{"id":1252,"date":"2022-11-29T13:13:43","date_gmt":"2022-11-29T06:13:43","guid":{"rendered":"https:\/\/rahmatan.com\/?p=1252"},"modified":"2022-11-29T15:48:35","modified_gmt":"2022-11-29T08:48:35","slug":"kritik-atas-nalar-agamaisasi-kekerasan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/kritik-atas-nalar-agamaisasi-kekerasan\/","title":{"rendered":"Kritik Atas Nalar Agamaisasi Kekerasan"},"content":{"rendered":"<p>Kekerasan atas nama agama? Pasti pernah mendengar. Dari sisi kesejarahan, agama sering dihadapkan pada realitas yang cukup paradoks, misalnya agama mengajarkan tentang perdamaian, tetapi di sisi yang lain agama juga menyerukan perang dan kekerasan. Nilai-nilai kemanusiaan dalam agama, sering tercampakkan melalui adanya serangkaian aksi-aksi kekerasan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam Islam misalnya, perang atas nama agama juga seringkali\nterjadi. Sudah tidak terhitung berapa banyak darah berjatuhan akibat perang atas\nnama agama ini. Kita bisa melihat, bagaimana tiga dari empat Khalifah Rasyidin\nmenjadi korban dari kekerasan yang dilakukan oleh sesama Muslim, yakni Umar bin\nKhattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Semua itu dilakukan atas\nnama agama dan hukum Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kasus terbunuhnya Khalifah Rasyidin di atas hanyalah contoh kecil,\ndi mana konflik dan kekerasan seringkali menjadi mekanisme penyelesaian masalah\ndi kalangan internal umat Islam. Setiap periodesasi dalam sejarah Islam juga\ntidak pernah lepas dari aksi-aksi kekerasan atas nama agama. Khususnya ketika\nagama dan politik menjadi suatu kekuatan untuk melegitimasi suatu ketetapan\nhukum. <\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"512\" src=\"https:\/\/rahmatan.com\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/ChatGPT-Image-Sep-13-2026-02_41_59-PM-1024x512.png\" alt=\"agamaisasi kekerasan\" class=\"wp-image-1827\" srcset=\"https:\/\/rahmatan.com\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/ChatGPT-Image-Sep-13-2026-02_41_59-PM-1024x512.png 1024w, https:\/\/rahmatan.com\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/ChatGPT-Image-Sep-13-2026-02_41_59-PM-300x150.png 300w, https:\/\/rahmatan.com\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/ChatGPT-Image-Sep-13-2026-02_41_59-PM-768x384.png 768w, https:\/\/rahmatan.com\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/ChatGPT-Image-Sep-13-2026-02_41_59-PM-1536x768.png 1536w, https:\/\/rahmatan.com\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/ChatGPT-Image-Sep-13-2026-02_41_59-PM-360x180.png 360w, https:\/\/rahmatan.com\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/ChatGPT-Image-Sep-13-2026-02_41_59-PM-750x375.png 750w, https:\/\/rahmatan.com\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/ChatGPT-Image-Sep-13-2026-02_41_59-PM-1140x570.png 1140w, https:\/\/rahmatan.com\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/ChatGPT-Image-Sep-13-2026-02_41_59-PM.png 1774w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Doktrin kekerasan?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Sebagai contoh, ketika Wahabisme di era awal pembentukannya\nberkoalisi dengan penguasa (baca: Muhammad Saud), ketika itu doktrin Wahabi\ndipaksakan kepada segenap umat Islam di Saudi Arabia, mereka yang menolak\ndoktrin baru ini dibunuh atau dihabisi begitu saja. Prinsip mereka hanya satu,\nmenjalankan hukum Tuhan tanpa perlu mempertimbangkan konteks dan kondisi\nkultural masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Baca jugaa: <strong><em><a href=\"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/kapan-moderasi-beragama-menjadi-kematangan-keberagamaan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" title=\"Kapan Moderasi Beragama menjadi Kematangan Keberagamaan?\">Kapan Moderasi Beragama menjadi Kematangan Keberagamaan?