Sulit memang! Yang satu bilang nampak, yang satu bilang tidak. Lho, kok, gini endingnya.

Ahmad Khotim Muzakka
Menjelang Magrib.
Pati, 31-3-2020

↓ Download PDF

Subcribe untuk berlangganan artikel selanjutnya.

Unsubscribe
Ahmad Khotim Muzakka

Ahmad Khotim Muzakka

Khadim dan Direktur Rahmatan Nusantara Initiative. Pengajar di Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UIN K.H. Abdurrahman Wahid, Pekalongan.

Contents hide
1 Table of contents
2 Rocky Gerung dan Kedunguannya Membahas Islamophobia di Indonesia
3 Kritik Atas Nalar Agamaisasi Kekerasan
4 Gerakan Agama Filosofis Pasca Kritik Ortodoksi al-Ghazali
5 Salam Multikultur, Harmoni Sosial, dan Warisan Gus Dur
6 Lagu Kebangsaan, Keindonesiaan, dan Tafsir Pancasila
7 Mempertemukan Agama dan Covid-19 di Masa PPKM Darurat
  • Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

    Dari Konservatisme ke Wasaṭī: Membaca Yasir Qadhi

    175 shares
    Share 70 Tweet 44
  • Dari Kevakuman Menuju Pengakuan Internasional, Indonesian Journal of Islamic Law UIN KHAS Jember Tembus Scopus

    12 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Peneliti Edinburgh Univerisity: Islamofobia Bukan Sekadar Prasangka, tetapi Persoalan Struktural dan Politik Global

    10 shares
    Share 4 Tweet 3
  • KHUTBAH: Perilaku Para Penghuni Surga

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
  • Kapitalisme Agama di Ruang Digital, Mungkinkah?

    88 shares
    Share 35 Tweet 22
  • WhatsApp

  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi Tulisan
  • Redaksi

© 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • KAJIAN
  • TAFSIR
  • HADIS
  • HUKUM
  • TASAWUF
  • BUDAYA
  • KHUTBAH
  • REHAL
  • BERITA

© 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
error: Content is protected !!