← Kembali

Menyemai Moderasi dalam Bingkai Puisi

Penulis: Abdul MukhlisDiterbitkan: December 24, 2020Kategori: rehal, UncategorizedTag: moderasi, rahmatan
Abdul Mukhlis
Tentang Penulis
Abdul Mukhlis

lahir di Batang pada Oktober 1991. Penggemar buku dan pengajar di IAIN Pekalongan. Karyanya pernah tersiar di Radar Pekalongan, cintapekalongan.com, Majalah Komunitas Sastra Papirus Solo, Penerbit IDM Press, Oase Pustaka dan Bukutujju.

“Kita mungkin lahir dalam negara dengan penganut Islam, kau ini menuhankan Tuhan atau Agama?”

Nukilan kalimat tersebut bukanlah sebuah teori dalam bidang teologi atau kutipan dari buku-buku bernuansa religi, melainkan sebuah pembuka dalam antologi puisi yang bertajuk Rahmatan Lil Alamin. Perlu kita akui, pembicaraan yang memfokuskan bahasan terhadap Islam selalu sukses menyeret minat orang kebanyakan. Ibarat oase di tengah kepungan modernitas, Islam menjadi penawar pikiran-pikiran yang kering. Posisinya sangat strategis jika didekati dari sudut pandang disiplin yang beragam.

Secara historis, Islam berkembang demikian pesat sejak disiarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Boleh dibilang seluruh belahan dunia telah tersentuh dengan kaul suci yang ditebarnya. Berpatok pada hal itu, tentu banyak sebab yang melatari lajunya perkembangan Islam, salah satunya adalah wacana Rahmatan Lil Alamin. Wacana itulah yang kini menjadi mainstreaming pada forum lepas maupun formal di Indonesia, pun dalam antologi ini.

Antologi puisi yang digagas oleh Komunitas Santri Batang ini mencoba memberi “warna” berbeda atas ramainya pembicaraan wacana tersebut. Total tercantum 45 buah puisi yang ditulis oleh 26 penyair dengan berlatarbelakang santri. Mereka, para penyair, secara kompak mengekspresikan keresahan terhadap perilaku radikalisme dan krisis toleransi yang seolah tak pernah angkat kaki dari bumi pertiwi.

Isu agama dan negara, perbedaan, juga kampanye perdamaian adalah 3 kecenderungan pecahan tema, meskipun muaranya tak jauh-jauh dari benang merah Rahmatan Lil Alamin. Misalnya, pada puisi “Negeri Kami Bukan Negeri Thaghut”, halaman 6. Larik sekaligus judul puisi ini, telah secara gamblang memberi gambaran atas sikap beragama dan bernegara masyarakat Indonesia yang selalu menunjung tinggi nilai-nilai wasathiyah. Bahkan larik tersebut direpetisi sebanyak 3 kali sebagai bentuk penegasan. Artinya, orang Indonesia adalah manusia ideal yang akrab dengan sikap moderat dan inklusivitas.

Sikap dan nilai itulah yang minim dimiliki oleh saudara-saudara lain di kubu sebelah (baca: ekstrem kanan). Kubu ekstrem kanan, dengan pongahnya sering mengolok-olok sistem kenegaraan yang saat ini berlaku di Indonesia. Bahkan sampai pula pada perbuatan memaki-maki ibadah amaliah kelompok lain di luar kelompok mereka. Singkatnya, kelompok itu tidak setuju dengan jalan yang ditempuh oleh bangsa kita, baik dalam konteks beragama juga bernegara.

