{"id":1242,"date":"2022-11-13T13:11:52","date_gmt":"2022-11-13T06:11:52","guid":{"rendered":"https:\/\/rahmatan.com\/?p=1242"},"modified":"2026-09-23T16:30:37","modified_gmt":"2026-09-23T09:30:37","slug":"gerakan-agama-filosofis-pasca-kritik-ortodoksi-al-ghazali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/gerakan-agama-filosofis-pasca-kritik-ortodoksi-al-ghazali\/","title":{"rendered":"Gerakan Agama Filosofis Pasca Kritik Ortodoksi al-Ghazali"},"content":{"rendered":"<p>Tradisi\nfilsafat Islam awal yang dipengaruhi oleh karya-karya filsafat Yunani pada abad\nke-2 H\/8 M, telah sebegitu berkembang dan menjadi gerakan pemikiran filosofis\ndan ilmiah yang menghasilkan banyak karya orisinal dan bermutu sejak abad ke-3\nH\/9 M hingga 6 H\/12 M. <\/p>\n\n\n\n<p>Pemikiran\nfilsafat dalam Islam yang dinahkodai oleh para filosof&nbsp; terkemuka seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina,\ndan kawan-kawan, sejatinya mengembangkan materi filsafat yang dibangun murni\ndari sistem gagasan Yunani. Tetapi bangunan aktualisasi pemikirannya sangat\nbercorak Islam, seperti kajian metafisikanya yang begitu memperhatikan wacana\nmetafisika keagamaan berbasis Islam dan berusaha agar filsafat dan Islam dapat\nsaling beriringan.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun,\npersinggungan filsafat dan Islam hanya sejauh yang dapat dimungkinkan oleh\nmateri fisafat Yunani yang khas bercorak rasional. Pada titik ini, para filosof\nMuslim melahirkan ide-ide cemerlang yang orisinal, sekaligus mengalami nasib\nyang memilukan dalam sejarah peradaban Islam. Para filosof Muslim dianggap\ngagal mengintegrasikan filsafat dan Islam, mereka tak memenuhi standar\nintelektual yang dituntut oleh kalangan ortodoks dan akhirnya mereka pun\ndijegal dan mendapatkan kritik bertubi-tubi.<\/p>\n\n\n\n<p>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/harmoni-sosial-dan-warisan-gus-dur\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" title=\"Salam Multikultur dan Warisan Gus Dur\">Salam Multikultur dan Warisan Gus Dur<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kritik kaum ortodoks<\/h2>\n\n\n\n<p>Integrasi\nfilsafat dan Islam yang dikembangkan oleh para filosof dan melahirkan\nperspektif baru tentang \u201cteologi alamiah\u201d, ternyata menyimpan banyak ancaman\nserius terhadap muatan wahyu dalam Islam. Titik pencapaiannya yang cemerlang dalam\npemikiran keagamaan justru menjadi sasaran kecurigaan dan serangan kaum\nortodoksi, yakni titik ketika mereka sengaja mencari hubungan antara filsafat\ndengan dogma ortodoks dan berharap akan diterima sebagai salah satu penafsiran\nIslam yang sah.<\/p>\n\n\n\n<p>Penolakan dari kalangan ortodoksi, yang diwakili oleh al-Ghazali melalui rumusan monumentalnya dalam karya <em>Tahafut al-Falasifah<\/em> (Kerancuan Para Filosof), kiranya telah menyanggah satu persatu berbagai pandangan para filosof tentang doktrin agama berbasis filsafat. Dua puluh permasalahan yang disajikan dalam buku ini yang juga merupakan basis kritik al-Ghazali terhadap pemikiran para filosof Muslim, mengungkapkan secara sangat gamblang kontradiksi dan kelemahannya menurut agama.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah\nsatu kritik keras al-Ghazali terharap para filosof adalah tentang teori\nemanasi. Doktrin filsafat ini merupakan sebuah konsep penciptaan yang bersifat\nniscaya dan sekaligus menggantikan aktivitas Tuhan atas kehendak-Nya. Bagi\nal-Ghazali, teori emanasi itu tidak mungkin karena Tuhan Maha Berkehendak. Penggambaran\nTuhan yang murni bersifat rasional, yang juga sarat dengan keniscayaan\nrasional, kemudian diganti dengan konsep Asy\u2019ariyah tentang Kehendak Tuhan.