Nilai-nilai keislaman berkembang di era disrupsi dan arus informasi yang cepat. Dalam syariat Islam, “hijrah” adalah istilah yang mengacu pada perpindahan dari tanah kufur ke tanah Islam untuk mencapai keselamatan tauhid. Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah, yang menjadi dasar kalender hijriyah, sangat terkait dengan istilah ini. Saat ini, tren hijrah semakin meluas. Di era digital, transformasi identitas Muslim milenial melalui hijrah tidak hanya mencerminkan pencarian spiritual, tetapi juga mengindikasikan perubahan dalam cara pandang, interaksi sosial, dan bahkan gaya hidup.
Transformasi identitas muslim milenial melalui hijrah dapat dipahami melalui teori identitas sosial yang dikembangkan oleh Henri Tajfel. Menurut Tajfel, sebagaimana yang ditulis oleh Annisa Zahra, dkk pada Jurnal Sosial Dan Budaya yang berjudul Kearifan Lokal Hasan Bahasyuan Institute dalam Mempertahankan Karya Maestro dan Warisan Budaya, (2024), identitas sosial terbentuk melalui interaksi individu dengan kelompok sosialnya. Dalam konteks hijrah, milenial yang beralih dari gaya hidup sekuler ke gaya hidup Islami sering kali merasakan perubahan dalam identitas mereka. Mereka tidak hanya berusaha memenuhi tuntutan agama, tetapi juga mencari pengakuan dan validasi dari komunitas muslim yang lebih luas. Di era digital, media sosial menjadi alat yang sangat efektif untuk membangun dan mengekspresikan identitas baru ini.
Milenial, yang umumnya didefinisikan sebagai mereka yang lahir antara awal 1980-an hingga pertengahan 1990-an, hidup dalam lingkungan yang kaya akan informasi dan teknologi. Internet dan media sosial telah menciptakan ruang baru bagi mereka untuk mengekspresikan diri, berbagi pengalaman, dan membentuk identitas. Hijrah menjadi salah satu cara bagi milenial untuk menemukan identitas mereka di tengah arus informasi yang begitu deras. Banyak dari mereka yang merasa kehilangan arah dan mencari makna dalam hidup mereka, sehingga hijrah menjadi pilihan untuk memperkuat identitas muslim mereka. Selain itu, tren hijrah di kalangan milenial sering kali dipicu oleh keresahan terhadap gaya hidup yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam. Banyak milenial merasa terasing dalam masyarakat yang materialistis dan sekuler, sehingga mereka mencari makna dan tujuan hidup yang lebih dalam. Proses hijrah ini dapat bervariasi, mulai dari perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari, seperti mengenakan pakaian yang lebih syar’i, hingga perubahan besar dalam cara pandang hidup, seperti meninggalkan pekerjaan yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip agama.
Dalam perspektif sosiologi keadaan ini menjelaskan bahwa identitas individu terbentuk melalui interaksi sosial. Identitas muslim milenial tidaklah statis, ia terbentuk melalui interaksi dengan berbagai kelompok sosial, baik yang sejalan maupun yang berbeda. Proses hijrah dapat dilihat sebagai bentuk pencarian identitas yang lebih autentik dan sesuai dengan nilai-nilai agama. Komunitas hijrah yang muncul di media sosial berfungsi sebagai ruang interaksi yang memungkinkan individu untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan dukungan. Selain itu, media sosial juga berperan sebagai alat untuk membentuk identitas. Platform seperti Instagram, YouTube, dan TikTok memungkinkan milenial untuk membagikan perjalanan hijrah mereka secara luas, menciptakan tren yang dapat menginspirasi orang lain. Narasi yang dibagikan di media sosial sering kali menekankan nilai-nilai positif dari hijrah, seperti ketenangan, kebahagiaan, dan kedamaian, sehingga mendorong lebih banyak orang untuk melakukan perubahan serupa.
Dari perspektif antropologi, transformasi identitas mMuslim milenial dapat dipahami sebagai perubahan budaya yang melibatkan nilai-nilai, simbol, dan praktik keagamaan. Proses hijrah tidak hanya sekadar mengubah perilaku individu, tetapi juga menciptakan perubahan dalam budaya kolektif komunitas muslim milenial. Hijrah menjadi simbol perjuangan untuk menegakkan identitas islam yang lebih kuat di tengah arus globalisasi yang semakin menguatkan nilai-nilai sekuler. Milenial sering kali mencari cara baru dalam menjalankan praktik keagamaan yang lebih relevan dengan konteks modern. Misalnya, praktik berjilbab yang sebelumnya dianggap tradisional, kini banyak diterima sebagai bagian dari fashion dan gaya hidup. Fenomena ini menunjukkan bahwa milenial mampu mengadopsi nilai-nilai islam sambil tetap mempertahankan keunikan dan kreativitas dalam cara berpakaian dan berinteraksi.
Di era globalisasi, hijrah juga dapat dilihat sebagai respons terhadap fenomena keterhubungan yang semakin meningkat. Milenial yang menjalani hijrah tidak hanya terbatas pada konteks lokal, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan global yang lebih luas. Meskipun tren hijrah memberikan banyak manfaat, M Muzayyinul Wathoni (2023) dalam Transformasi Gerakan Pemuda Hijrah; Dampak Teknologi Dan Globalisasi Dalam Perluasan Dari Lokal Menuju Nasional menjelaskan bahwa ada tantangan dan kontroversi yang muncul. Salah satu tantangan utama adalah konflik identitas yang dialami oleh beberapa milenial. Mereka sering kali merasa terjepit antara tuntutan untuk menjalani kehidupan yang Islami dan ekspektasi dari lingkungan sosial yang lebih luas. Selain itu, kontroversi mengenai representasi hijrah di media sosial. Beberapa kritik menyebutkan bahwa hijrah sering kali dipersepsikan sebagai tren superficial yang lebih mengutamakan penampilan daripada substansi. Ini dapat memicu perdebatan tentang sejauh mana hijrah benar-benar mencerminkan perubahan spiritual yang mendalam versus sekadar gaya hidup. Oleh karena itu, penting bagi individu yang menjalani hijrah untuk tetap introspektif dan memahami makna dari perubahan yang mereka lakukan.
Tren hijrah di kalangan muslim milenial merupakan fenomena kompleks yang mencerminkan transformasi identitas dalam konteks sosial dan budaya yang lebih luas. Dengan memanfaatkan media sosial dan platform digital, mereka mampu membangun identitas baru yang mencerminkan nilai-nilai Islam sekaligus tetap relevan dengan perkembangan zaman. Meskipun terdapat tantangan dan kontroversi, perjalanan hijrah ini memberikan peluang bagi milenial untuk mengeksplorasi dan meneguhkan identitas mereka sebagai Muslim yang modern. Dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks, hijrah dapat menjadi jalan untuk menghubungkan antara nilai-nilai spiritual dan realitas kehidupan sehari-hari, sehingga menciptakan generasi Muslim yang tidak hanya taat beragama, tetapi juga mampu berkontribusi secara positif bagi masyarakat. Dengan demikian, pemahaman yang mendalam tentang fenomena hijrah ini penting, tidak hanya untuk mendukung individu dalam perjalanan spiritual mereka, tetapi juga untuk memperkuat komunitas Muslim secara keseluruhan di era digital yang terus berubah.
Syakira Arifia, mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.
Subcribe untuk berlangganan artikel selanjutnya.




