{"id":745,"date":"2019-02-24T06:48:13","date_gmt":"2019-02-23T23:48:13","guid":{"rendered":"https:\/\/rahmatan.com\/?p=745"},"modified":"2019-02-24T06:48:23","modified_gmt":"2019-02-23T23:48:23","slug":"mengenal-kh-yasin-bareng-sang-mujiz-dalailu-al-khoirot%ef%bb%bf","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/mengenal-kh-yasin-bareng-sang-mujiz-dalailu-al-khoirot%ef%bb%bf\/","title":{"rendered":"Mengenal KH Yasin Bareng, Sang Mujiz Dalailu al-Khoirot\ufeff"},"content":{"rendered":"<p>Mendengar kata <em>Dalailu\nal-Khoirot, <\/em>pikiran kita akan langsung tertuju ke sebuah daerah di\nKabupaten Kudus yang bernama Bareng yang terletak di Kecamatan Jekulo.\nPasalnya, di daerah tersebut pernah tinggal ulama besar yang menjadi <em>Mujiz<\/em>\n(pemberi Ijazah) amalan <em>Dalailu al-Khoirot <\/em>atau yang lebih dikenal\ndengan tirakat <em>dalail<\/em>. Beliau adalah KH Yasin bin H Amin atau yang akrab\ndisapa Mbah Yasin Bareng.<\/p>\n\n\n\n<p>KH Yasin lahir sekitar\ntahun tahun 1890-an di desa Cebolek Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati. Beliau\nmemiliki nama asli Soekandar sesuai pemberian orang tuanya. Nama tersebut\nkemudian diubah menjadi Yasin setelah beliau melaksanakan ibadah haji. Nama\nkedua inilah yang akhirnya lebih dikenal oleh masyarakat sekitar. KH Yasin\nmerupakan anak ke-7 dari 9 bersaudara yang lahir dari pasangan Ibu Salamah dan\nBapak Tasmin yang setelah melaksanakan ibadah haji, keluarga mengganti namanya\ndengan H. Amin. Sejak kecil, beliau sudah ditinggal ayahnya yang meninggal di Baitullah.\nAkhirnya, beliau diangkat anak oleh KH Salam yang merupakan ayah dari KH Abdullah\nSalam atau kakek dari KH.Sahal Mahfudh Kajen Pati.<\/p>\n\n\n\n<p>KH Yasin pindah ke Jekulo\nKudus setelah diambil menantu oleh KH Yasir, salah satu ulama terkemuka di desa\ntersebut. Beliau dinikahkan dengan putrinya yang bernama Muthiah atas rekomendasi\nKH Sanusi yang masih memiliki hubungan sauadara dengan KH Yasir sekaligus guru\nspiritual KH Yasin. \u201cWaktu itu, Mbah Sanusi <em>ngendiko <\/em>kepada Mbah Yasir,\nkalau ingin pesantrenmu besar bawalah pemuda yang bernama Soekandar ke sini.\nDia anak yang pintar,\u201d ungkap Drs. KH. Mohammad Afif, M.Ag, cucu KH Yasin\nBareng saat acara Bedah Buku \u201c<em>KH.Yasin Bareng, Sang Mujiz Dalailu al-Khoirot\ndari Nusantara\u201d<\/em> yang digelar di SMA NU Al-Ma\u2019ruf Kudus, 23 Februari 2019\nlalu. <\/p>\n\n\n\n<p>Mendengar yang\nmerekomendasikan adalah KH Sanusi, lanjut Gus Afif \u2013sapaan akrab KH. Mohammad\nAfif- KH Yasin tidak berani menolak. Apalagi KH Sanusi adalah guru sufinya yang\ntelah memiliki ilmu hikmah. Konon, gurunya tersebut termasuk salah satu kekasih\nAllah atau yang lebih dikenal dengan w<em>aliyullah<\/em>. Menurutnya, KH Sanusi\nsangat senang memiliki murid KH Yasin. Begitu juga sebaliknya, KH Yasin sangat\nbersyukur memiliki guru seperti KH Sanusi. \u201cHubungan keduanya seperti <em>Mursyid<\/em>\ndengan <em>Murid<\/em>-nya,\u201d terangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Atas dukungan mertua dan\ngurunya, KH Yasin mulai mengajarkan ilmu agama kepada murid-muridnya. Dari yang\nawal jumlahnya sedikit kemudian bertambah menjadi banyak. Para santrinya pun\nbanyak yang berdatangan dari luar daerah. Di antara murid-muridnya yang\nkemudian juga menjadi ulama adalah KH.Muhammadun (Pondohan Pati), KH. Hambali\n(Kudus), Habib Muhsin (Pemalang), KH.Ma`mun (Kudus), KH. Hanafi (Jekulo Kudus),\nKH. Ahmad Basyir (Jekulo Kudus), KH Shaleh (Sayung Demak), Habib Ali bin Syihab\n(Mayong Jepara), Habib Muhammad Al Kaf (Imam Masjid Agung Magelang) dan masih\nbanyak yang lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMbah Yasin adalah sosok yang\nlurus dan hanya mengelola di pesantren. Pernah suatu ketika beliau mendapat\nundangan ceramah. Pada saat melangkah, tiba-tiba kakinya tidak dapat digerakan.\nSetelah dipikir-pikir, ternyata beliau belum meminta ijin kepada gurunya Mbah\nSanusi. Pada saat menghadap itulah, beliau tidak diperkenankan keluar dan\ndiminta fokus mengurusi pondok saja,\u201d beber Gus Afif.