🎵 BUKAN KARENA NAMA 🎵
RAHMATAN NUSANTARA PRODUCTION
Browser Anda tidak mendukung audio player.
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Tentang
  • Kontribusi Tulisan
  • Redaksi
الإثنين, سبتمبر 28, 2026
Rahmatan.Com
  • Beranda
  • KOLOM
  • KAJIAN
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
  • Beranda
  • KOLOM
  • KAJIAN
  • REHAL
  • BERITA
No Result
View All Result
Rahmatan.Com
No Result
View All Result
Cooming Soon!!

Gagasan Alternatif Memahami Ayat-Ayat Polemik al-Qur’an ala Mun’im Sirry

Redaksi Rahmatan by Redaksi Rahmatan
أبريل 4, 2018
in kajian
Gagasan Alternatif Memahami Ayat-Ayat Polemik al-Qur’an ala Mun’im Sirry

mirfatehalishah.com

262
SHARES
793
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan!

Semua bermula ketika saya pertama kali menjumpai naskah terjemahan disertasi Mun’im Sirry berjudul “Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformasi atas Kritik al-Qur’an terhadap Agama Lain” (Gramedia, 2013) saat sedang menyelesaikan tesis magister di UIN Sunan Kalijaga. Menelaah naskah disertasi tersebut hingga hampir tuntas membuat saya sadar satu hal: inilah jawaban yang saya butuhkan dari banyak hal yang mengganjal dalam benak saya selama ini, yaitu statemen kontroversial ayat-ayat al Qur’an.

Muslim manapun yang terdidik secara tradisional akan sangat terkejut hanya setelah melangkahkan niat untuk makin kritis terhadap fakta dan gagasan yang kontradiktif di balik ayat-ayat al-Qur’an. Di satu sisi mereka belajar kasih sayang sebagaimana Rasulullah mentradisikannya dalam Sunnah sehari-hari. Namun di beberapa titik di mana mereka menelaah ayat-ayat di al-Qur’an justru terdorong untuk merasa superior dan jumawa atas umat pemeluk agama lain. Perilaku tersebut jauh dari citra sosok penuh kasih sayang kepada pihak lain. Lantas, bagaimana mungkin sama-sama menelaah al-Qur’an namun yang terjadi justru kontradiksi tegas?

Artikel lain

Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?

Etika Tertinggi Kebhinekaan

Kurban dan Kemanusiaan Global

Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim

Benturan gagasan al-Qur’an itu, secara spesifik dengan agama lain, coba dijawab oleh Mun’im Sirry. Ayat-ayat al-Qur’an yang berbenturan langsung dengan tradisi Kristen dan Yahudi diulas dengan menghadirkan pontesi kemungkinan makna dan arah yang sarjana tradisionalis jarang singgung.

Misalnya, pada (1) empat kali penyebutan kata yuharrifuun (mengubah) di al-Qur’an yang seolah mengkonfirmasi tuduhan kepada Yahudi mengubah kitab suci yang mereka terima, dan pada (2) persoalan Trinitas yang disinggung QS 5:73 dan dianggap mewakili sikap penolakan Islam terhadap ajaran Kristen. Sementara di sisi dan tempat yang berlainan, gagasan moderat Kalimatun Sawaa’ pada QS 3:64 yang berisi ajakan kepada Ahlul Kitaab untuk menyembah Tuhan tanpa mempersekutukan, juga statemen konfirmasi (mushaddiq) dalam diri al-Quran atas kitab suci yang turun sebelumnya, justru sangat berlainan pesannya dari gagasan bernuansa ‘serangan teologis’ di atas. Di tangan Mun’im, ayat-ayat kontradiktif seolah dipertanyakan kembali dan dicoba kaitkan dengan ayat lain yang relevan, berikut diulas secara mendalam.

Mengenai tuduhan kepada Yahudi yang dianggap menyimpangkan isi kitab suci, Mun’im merujuk ke tafsir Mahaasin al-Ta’wiil karya Jamaaluddiin al-Qaasimii. Kata yuharrifun (di empat tempat : QS 2:75, 4:46, 5:13, dan 5:41) oleh al-Qaasimii dipahami dengan, “mereka berpaling dari makna yang sebenarnya kepada makna lain”. Tidak ada kesan meyimpangkan dalam bentuk merubah isi teks kitab suci, melainkan ‘hanya’ tafsir atas kitab sucinya saja yang menyimpang. Argumen ini dikuatkan dengan sebuah hadis yang merekam interaksi Nabi Muhammad dengan sahabatnya yang menaruh perhatian pada Taurat. Mengaku di hadapan Nabi bahwa ia membaca al-Qur’an dan Taurat sekaligus, Nabi menyarankan untuk membacanya bergiliran, “Iqra’ haadzaa laylatan wa haadzaa laylatan.” “Baca ini (al-Qur’an) satu malam dan ini (Taurat) malam (lainnya).” Hadis ini, andai benar adanya, menurut al-Haafidz Syamsuddiin al-Dzahabii adalah keringanan (rukhshah) dari Nabi bagi siapapun yang berkenan membaca Taurat dan memahami kandungannya.