\nKonsep eskatologi para filosof pun juga ditolak mentah-mentah. <\/p>\n\n\n\n<p>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/penerbit.rahmatan.com\/paket-layanan-penerbitan-buku-ber-isbn\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" title=\"Cara Menerbitkan Bukumu\">Cara Menerbitkan Bukumu<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Menurut\nFazlur Rahman (2017), setelah mendapatkan kritik bertubi-tubi dari al-Ghazali,\nfilsafat Islam tidak pernah benar-benar mati, tetapi mengalami sedikit\nperubahan orientasi dan titik fokus kajian. Kiranya, hanya tinggal dua jalur\nsaja yang tersisa bagi filsafat, dan keduanya pun sama-sama dijalani. Pertama,\nmelanjutkan spekulasi filosofis, meski dikekang oleh kalangan ortodoksi, dengan\nmencari medium heterodoks. Medium ini ternyata ditemukan dalam pemikiran sufi\nyang filosofis, yang jelas-jelas dipengaruhi oleh kecenderungan mistik dalam\npemikiran para filosof sendiri, terutama pemikiran Ibn Sina. <\/p>\n\n\n\n<p>Jalur\nkedua adalah berhenti mengupayakan sistem tandingan untuk teologi bila telah menyangkut\ndogma agama, dan bergerak di dalam sistem ortodoks saja. Inilah yang membuat\nilmu kalam berkembang pesat menjadi bangunan pemikiran yang sistematis meliputi\nkerangka epistemologi dan metafisika. Hal ini terlihat pertama kali melalui\nkarya-karya filosof-teolog Fakhruddin al-Razi (w. 606 H\/1209 M). Tetapi, sistem\nini pun memberi ruang bagi penalaran spekulatif, yang sempat marak beberapa\nabad, tetapi belum banyak dipelajari oleh kesarjanaan modern lantaran sering\nterhenti pada penolakan al-Ghazali terhadap filsafat.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Islam Pasca al-Ghazali<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Tradisi\nfilsafat dalam Islam memang terus hidup dan berkembang dalam berbagai\nbentuknya, seperti dalam bentuk ulasan atau buku pelajaran dengan berbagai\nirama sebagai alat maupun kritik ideologi. Tetapi filsafat Islam pasca\nal-Ghazali ternyata berkembang ke arah baru yang bisa disebut sebagai agama\nfilosofis atau teosofi di mana filsafat dan mistisisme Islam diintegrasikan\nmenjadi satu kesatuan utuh. <\/p>\n\n\n\n<p>Meski\nfilsafat akhirnya banyak dipengaruhi oleh sufisme dalam gaya pemikirannya,\ntetapi ini tetap sesuatu yang berbeda dengan sufisme. Sebab, betapapun para\nfilosof sering menyatakan doktkrinnya dengan doktrin sufi, terutama sufisme\nspekulatif, kerangka berpikir agama filosofis ini sarat dengan argumentasi\nrasional serta proses pemikiran yang logis dan murni intelektual. Sementara sufisme sangat mengedepankan pengalaman batin\natau intuisi dan lebih menggunakan imajinasi puitis daripada rasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Gerakan baru ini sangat bersifat religio-sentris karena\nfilsafat sendiri pada dasarnya cenderung religius yang bertolak dari prinsip\nrasional dan natural, ia membangun pandangan yang jelas religius. Namun,\nfilsafat baru ini juga dipengaruhi spiritualisme sufi yang mengalihkan\nperhatiannya dari filsafat natural dan rasional, kecuali apabila konsep-konsep\numum dari filsafat natural dan rasional itu dapat digunakan untuk tujuannya sendiri\nyang religius.<\/p>\n\n\n\n<p>Tradisi filsafat baru ini bermula dari pemikiran Syihab\nal-Din al-Suhrawardi, sang pendiri \u2018filsafat iluminasi\u2019 yang dihukum mati pada\n587 H\/1191 M di Allepo, dan mencapai puncaknya yang gemilang melalui pemikiran\nteosofi Ibn al-Arabi. Doktrin filosofis yang utama dalam tradisi ini adalah\ntentang prinsip \u2018tingkatan Wujud\u2019, doktrin panteisme yang dikembangkan\nberdasarkan teori emanasi Neoplatonis. Teori lainnya yang berkaitan erat dengan\nprinsip tingkatan Wujud adalah teori kognisi yang menekankan persamaan pikiran\ndan wujud. <\/p>\n\n\n\n<p>Dari kedua teori ini, lahir doktrin ketiga yang berperan\npenting dalam pemikiran sufi, yaitu doktrin \u2018Alam Misal\u2019 (<em>\u2018alam al-mitsal<\/em>), dunia citra ontologis di mana realitas spiritual\ndari atas mengambil bentuk citra nyata, sedangkan jasad kasar alam materi dari bawah\nberubah menjadi citra dan jasad gaib.