{"id":819,"date":"2019-06-01T15:31:51","date_gmt":"2019-06-01T08:31:51","guid":{"rendered":"https:\/\/rahmatan.com\/?p=819"},"modified":"2019-06-29T15:48:02","modified_gmt":"2019-06-29T08:48:02","slug":"pancasila-sebuah-mozaik-dari-solo-untuk-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/pancasila-sebuah-mozaik-dari-solo-untuk-indonesia\/","title":{"rendered":"Pancasila, Sebuah Mozaik dari Solo untuk Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Buku\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201cI Come from Pancasila Family\u201d: A Discursive Study on Muslim-Christian Identity Transformation in Indonesia Post-Reformasi Era<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; :\nSuhadi<\/p>\n\n\n\n<p>Penerbit&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Lit\nVerlag, Zurich<\/p>\n\n\n\n<p>Terbit&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; :\npertama, 2014<\/p>\n\n\n\n<p>Tebal&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; :\n241 halaman<\/p>\n\n\n\n<p>Wacana mengenai\nPancasila terus mengecambah. Dari hari ke hari, perbincangan peran penting\nPancasila tidak lekang ditelan zaman. Relevansinya mengokohkan fondasi kewarganegaraan\npun selalu mendapatkan tantangan. Buku bertajuk seksi <em>I Come from Pancasila\nFamily<\/em> ini mendedahkan bagaimana dinamika hidup masyarakat di akar rumput. <\/p>\n\n\n\n<p>Suhadi, penulis\nyang menyelesaikan program doktoral di Rodboud University Nijmegen, Belanda ini\nmenyajikan analisa menggelitik perihal pemaknaan relasi Muslim-Kristen di\nIndonesia setelah masa Reformasi. Ia tidak mengkaji masalah teologi, namun memfokuskan\ndiri para hubungan timbal balik yang dijadikan alat teropong untuk memetakan\nidentitas personal,\nyang memungkinkan berimbas pada identitas komunal.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kajiannya\nini, penulis menjadikan Kota Solo sebagai objek penelitian. Solo dikenal sebagai kota yang penuh dinamika keagamaan. Di samping\nbanyak kasus ketegangan antar umat beragama, di sana juga dijumpai keluarga\nyang memiliki basis campuran; yakni keberagaman dalam satu keluarga, hal 198.\nTerlebih, pada 1998 sempat terjadi huru-hara yang menyelimuti kondisi\nsosial-keberagamaan warga, hal 210.<\/p>\n\n\n\n<p>Di Orde Baru,\nmanifestasi identitas agama dilarang untuk ditampilkan di muka publik, dengan\ntujuan menjaga stabilitas nasional. Soeharto menilai bahwa pemunculan identitas\nagama di ruang publik berpotensi memicu konflik dan menciptakan instabilitas,\nyang akan berdampak pada terhambatnya perkembangan di sektor\nperekonomian.Berpijak pada fakta di masa silam tersebut, Suhadi mencoba\nmenelisik pola interaksi Muslim-Kristen pada era setelah Reformasi. <\/p>\n\n\n\n<p>Tercatat bahwa,\npada akhir tahun 1980-an, transformasi ekonomi dan politik di Indonesia\nberimbas pada transformasi keagamaan. Gagasan kebebasan dan liberalisasi, yang\nmemainkan peran di arena politik, berpengaruh pada kehidupan beragama. Kran kebebasan\nyang dibuka pada era reformasi dimanfaatkan secara terbuka oleh kedua belah\npihak, baik oleh \u201cmuslim ektrem\u201d ataupun \u201cKristen militan\u201d. <\/p>\n\n\n\n<p>Untuk membatasi\nkajiannya, penulis mengaku tidak membahas hal-ihwal kajian teks-teks Al-Qur\u2019an\nataupun Injil, namun lebih menitik-beratkan pada bagaimana simbol-simbol agama\ndipergunakan oleh para pengikutnya dalam melakukan interaksi antar sesama.\nDengan begitu, langgam identitas akan terlihat dengan jelas melalui bahasa yang\ndigunakan dalam keseharian. Sebagaimana disebutkan, Pierre Bourdieau\nmenempatkan identitas sebagai suatu sumber rujukan. Penggunaan bahasa menetukan\nidentitas sehingga bisa dipetakan bagaimana \u201crelasi dealektik\u201d yang terjadi\nantara bahasa dan realitas, hal 44.