            Lain lagi dengan puisi berjudul “Berbeda Tapi Sama” di halaman 27. Puisi ini termasuk dalam kategori tema perbedaan. Dalam puisinya, penyair punya misi mengajak pembaca untuk mensyukuri kemajemukan; suatu hal yang kini langka ditemukan pada diri manusia-manusia beragama. Karena memiliki hidden mission berupa ajakan, dengan cerdik penyair menyelipkan gaya persuasif yang disampaikan secara bias melalui larik berikut, “Di balik perbedaan muncul setumpuk warisan untuk bersama”. Ajakan yang implisit pada larik itu, tentu ditujukan kepada seluruh umat beragama di Indonesia agar mampu keluar dari kungkungan intrik tak berkesudahan menuju peradaban yang benar-benar pure madani. Bukankah menurut kalam yang telah beredar, perbedaan adalah wujud belas kasih Tuhan sekaligus ketetapan?

            Terakhir, poin kampanye perdamaian begitu dominan diekspresikan oleh para penyair. Salah satunya dalam puisi “Islam Rahmatan Lil Alamin”, halaman 53. Wajah perdamaian diungkapkan penyair dengan lirik yang memuat citraan intelektual. Mari cermati kutipan larik ini, “Islam rahmatan lil alamin: melindungi satu manusia seperti menghidupkan segalanya”.

Larik tersebut sebenarnya sangat sederhana konstruksinya. Namun demikian, tidak sembarang orang mampu menggali makna dan menafsirkannya menjadi hasil pembacaan yang lapang. Begitulah prinsip yang berlaku pada citraan intelektual: menguras pikiran untuk menghasilkan asosiasi-asosiasi yang mapan. Sebab itu, tidak berlebihan rasanya jika pembaca nantinya akan banyak disuguhi dengan citraan intelektual dalam puisi-puisi yang mengetengahkan keguyuban ini.

Antologi puisi Rahmatan Lil Alamin ini hadir sebagai wujud syukur para penyair dalam merayakan moderasi dan perbedaan. Barangkali pula puisi-puisi yang tersaji, ditulis sebagai refleksi intelektual dan spiritual atas pengalaman pembaca atau bahkan oleh penyair itu sendiri. Pada akhirnya, setelah khatam mendaras antologi mungil ini, kita akan paham bahwa berekspresi lewat puisi adalah alternatif melawan kemungkaran tanpa perlu menyulut api pertikaian.

Judul               : Rahmatan Lil Alamin

Penulis             : Komunitas Santri Batang

Penerbit           : Oase Pustaka

Cetakan           : I, Juni 2020

ISBN               : 978-602-457-446-8

Punya Naskah Buku?
Terbitkan Buku Anda Bersama Penerbit Rahmatan
Kami membantu penulis, akademisi, dan komunitas menerbitkan naskah menjadi buku.
ISBN • Editing • Layout • Cover • Penerbitan
Hubungi Penerbit Rahmatan
Ingin Tulisan Anda Dibaca Publik?
Ikuti Pelatihan Menulis Rahmatan
Belajar mengembangkan gagasan menjadi tulisan yang siap dipublikasikan di media.
Pelatihan • Praktik Menulis • Feedback • Publikasi
Lihat Pelatihan Menulis
Dukung Kampanye Literasi Rahmatan
Dukung Keberlangsungan Literasi Rahmatan
Dukung keberlangsungan literasi Rahmatan dengan donasi terbaik Anda.
Rahmatan Nusantara Initiative • Gerakan Literasi
BRI • 2028-01-001038567 • a/n Rahmatan Nusantara Initiative
Tentang Rahmatan
Rahmatan adalah sebuah situs diniatkan untuk menyebarluaskan gagasan yang mengampayekan gagasan Islam Ramah, mempribumisasikan Islam dan menggagas moderatisme Islam serta mendukung tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Narasi semacam ini dirasa penting untuk meneguhkan Islam sebagai rahmatan Lil 'Alamin, bukan hanya pada pemeluknya. Menyajikan beragam artikel keislaman, opini, khutbah, resensi, feature, tafsir ayat, di bawah naungan Rahmatan Nusantara Initiative, rahmatan.com hadir sebagai rujukan literasi keagamaan yang mencerdaskan bagi masyarakat luas.