Beralih ke Kristen, di saat QS 5:73 mengarah kepada penolakan Trinitas (satu tuhan dalam tiga), ayat QS 5:116 dimunculkan karena memiliki gagasan yang beda dari Trinitas, yaitu Triteisme (tiga tuhan). Ada kesan ambigu apakah yang disasar al-Qur’an itu Trinitas atau justru Triteisme. Lontaran gagasan Triteisme sengaja dilakukan karena ada fakta sejarah yang merekam keberadaan sekte Penyembah Maryam yang tersebar di Semenanjung Arab sekitar abad empat masehi. Sekte ini disebut Collyridian, ditandai dengan membagi-bagikan roti sebagai persembahan atas nama Maryam. Belum lagi jika kita perhatikan detail dari kata tsaalitsu tsalaatsah pada QS 5:73, semestinya implikasi maknanya adalah bahwa Allah sebagai ‘(oknum) yang ketiga di antara tiga’. Lalu siapakah pertama dan kedua di antara tiga? Bukan tidak mungkin jawaban mengarah kepada penegasan Triteisme yang dikandung QS 5:116 dan di saat bersamaan menolak Trinitas sebagai pokok bahasannya.

Adanya gagasan alternatif di tengah narasi besar mainstream bukan ditujukan untuk face-to-face mematahkan apa yang menjadi inti pesan al-Qur’an, melainkan membuatnya semakin berwarna dari sisi tafsiran dan keterangan kesejarahan yang mengelilinginya. Diakui atau tidak, sumber sejarahpun tidak selalu menyuarakan fakta sejarah (the history as it is), terkadang mereka hadir sebagai sejarah keselamatan (salvation history) yang sangat teologis dan menjauh dari fakta sesungguhnya. Wallahu a’lam.

 

Sumber Bacaan:

  1. Jamaaluddin al-Qaasimii, Mahaasin al-Ta’wiil. Beirut: Daar al-Fikr, 2005), Vol. 1.
  2. Mun’im Sirry, Polemik Kitab Suci : Tafsir Reformasi atas Kritik al-Qur’an terhadap Agama Lain. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2013.
  3. Walid A. Saleh, In Defense of The Bible: A Critical Edition and An Introduction to al-Biqa’i’s Bible Treatise. Leiden: Brill, 2008.

Ahmadi Fathurrohman Dardiri, Mengajar di Fakultas Syari’ah IAIN Surakarta

Facebook Comments

↓ Download PDF

Tags: al-quranayat-ayat kontroversimun'in sirry

Subcribe untuk berlangganan artikel selanjutnya.

Unsubscribe
Redaksi Rahmatan

Redaksi Rahmatan

About Author

Contents hide
1 Artikel lain
2 Takdir: Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih?
3 Etika Tertinggi Kebhinekaan
4 Kurban dan Kemanusiaan Global
5 Childfree: Dilema Modernitas Keluarga Muslim
  • Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    Meneropong Masa Depan Ilmu Hadis

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Salam Multikultur, Harmoni Sosial, dan Warisan Gus Dur

    305 shares
    Share 122 Tweet 76
  • Tuhan dalam Genggaman Modernitas Digital

    40 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Agar Shalat Lebih Bermakna, Tafsir Al-Ankabut

    61 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Kapan Moderasi Beragama Menjadi Kematangan Keberagamaan?

    65 shares
    Share 26 Tweet 16
  • WhatsApp

    • PEDOMAN MEDIA SIBER
    • Tentang
    • Kontribusi Tulisan
    • Redaksi

    © 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • KOLOM
    • KAJIAN
    • REHAL
    • BERITA

    © 2018 Rahmatan.Com - Menebar Islam Rahmah Rahmatan Nusantara Initiative.

    Login to your account below

    Forgotten Password? Sign Up

    Fill the forms bellow to register

    All fields are required. Log In

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    error: Content is protected !!
    Arabic
    English