<\/p>\n\n\n\n<p>Suhadi menemukan\nrelasi yang sejalan dengan nafas Pancasila, yang mana merangkul semua suku,\nagama, dan ras. Hal itu termanifestasi dalam hubungan keseharian. Ia mencatat,\npartisipan muslim menyebut pihak kristen tidak dengan sebutan bernuansa negatif\nlayaknya kafir, musrik, atau musuh. Namun lebih mengedepankan komunikasi yang\nbersahaja seperti teman, tetangga, kawan, dan lain sebagainya. Penyebutan\ntersebut dinilai lebih kontibutif terhadap rekonsiliasi antar sesama.\nPenggunaan bahasa yang santun mengejawantahkan sikap yang inklusif daripada\neksklusif, hal 202.<\/p>\n\n\n\n<p>\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\nMenggunakan\npenggunaan kata yang santun, alih-alih memakai kata yang bisa merusak tali\nsilaturahim, dapat mengeratkan tali persaudaraan. Dalam tataran yang lebih luas,\njika dilakukan secara kontinu, hal tersebut dapat merajut rasa kebangsaaan\nbersama. \n\n\n\n<\/p>\n\n\n\n<p>Buku ini\nmembuktikan bahwa Pancasila tidak hanya dirapalkan tanpa implementasi secara\nnyata. Hubungan kultural di antara pemeluk agama merupakan bukti sahih terkait\nhal tersebut. Pesan implisit yang hendak disisipkan oleh penulis tak lain:\nmenyokong kepercaya-dirian untuk berani membumikan nilai-nilai Pancasila di\nkehidupan riil.<\/p>\n\n\n\n<p>Fakta-fakta yang\ndipaparkan seolah ingin membuktikan bahwa dogma Pancasila yang tercermin dai\nP-4 di zaman Orde Baru tidak menjangkiti partisipan. Seiring berjalannya waktu,\nkabut gelap yang menyelimuti tersingkap lahan-perlahan. Wawasan multikultur\nyang khas Indonesia bisa disemai dengan tatapan penuh optimisme.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Pada hari\nlahirnya Pancasila pada 1 Juni, setidaknya kita\u2014melalui hasil penelitian ini\u2014masih\nbisa menggantungkan harapan bahwa kesadaran tentang perbedaan di negeri ini\nmasih bisa dirawat, dijaga, dan dikembangkan dari hari ke hari. Aral rintangan\ntentu tidak mungkin dihilangkan dengan sekali tepuk tangan, namun yang jauh\nlebih penting optimisme untuk menyambut Indonesia dipupuk dengan hadirnya buku\nhasil disertasi penulis\ndi negeri Kincir Angin ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Di tengah\neskalasi hubungan antar agama yang terus saja menggeliat, buku ini hadir\nmemberikan setetes embun penyejuk. Setidaknya membukakan mata kita atas fakta\nlain yang sering tak diungkap oleh media <em>mainstream<\/em> yang kerap tak\nberimbang dalam mempublikasikan relasi umat beragama di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>(Ahmad Khotim Muzakka)<\/strong><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Buku\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : \u201cI Come from Pancasila Family\u201d: A Discursive Study on Muslim-Christian Identity Transformation in Indonesia Post-Reformasi Era Penulis&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Suhadi Penerbit&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Lit Verlag, Zurich Terbit&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : pertama, 2014 Tebal&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : 241 halaman Wacana mengenai Pancasila terus mengecambah. Dari hari ke hari, perbincangan peran penting Pancasila tidak lekang ditelan zaman. Relevansinya mengokohkan fondasi kewarganegaraan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":820,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":true,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[46,49],"class_list":["post-819","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-indonesia","tag-pancasila"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/819","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=819"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/819\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":821,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/819\/revisions\/821"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media\/820"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=819"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=819"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=819"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}