<\/p>\n\n\n\n<p>Gaya pemikiran di atas sangat mempengaruhi perkembangan\npemikiran metafisika berikutnya dalam Islam, baik yang berbasis pada sufi\nmaupun filosofis. Dalam pemikiran spekulatif Islam, ia mengambil suatu\npandangan khas yang dapat disebut sebagai humanisme subjektif menyangkut alam\nsemesta dan seisinya. Daya kognitif manusia\ndiproyeksikan ke dalam struktur ontologis Realitas yang tampak sebagai pribadi.\nSeperti keberadaan manusia yang memiliki indra, imajinasi, akal rasional, dan\nintuisi spiritual, alam semesta pun secara objektif memiliki daya yang serupa.<\/p>\n\n\n\n<p>Corak\npemikiran ini terutama dikembangkan kaum sufi yang didorong oleh metode mereka\ntentang pengalaman pribadi atas Realitas. Teosof bernama Ibn al-Arabi (560\nH\/1165 M) adalah yang pertama kali mengembangkan ide tentang alam semesta\nsebagai makro-antropos (<em>al-insan al-akbar<\/em>),\ndengan demikian manusia disebut sebagai makluk makro-antropos. Gagasan ini\nmerupakan kebalikan dari ide makrokosmos dan mikrokosmos. Doktrin yang satu\nmenggambarkan alam semesta dengan pola manusia, sedangkan yang satu lagi\nmenggambarkan manusia dengan pola alam semesta. <\/p>\n\n\n\n<p>Boleh dikata, doktrin tentang realitas bertingkat yang dijembatani oleh dunia imajinasi ini merupakan perkembangan unik dalam Islam abad pertengahan dan diterima oleh sebagian besar kaum sufi ortodoks. Ia telah memberi nafas baru bagi mistisisme Islam. Ia juga berinteraksi dengan filsafat dan mendapatkan pijakan rasional dari rumusan filosofisnya sekitar abad ke-11 H\/17 M dalam pemikiran Mulla Sadra, filosof Iran yang merupakan perancang sistem filsafat yang lengkap dalam Islam. <\/p>\n\n\n\n<p>Dengan demikian, filsafat dalam Islam tidak pernah sungguh-sungguh mati oleh serangan ortodoksi al-Ghazali, sebagaimana anggapan banyak sarjana modern. Sebaliknya, ia perlahan-lahan membentuk gerakan baru dalam tradisi filsafat Islam yang berkolaborasi dengan mistisisme dan saling memberi pengaruh satu sama lain. Dari usaha rasional untuk memahami realitas objektif, ia berubah haluan menjadi usaha spiritual untuk hidup selaras dengan realitas tersebut.  <\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tradisi filsafat Islam awal yang dipengaruhi oleh karya-karya filsafat Yunani pada abad ke-2 H\/8 M, telah sebegitu berkembang dan menjadi gerakan pemikiran filosofis dan ilmiah yang menghasilkan banyak karya orisinal dan bermutu sejak abad ke-3 H\/9 M hingga 6 H\/12 M. Pemikiran filsafat dalam Islam yang dinahkodai oleh para filosof&nbsp; terkemuka seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":1245,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[8,1],"tags":[],"class_list":["post-1242","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gagasan","category-uncategorized"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1242","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1242"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1242\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1890,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1242\/revisions\/1890"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1245"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1242"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1242"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1242"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}