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kesehariannya, KH\nYasin tidak pernah lepas dari amalan <em>Dalailu al-Khoirot. <\/em>Amalan tersebut\ndidapatkan dari gurunya, KH Amir Pekalongan yang menjadi menantu KH Sholeh\nDarat Semarang. KH Amir Pekalongan tercatat sebagai <em>Katib<\/em> (juru tulis) Syekh\nMahfudz At-Termasi, salah satu guru besar di Masjidil Haram. Dari Syekh Mahfudz\ninilah KH Yasin memiliki sanad keilmuan yang sambung kepada Rasulullah Muhammad\nSAW melalui sahabat Abdullah bin Umar. Konon, Abdullah bin Umar ini tiap\nharinya selalu berpuasa sampai 40 tahun. <\/p>\n\n\n\n<p>Gus Afif menambahkan, sebenarnya\nmasih banyak kisah-kisah tentang KH Yasin dengan <em>Dalailu al-Khoirot-<\/em>nya<em>.\n<\/em>Salah satunya pada saat beliau mondok di tempatnya KH Nawawi Sidogiri\nPasuruan. Pada saat itu, KH Nawawi kedatangan tamu bos yang terjerat hukum\nkarena difitnah seseorang. Maksud kedatangan bos tersebut untuk minta bantuan KH\nNawawi supaya lepas dari hukuman. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMaka dipanggil <em>lah<\/em>\nMbah Yasin untuk membantunya. pada saat itu Mbah Nawawi bertanya, Yasin kamu\npunya apa. Kemudian ditunjukkanlah saputangan kusut miliknya. Kepada bos\ntersebut, Mbah Nawawi <em>ngendiko<\/em> saat sidang nanti peganglah saputangan\ntersebut dengan kuat. <em>Insya Allah<\/em> selamat,\u201d beber Ketua Rabithah Ma&#8217;ahid\nIslamiyah (RMI) Kabupaten Kudus itu. <\/p>\n\n\n\n<p>Terang saja, lanjut Gus\nAfif, akhirnya bos tersebut selamat dari hukuman. Sebagai imbalan, bos itu\nkemudian mengembalikan saputangan disertai sejumlah uang. Uang tersebut\nkemudian dipakai untuk berangkat ibadah haji oleh KH Nawawi bersama muridnya,\nKH Yasin. \u201cTernyata, pada saat bos tersebut pamit untuk menghadiri pengadilan,\nMbah Yasin diminta Mbah Nawawi untuk terus membaca <em>Dalailu al-Khoirot <\/em>untuk\nmembantu bos tersebut agar selamat,\u201d pungkasnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Gus Amirul\nUlum, penulis buku <em>KH.Yasin Bareng, Sang Mujiz Dalailu al-Khoirot dari\nNusantara <\/em>yang juga hadir dalam kesempatan itu mengaku kesulitan untuk\nmelacak sejarah kehidupan KH Yasin. Sebab, KH Yasin tidak banyak terlibat dalam\nkegiatan masyarakat yang melibatkan banyak pihak. Menurutnya, KH Yasin\nmengikuti <em>madzhab-<\/em>nya KH Amir Pekalongan yang kegiatan sehari-harinya\nadalah ngaji dan wirid. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cApalagi sumbernya adalah Syekh\nMahfudz At-Termasi yang memang tidak suka pergerakan. Berbeda dengan Syekh Ahmad\nKhatib Al-Minangkabawi yang kemudian diikuti Mbah Ahmad Dahlan pendiri\nMuhammadiyah dan Mbah Hasyim Asyari. Beruntung Mbah Hasyim Asyari juga berguru\nkepada Syekh Mahfudz At-Termasi,\u201d terang penulis yang juga santri dari KH\nMaimoen Zubair itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, lanjut Gus\nAmirul, pendekatan yang dilakukan dalam penulisan buku ini berbeda dengan\nbuku-buku yang pernah ditulisnya. Ia mengaku menggunakan pendekatan <em>tarikh<\/em>\n(tahun) yang dikombinasikan dengan metode <em>Al-jawi Al-Makki<\/em> atau yang\nlebih akrab disebut metode Jaringan Nusantara-Haramain. \u201cSaya mewancarai\nlangsung ulama-ulama yang ada di Makkah dan bahkan di Singapura yang memiliki\nketerkaitan langsung dengannya,\u201d tandas pria kelahiran Pati, 25 Maret 1986 ini.\n(fai)<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mendengar kata Dalailu al-Khoirot, pikiran kita akan langsung tertuju ke sebuah daerah di Kabupaten Kudus yang bernama Bareng yang terletak di Kecamatan Jekulo. Pasalnya, di daerah tersebut pernah tinggal ulama besar yang menjadi Mujiz (pemberi Ijazah) amalan Dalailu al-Khoirot atau yang lebih dikenal dengan tirakat dalail. Beliau adalah KH Yasin bin H Amin atau yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":746,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[5,9],"tags":[122],"class_list":["post-745","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-sosok","tag-kh-yasin-cebolek"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/745","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=745"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/745\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":747,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/745\/revisions\/747"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media\/746"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=745"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=745"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=745"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}