<\/a><\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Hal yang perlu dipertanyakan adalah, mengapa sejarah agama-agama\nselalu diwarnai dengan kekerasan? Mengapa para penganut agama-agama harus\nberkonflik akibat perbedaan pemahaman agama? Dalam menjawab pertanyaan ini,\ntentu tak sekedar hitam dan putih. Kita perlu melacak akar genealogis terhadap\nnalar berpikir orang-orang yang beragama. <\/p>\n\n\n\n<p>Harond Ellens (2007), sebagaimana dikutip oleh Masdar Hilmy,\nmengungkapkan bahwa setiap kekerasan yang berlatar agama dapat dilacak pada\nunsur destruktif (merusak) yang dimiliki oleh hampir setiap agama, hal ini\nbukan berarti agama itu merusak, tetapi setiap komunitas agama sering terjatuh\npada pandangan kosmologis Manikean yang membelah realitas menjadi dua kutub\nyang saling berhadapan; yakni kebenaran versus kebathilan. <\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Nalar Paradigma Takfiri<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Dalam terminologi filsafat, dua kutub yang saling berhadapan itu\nbisa disebut sebagai \u2018nalar dialektika-dikotomis\u2019. Artinya, para penganut agama\ncenderung memahami agamanya secara benar dan yang lain salah. Jika pandangan\nini terlampau ekstrem dan intoleran, maka penganutnya mudah terjatuh pada\nparadigma takfiri, yakni saling mengkafir-kafirkan atau menyalahkan keyakinan\nlain. Bibit-bibit kekerasan itu dapat dilacak melalui nalar\ndialektika-dikotomis ini, di mana para penganut agama mengklaim sepihak atas\nkebenaran agamanya. <\/p>\n\n\n\n<p>Akar dari dua kutub yang berhadapan ini sebenarnya berasal dari\nkredo agama-agama Samawi yang membelah manusia menjadi dua kutub yang saling\nberlawanan (baca: oposisi biner). Misalnya suci-najis, benar-salah,\nputih-hitam, terang-gelap, dan lain sebagainya. Hal ini berakibat pada\nkesadaran kosmos di mana para penganut agama dipenuhi oleh bayang-bayang untuk\nmeneguhkan dirinya sendiri dan menghabisi pihak lain yang posisinya\nberseberangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam tradisi Islam, dan mungkin juga terjadi dalam tradisi\nagama-agama lain, bahwa mereka yang selama ini dianggap berhaluan keras\n(fundamentalisme) sering mengambarkan dirinya sendiri sebagai yang paling murni\ndari bid\u2019ah-bid\u2019ah, paling suci dan lain semacamnya. Mereka melakukan klaim\nkebenaran secara keras dan pihak-pihak lain harus mengikutinya. Jika tidak,\nberarti pihak lain dianggap menyatakan perang dan wajib untuk diperangi. <\/p>\n\n\n\n<p>Baca juga: <strong><em><a href=\"https:\/\/penerbit.rahmatan.com\/paket-layanan-penerbitan-buku-ber-isbn\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" title=\"Cara Menerbitkan Buku Ber-ISBN\">Cara Menerbitkan Buku Ber-ISBN<\/a><\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Cara pandang semacam ini sebenarnya lumrah terjadi di hampir setiap\ntradisi agama-agama. Mereka memiliki pandangan yang Manikean (hitam-putih)\nbukan hanya dalam konteks cara mereka memahami teks-teks agama, tetapi ada\nfaktor-faktor eksternal yang mempengaruhi cara beragama mereka menjadi lebih\nmilitan dan ekstrem, misalnya penolakannya terhadap sekularisme dan demokrasi modern.\nBila nalar berkeislaman mereka dibiarkan, mereka akan semakin militan dan mudah\nterjatuh pada terorisme, pada titik inilah gerakan mereka menjadi sangat\nberbahaya.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu bagaimana cara mengatasi sikap keberagamaan semacam ini?\nBagaimana pula cara mengatasi agamaisasi kekerasan? Sebentuk keberagamaan yang\nmenggunakan kekerasan sebagai jalan perjuangannya. Yang jelas, membayangkan\nagama tanpa kekerasan adalah semacam ketidakmungkinan. Seperti halnya\nketakmungkinan membayangkan dunia tanpa kekerasan. <\/p>\n\n\n\n<p>Karen Armstrong (2015) sendiri mengafirmasi bahwa semua agama pasti\nbersentuhan dengan kekerasan. Lebih tegas lagi, bila kita membaca sejarah\nagama-agama yang ada di dunia ini, hampir tidak ada yang terbebas dari\nkekerasan. Bahkan agama yang sangat mengidealkan keseimbangan kosmis, seperti\nBuddha, atau mengidealkan cinta kasih seperti Kristen, atau mengidealkan\nkeadilan seperti Islam, semuanya pernah bergelimang dengan darah. <\/p>\n\n\n\n<p>Malahan, banyak yang berkeyakinan bahwa kekerasan itu sendiri merupakan bagian dari agama. Agama-agama monoteis (baca: Samawi) tampaknya paling banyak memiliki sejarah berdarah, ketimbang agama-agama non-monoteis. Khususnya perseteruan antara