Ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri. Jika shalat memang mencegah keji dan mungkar, mengapa mengapa masih begitu banyak orang melakukan kemungkaran? Begitu banyak orang yang rajin ke masjid lima kali sehari, tetapi lisannya masih tajam menggunjing orang lain. Tangannya masih ringan memanipulasi laporan pekerjaan. Hatinya masih mudah dengki melihat rezeki tetangga?
Ayat ke-45 Surah Al-Ankabut mungkin salah satu ayat yang paling akrab di telinga umat Islam. Shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Kalimat itu terpampang di spanduk masjid, diulang di mimbar Jumat, dan sesekali muncul di status media sosial jelang waktu azan.
Pertanyaan semacam ini bukan dimaksudkan untuk meragukan kebenaran firman Allah. Al-Qur’an tidak pernah keliru. Yang sesungguhnya perlu dipertanyakan adalah cara kita memahami dan menunaikan shalat itu sendiri. Sebab boleh jadi selama ini kita lebih sibuk memastikan gerakan shalat sudah benar secara fikih. Akan tetapi lupa memeriksa apakah maknanya sudah sampai ke hati.
Ada celah yang kerap tidak kita sadari. Yakni shalat sebagai rangkaian gerakan yang usai dalam hitungan menit, dengan shalat sebagai hubungan yang mestinya mengubah cara kita memandang dan menjalani hidup jauh di luar sajadah.
Antara Gerakan dan Makna
Sejak lama para ulama tafsir mengingatkan bahwa janji dalam ayat ini bukan sesuatu yang berlaku otomatis begitu selesai mengerjakan shalat. Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim menegaskan yang dimaksud adalah shalat yang ditunaikan dengan memenuhi rukun, syarat, sekaligus kekhusyukannya secara utuh, bukan sekadar gerakan yang dikebut di sela kesibukan.
Sementara Fakhruddin Ar-Razi bahkan menyatakan lebih tegas lagi. Dalam Mafatih al-Ghaib, yang juga dikenal sebagai At-Tafsir Al-Kabir, dijelaskan bahwa jika seseorang rutin shalat namun perilakunya tidak kunjung membaik, maka yang perlu dikoreksi adalah kualitas shalatnya, bukan ayat yang menjelaskan fungsinya.
Dengan kata lain, hubungan antara shalat dan pencegahan dari perbuatan keji bersifat proporsional, bukan sekali jadi. Semakin hadir hati seseorang dalam shalatnya, semakin ia memahami apa yang ia baca dan ucapkan. Maka, semakin besar pula daya cegah shalat itu terhadap dorongan berbuat buruk. Sebaliknya, shalat yang ditunaikan hanya untuk menggugurkan kewajiban, dengan pikiran masih melayang ke urusan dunia, wajar bila pengaruhnya terhadap perilaku sehari-hari pun tipis.
Prinsip ini sebenarnya berlaku pada banyak ibadah lain. Puasa yang dikerjakan asal menahan lapar dan haus, tanpa menahan lisan dari dusta, juga tidak banyak mengubah akhlak seseorang. Shalat pun demikian, ia hanya akan berbuah sejauh kualitas kehadiran hati yang menyertainya.
Ukuran yang Sering Terlewat
Di titik inilah pertanyaan reflektif menjadi penting untuk terus kita ajukan. Sudahkah shalat kita benar-benar menjadi jeda yang menyadarkan, atau baru sebatas rutinitas yang kita jalani karena takut disebut lalai?
Sudahkah kita merasakan perbedaan antara diri sebelum dan sesudah shalat? Atau kita justru keluar dari sajadah dengan hati yang sama seperti saat memulainya, masih penuh gerutu, masih menyimpan rencana yang tidak jujur, masih menghitung untung rugi tanpa peduli orang lain.
Padahal, Islam mengenal khusyuk bukan sebagai pelengkap yang boleh ada atau tiada dalam shalat, melainkan sebagai ruhnya. Ketika seseorang benar-benar menghadirkan hati saat mengucapkan “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in“, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan, mestinya tumbuh kesadaran bahwa ada yang senantiasa mengawasi setiap langkahnya, jauh melampaui salam terakhir yang ia ucapkan.
Kesadaran semacam inilah yang berfungsi sebagai rem alami, menahan dorongan untuk berbuat curang, bergunjing, atau menyakiti sesama.
Baca juga: Menggugat Mitos Superioritas Nasab
Ketika Ayat Dipakai untuk Menghakimi
Sayangnya, ayat ini tidak jarang dipakai secara terbalik. Ia lebih sering dijadikan alat untuk menilai orang lain yang perilakunya belum tertata meski rajin shalat, ketimbang dijadikan cermin untuk introspeksi diri sendiri.
Padahal fungsi utamanya justru sebaliknya. Ayat ini pertama-tama ditujukan kepada setiap orang yang mengerjakan shalat, termasuk penulis sendiri, untuk terus bertanya sejauh mana shalat yang ditunaikan hari ini benar-benar membekas dalam cara berbicara, bekerja, dan memperlakukan sesama.
Ada baiknya sesekali, selepas shalat, kita berhenti sejenak dan bertanya jujur pada diri sendiri. Apakah shalat lima waktu yang saya kerjakan hari ini membuat saya lebih menjaga lisan? Apakah ia membuat saya lebih jujur dalam pekerjaan, lebih sabar menghadapi keluarga, lebih ringan memaafkan orang yang menyakiti hati saya?
Jika jawabannya belum, itu bukan tanda bahwa ayat Al-Ankabut keliru, melainkan tanda bahwa masih ada ruang perbaikan dalam kualitas shalat kita, sebuah proses yang tidak pernah selesai sekali jadi, melainkan diperjuangkan seumur hidup.
Shalat Bukan Formalitas
Shalat memang mencegah perbuatan keji dan mungkar, tetapi hal tersebut berlaku jika shalat yang ditunaikan dengan kehadiran hati, bukan yang dikerjakan sekadar sebagai formalitas belaka.
Oleh karen itu, tidak sepatutnya terus mempertanyakan mengapa orang lain belum berubah meski rajin shalat. Justru pertanyaan serupa lebih layak kita ajukan setiap kali selesai mengucap salam adalah ditujukan kepada diri sendiri. Bukan pertanyaan yang sekali dijawab lalu selesai, melainkan pertanyaan yang perlu terus diulang, sebab kualitas hati dalam shalat kita hari ini belum tentu sama dengan hari sebelumnya.
Akhir kata, tidak ada rumus instan untuk sampai pada shalat yang benar-benar mencegah dari keji dan mungkar. Yang ada hanyalah kesungguhan yang diulang setiap hari, shalat demi shalat, sambil terus belajar menghadirkan hati sedikit lebih lama dari hari kemarin. Barangkali justru dari kesadaran bahwa kita belum sempurna itulah perbaikan sesungguhnya dimulai. Sudahkah shalat saya hari ini benar-benar mencegah saya dari perbuatan keji dan mungkar? Wallahu a’lam.
Baca juga: Daya Saing Pembiayaan Bagi Hasil dalam Perspektif Equivalent Rate dan Suku Bunga
Subcribe untuk berlangganan artikel selanjutnya.





