{"id":1368,"date":"2025-05-27T21:17:48","date_gmt":"2025-05-27T14:17:48","guid":{"rendered":"https:\/\/rahmatan.com\/?p=1368"},"modified":"2025-05-28T02:21:06","modified_gmt":"2025-05-27T19:21:06","slug":"mufassir-kontemporer-mengapa-gus-baha-tidak-menuliskan-tafsirnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/mufassir-kontemporer-mengapa-gus-baha-tidak-menuliskan-tafsirnya\/","title":{"rendered":"Mufassir Kontemporer: Gus Baha Tak Menulis?"},"content":{"rendered":"<p>Siapa mufassir kontemporer dewasa ini? Mengapa Gus Baha tidak menuliskan penafsirannya menjadi sebuah kitab tafsir?\u00a0 pertanyaan ini timbul ketika ada seorang ulama mufassir kontemporer dengan pemikirannya yang luar biasa yang menyampaikan pemikirannya lewat lisan dalam kajian dan ceramah-ceramah. Dengan pengikut dan penggemar begitu banyak, Gus Baha menyampaikan pemikirannya dalam kajiannya yang selalau padat jamaah dari berbagai daerah.<\/p>\n\n\n\n<p>Di\nTengah perkembangan zaman yang semakin canggih dan global, pemikiran dan\npenafsiran tokoh agama bisa di akses dimana saja, mulai dari kitab, buku, e-book,\nartikel, hingga media digital. Namun, K.H. Bahauddin Nursalim atau sapaan\nakrabnya Gus Baha, seorang ulama dan mufassir kondang dari Rembang, Jawa\nTengah, memilih jalur berbeda. Dikenal karena keluasan ilmu dan cara\npenyampaian yang sederhana, Gus Baha menyampaikan banyak sekali pemikiran dan\npenafsiran Al-Qur\u2019annya hanya melalui ceramah-ceramah dan majelis ilmu. <\/p>\n\n\n\n<p>Kini,\nSiapa yang tidak mengenal sosok Gus Baha? Meski Namanya semakin terkenal ke\nseluruh negeri dan pemikirannya menjadi rujukan banyak orang, Gus Baha belum\nmenuliskan pemikiran tersebut menjadi sebuah buku tafsir. Hal ini menjadi\nkekhawatiran di kalangan Masyarakat: apakah pemikiran dan penafsiran beliau\nakan bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya?<\/p>\n\n\n\n<p>Tanpa\nbuku sebagai media dokumentasi yang terstruktur dan utuh, Pemikiran Gus Baha mempunyai\nresiko hilang atau salah ditafsirkan seiring berjalannya waktu. Artikel ini\nmencoba menggali lebih dalam bagaimana pemikiran Gus Baha, serta bagaimana cara\nalternatif untuk membantu menyebarkan dan menjaga warisan intelektual pemikiran\nGus Baha agar tetap bisa dinikmati dan menjadi rujukan bagi generasi mendatang.<\/p>\n\n\n\n<p>Baca juga: <strong><a href=\"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/benarkah-manusia-tidak-bisa-memilih-takdir\/\" title=\"\">Benarkah Manusia Tidak Bisa Memilih Takdir?<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Orality dan Literacy<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Menurut Walter J. Ong dalam bukunya <em>Orality and Literacy<\/em> (2002), Terdapat Perbedaan mendasar antara <em>Oral Tradition<\/em> (budaya lisan) dan <em>Literacy tradition<\/em> (budaya tulisan). <em>Oral tradition<\/em> mengandalkan komunikasi verbal dalam menyampaikan dan mempertahankan pengetahuan, sedangkan <em>Literacy tradition<\/em> berupa teks atau tulisan yang memungkinkan informasi bertahan lebih lama dan lebih mudah disebarluaskan lintas generasi. <em>Oral tradition<\/em> lebih menggunakan tektik mnemonik, yaitu mengandalkan ingatan, yang dihubungkan dengan imajinasi, sehingga orang-orang bertradisi lisan berkemampuan mengingat suatu ujaran. Sementara, menurut Ong, tulisan bersifat otoritatif dan tulisan telah mengubah kesadaran manusia, serta teknologi tulisan mendorong Masyarakat menjadi lebih analitif. <\/p>\n\n\n\n<p>Gus Baha adalah contoh menarik dari tokoh yang meneruskan pemikiran penafsirannya dalam tradisi lisan. Sebagai representasi mufassir kontemporer, ia menggunakan tradisi lisan yang mempunyai keuntungan dan tantangan tersendiri. Salah satu keuntungan utamanya yaitu pendekatan lisan yang dipilih Gus Baha Memungkinkan terjadinya kedekatan yang lebih erat dengan para pendengar.\u00a0 <\/p>\n\n\n\n<p>Gaya Bahasa yang sederhana dan narasi yang hidup membuat pemikiran Gus Baha lebih mudah dipahami oleh banyak orang, terutama orang-orang awan yang tidak akrab dengan teks-teks klasik atau bahasa arab. Hal ini sesuai dengan pandangan Ong, bahwa budaya lisan menciptakan keintiman dan kedekatan, terutama karena komunikasi terjadi secara langsung dan interaktif.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak\nhanya itu, dalam budaya tulisan, Gus Baha memiliki beberapa karya, yaitu kitab Hifdzuna\nLi Hadza al-Mushaf yang menjelaskan tentang rasm Usmani, Khazanah Andalus\nMenguak Karya monumental Alfiyah Ibnu Malik, kemudian karya selanjutnya yaitu\nTafsir dan Terjemah Al-Qur\u2019an UII, yang merupakan terjemah dengan penjelasan\nsingkat.