Islam dan Kristen. <\/p>\n\n\n\n<p>Fakta tentang kekerasan atas nama agama di atas juga seringkali dibarengi\ndengan adanya suatu pernyataan bahwa tidak ada satu agama pun yang mengajarkan\nkekerasan. Pernyataan ini sering terdengar, terlebih ketika banyak kasus\nterjadi terkait dengan fenomena agamaisasi kekerasan. Paling tidak, ini dapat\nmembantu orang-orang yang bingung dan bertanya-tanya tentang mengapa orang\nberagama melakukan kekerasan. <\/p>\n\n\n\n<p>Jika agama dipertautkan antara Tuhan dan manusia, maka jelas agama diciptakan untuk manusia dan seluruh kemaslahatannya, bukan untuk Tuhan, sebab Tuhan tidak beragama dan tidak butuh agama. Sejatinya, agama haruslah membawa damai dan menjauhkan diri dari kekerasan. Namun sayangnya, agama tak pernah bisa lepas dari unsur-unsur ektrem.<\/p>\n\n\n\n<p>Nur Ichwan (2018) mengatakan bahwa ada lima sebab mengapa agama tak bisa lepas dari kekerasan; yakni karena dalam agama ada ajaran tentang pengorbanan, agama selalu mengasumsikan logika baik-buruk dan benar-salah, adanya dakwah dan ekspansi agama yang tidak jarang juga dilakukan dengan kekerasan, adanya kitab suci yang terkadang mengandung pernyataan membolehkan kekerasan, dan hampir selalu ada individu dan kelompok dalam agama yang berpaham radikal dan membolehkan ektremisme.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Teologi Perdamaian<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Namun demikian, prinsip perdamaian tetaplah yang paling utama dan\ninti dari perdamaian adalah humanisasi, yakni memandang dan memperlakukan\nmanusia sebagai manusia, khususnya dalam konteks Islam. Bukan malah memandang\nrendah orang yang berbeda paham sampai mengatakan lebih rendah dari binatang. <\/p>\n\n\n\n<p>Kritik terhadap agamaisasi kekerasan haruslah dimulai dari prinsip\nteologi perdamaian. Dengan asumsi bahwa perdamaian adalah sesuatu yang sakral\ndan memang harus disakralkan. Prinsip dasar dari teologi perdamaian ini bisa\ndilihat melalui salah satu asma Allah, <em>al-Salam<\/em> (Maha Damai). Kata <em>salam<\/em>\nsebetulnya satu akar kata dengan <em>Islam<\/em>, yakni penyerahan diri dan <em>silm<\/em>\ndalam arti damai tanpa ada konflik.<\/p>\n\n\n\n<p>Adanya prinsip bahwa Allah adalah Maha Damai secara hermeneutika\natau penafsiran harus mengedepankan perdamaian. Demikian juga implementasi dari\npenafsiran itu harus mengutamakan dan menciptakan damai di bumi. <em>Logos<\/em>\n(nalar) yang damai akan melahirkan interpretasi yang damai, yang pada\ngilirannya mewujud dalam tindakan damai pula.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, perdamaian juga harus didasari oleh kasih sayang, sebagaimana asma Allah <em>ar-Rahman<\/em> (Maha Pengasih) dan <em>al-Rahim<\/em> (Maha Penyayang). Manusia harus dipandang sebagai manusia dan keberadaan manusia itu mulia satu sama lain, sebab manusia telah dimuliakan oleh Allah,\u2026.<em>dan benar-benar telah kami muliakan anak cucu adam<\/em> (QS. Al-Isra\u2019 17:70).<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kekerasan atas nama agama? Pasti pernah mendengar. Dari sisi kesejarahan, agama sering dihadapkan pada realitas yang cukup paradoks, misalnya agama mengajarkan tentang perdamaian, tetapi di sisi yang lain agama juga menyerukan perang dan kekerasan. Nilai-nilai kemanusiaan dalam agama, sering tercampakkan melalui adanya serangkaian aksi-aksi kekerasan. Dalam Islam misalnya, perang atas nama agama juga seringkali terjadi. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":1254,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1252","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1252","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1252"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1252\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1824,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1252\/revisions\/1824"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1254"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1252"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1252"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1252"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}