<\/p>\n\n\n\n<p>Baca juga: <a href=\"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/menggugat-mitos-superioritas-genealogis\/\" title=\"\"><strong><em>Menggugat Mitos Superioritas Nasab<\/em><\/strong><\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Mufassir Kontemporer<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Gus baha dikenal dengan ulama mufassir kontemporer, keahliannya dalam bidang Al-Qur\u2019an merupakan hasil dari belajarnya sejak kecil, bahkan latar belakang keluarga beliau juga merupakan kyai-kyai ahli Al-Qur\u2019an. Ayahnya, Kyai Nur Salim, adalah ulama Pakar Al-Qur\u2019an yang mempunyai Pondok Pesantren Tahfidzul Qur\u2019an LP3IA, Rembang. Selain itu beliau juga sangat ahli dalam bidang fikih. Pemikiran dan penafsiran beliau yang mudah dan menyenangkan sangat disukai masyarakat, misalnya saja ketika menafsirkan ayat-ayat mengenai surga dan nikmat Allah, sehingga menurut pendengar, seolah mencapai surga itu sangat mudah. Beliau juga simpel dan tidak rumit ketika menafsirkan dan menceritakan suatu ayat.<\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun belum menuliskan buku, teknologi digital telah memberikan alternatif untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan pemikiran Gus Baha. Ceramah-ceramah beliau yang direkam dan diunggah ke berbagai platform media sosial, seperti youtube, podcast, dan lain sebagainya. Hal ini membawa kita kepada konsep Ong tentang <em>secondary orality<\/em>, dimana teknologi modern membawa kembali tradisi lisan, namun kali ini dalam skala global dan dapat diakses lintas generasi. <\/p>\n\n\n\n<p>Fathurrosyid dalam artikel jurnalnya, Nalar Moderasi tafsir Pop Gus baha (2020), mengklasifikasikan penafsiran Gus Baha ke dalam tafsir pop. Ia mendefinisikan, Tafsir Pop Gus Baha merupakan kajian tafsir Al-Qur\u2019an oleh Gus Baha dengan pendekatan yang moderat, kemudian disebarluaskan melalui berbagai media popular seperti facebook, Instagram, dan youtube.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun,\nteknologi digital ini tetap memiliki keterbatasan. Tidak semua materi tersedia\ndalam bentuk transkip atau pengeditan teks, sehinngga mereka yang tidak\nmemiliki akses atau kemampuan untuk mendengarkan media digital bisa saja\nkesulitan. Selain itu, tanpa buku yang disusun secara sistematis, pemikiran Gus\nBaha mungkin terasa lebih terfregmentasi, mengingat setiap ceramah biasanya\ndisampaikan berdasarkan topik tertentu, bukan sebagai rangkuman lengkap dari\nseluruh pemikiran beliau.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk membantu menjaga warisan pemikiran Gus Baha, banyak dari komunitas dan para <em>muhibbin<\/em> Gus Baha berusaha mendokumentasikan, menyalin, merangkum, dan usaha-usaha penyusunan transkip pemikiran beliau menjadi tulisan. Karena tanpa dokumentasi tertulis, ada resiko bahwa pemikiran Gus Baha bisa hilang atau berubah seiring waktu. <\/p>\n\n\n\n<p>Ketergantungan pada lisan membuat pemikiran beliau rentan terhadap interpretasi yang salah atau terdirsodir oleh pendengar yang mencoba mengingat atau menerjemahkan kembali apa yang pernah disampaikan. Itulah mengapa pertanyaan di awal itu timbul, mengapa Gus Baha tidak menuliskan pemikirannya menjadi suatu kitab tafsir? Mungkin belum, dan harapannya suatu saat nanti akan ditulis agar pemikirannya menjadi satu kitab tafsir utuh dan bisa dinikmati generasi selanjutnya. Karena akan sangat disayangkan, jika pemikiran yang sangat luar biasa tidak bisa dinikmati dan dipelajari generasi mendatang.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Nena Ulfatan<\/em><\/strong>, Mahasiswa Ilmu AL-Qur\u2019an dan Tafsir, Uin K.H. Abdurrahman Wahid, Pekalongan, Peneliti di <em>Rahmatan Institute<\/em> Indonesia<\/p>\n\n\n\n<p><br><\/p>\n\n\n\n<p><br><\/p>\n\n\n\n<p><br><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Siapa mufassir kontemporer dewasa ini? Mengapa Gus Baha tidak menuliskan penafsirannya menjadi sebuah kitab tafsir?\u00a0 pertanyaan ini timbul ketika ada seorang ulama mufassir kontemporer dengan pemikirannya yang luar biasa yang menyampaikan pemikirannya lewat lisan dalam kajian dan ceramah-ceramah. Dengan pengikut dan penggemar begitu banyak, Gus Baha menyampaikan pemikirannya dalam kajiannya yang selalau padat jamaah dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":29,"featured_media":1370,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[311,309,312],"class_list":["post-1368","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kajian","tag-mufassir-indonesia","tag-mufassir-kontemporer","tag-tafsir-indonesia"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1368","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/29"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1368"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1368\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1792,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1368\/revisions\/1792"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1370"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1368"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1368"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1368"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}