{"id":1219,"date":"2022-02-25T11:01:05","date_gmt":"2022-02-25T04:01:05","guid":{"rendered":"https:\/\/rahmatan.com\/?p=1219"},"modified":"2024-06-05T15:51:55","modified_gmt":"2024-06-05T08:51:55","slug":"salam-multikultur-harmoni-sosial-dan-warisan-gus-dur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/salam-multikultur-harmoni-sosial-dan-warisan-gus-dur\/","title":{"rendered":"Salam Multikultur, Harmoni Sosial, dan Warisan Gus Dur"},"content":{"rendered":"<p>Salam multikultur bisa menjadi pintu masuk bagi harmoni keberagamaan. Tahun 2014 bisa dicatat sebagai ujian cukup berat bagi narasi keberagamaan di Indonesia. Pasalnya, selama pemilihan presiden yang dimenangkan Jokowi tersebut, gosip dan isu-isu berbau SARA bertebaran tak berhingga. Sehingga mengancam harmonisme masyarakat Indonesia yang multikultur. Tak hanya itu, kasus penolakan Front Pembela Islam (FPI) atas pelantikan Basuki Thahja Purnama atau \u201cAhok\u201d sebagai Gubernur DKI Jakarta menggantikan Joko Widodo merupakan tamsil riil bahwa mendemonstrasikan semangat toleransi masih harus terus digelorakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita tidak bisa\nserta merta melepaskan tanggungjawab atas masa depan toleransi bangsa ini.\nKewaspadaan terhadap kesadaran bertoleransi bisa menjaga nasib bangsa secara\nkeseluruhan. Iklim yang harmonis akan meningkatkan segala potensi yang dimiliki\noleh setiap individu tanpa mengedepankan ras dan agama sebagai tembok\npenghalang.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Warisan Gus Dur<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dari sekian\ncatatan, satu hal yang cukup melegakan dari kontestasi politik pemilihan\npresiden beberapa waktu lalu adalah bagaimana salam menjadi penanda kesadaran\nmultikultur. Penggunaan pelbagai bentuk salam dari beberapa tradisi agama\nmengukuhkan fakta keberagaman yang kerap dinegasikan. Ini bisa menjadi modal berharga\nuntuk merekatkan nafas kebangsaan. Tak sekadar itu, salam multikultur sekaligus\nmenguatkan sendi-sendi bangsa yang terkoyak oleh isu-isu berbau ras selama masa\nkampanye presiden yang akhirnya dimenangkan oleh pasangan Joko \u201cJokowi\u201d\nWidodo-JK ini. <\/p>\n\n\n\n<p>Meski\nprosentasenya sangat kecil, sejak digelar kampanye politik pemilihan presiden\nhingga kini ada kecenderungan \u201cmenggembirakan\u201d terkait dengan kesadaran\nmultikultur. Tak lain adalah bagaimana para politikus mengucapkan salam\npembukaan dalam sebuah acara. Menggunakan berbagai salam dalam berbagai tradisi\nkeagamaan bisa dilihat sebagai bentuk penghormatan ataupun penghargaan terhadap\neksistensi minoritas.<\/p>\n\n\n\n<p>Baca juga: <a href=\"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/kritik-atas-nalar-agamaisasi-kekerasan\/\" title=\"Kritik atas Agamaisasi Kekeresan\">Kritik atas Agamaisasi Kekeresan<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Baik Jokowi\nataupun Prabowo menggunakan salam multikultur dalam pelbagai kesempatan. Ini\nterlihat ketika debat calon presiden berlangsung. Dalam acara yang dihadiri,\nPrabowo sering mengucapkan berbagai macam salam dari pelbagai tradisi\nkeagamaan. Mulai dari penggunaan salam dengan bahasa Arab (<em>Assalamu \u2018alaikum<\/em>)\nhingga salam dengan bahasa Sansekerta (<em>om swastiastu<\/em>). Hal yang sama\njuga dilakukan oleh presiden terpilih Jokowi dalam satu kesempatan di acara\ndebat kandidat beberapa waktu silam.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal itu\nmenyuntikkan kesadaran baru bagi kita, terutama bagi mereka yang asing dan\nmengasingkan diri terhadap fakta bahwa terdapat komunitas lain yang memang\neksis di Indonesia. Dulu, mungkin kita sangat asing dengan ucapan tersebut.\nJika dirunut agak jauh, Abdurrahman Wahid pernah menginisiasi penggunaan salam\ndengan bahasa yang khas Indonesia. Mantan Presiden RI-4 tersebut mengajak lebih\nmenghargai budaya adi luhung yang asli Indonesia daripada mengadopsi tradisi\nyang datang dari luar.<\/p>\n\n\n\n<p>Gus Dur\nmenyarankan kepada kita agar muslim Indonesia tidak menjadikan Arab sebagai\npusat kebudayaan atau lebih menitik-beratkan pada \u201cpribumisasi Islam\u201d.Contoh\nsederhananya, ketika mengucapkan salam. Di Indonesia, ucapan salam dalam bahasa\nArab <em>Assalamu \u2018alaikum<\/em> bisa digantikan dengan \u201cselamat pagi\u201d, \u201cselamat\nsiang\u201d, dan lain sebagainya. Gus Dur juga mengkiritik kecenderungan orang-orang\nyang memilih kata-kata <em>akhi<\/em> untuk saudara, <em>umi<\/em> untuk ibu, dan\nlain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n<p>Ini merupakan\nlangkah cerdas yang diwariskan Gus Dur dengan kesadaran ber-Islam yang\nme-nusantara. Tanpa kesadaran penuh tentang itu, kita bisa saja terjebak dalam\nlumpur perdebatan tentang ini. Untungnya, cucu Kyai Wahid Hasyim ini\nmeninggalkan jejak pemikiran yang bisa dicerna dengan sederhana, namun\nmemberikan kesan yang mendalam. <\/p>\n\n\n\n<p>Apa yang\nkemudian menjadi lumrah sekarang ini, dengan mengucapkan pelbagai bentuk salam\ndalam berbagai tradisi bisa disebut sebagai buah pemikiran tersebut. Estafet\npemikiran ini mestinya disambut dengan suka cita oleh kita semua. Penghargaan\nterhadap \u201cyang lain\u201d dengan berlandaskan kesadaran penuh atas fakta Indonesia\nyang multikulur bisa menguatkan kita sebagai bangsa dan negara. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Nasionalisme otentik<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Laku tersebut\nmenambah kepercayaan diri kita menyongsong masa depan bangsa. Lewat salam yang\nberagam, manusia Indonesia bisa memupuk nasionalisme yang otentik. Kesadaran\nberbangsa semacam ini mengenalkan kultur berbeda, sehingga pondasi kebangsaan\nbisa berdiri lebih kokoh. Hal ini, sejalan dengan pemikiran Nurcholish Madjid\n(2004: 32-33), bisa menggantikan paham \u201cnasionalisme kuno\u201d dengan \u201cnasionalisme\nmodern\u201d. Jika nasionalisme kuno berasaskan faham kesukuan dan tribalisme, maka\nnasionalisme modern mengedepankan harmonisme antar golongan.<\/p>\n\n\n\n<p>Nah, di sinilah\nrelevansi politik salam multikultur berlaku. Ia dilihat sebagai sesuatu yang\nsakral sekaligus profan. Sakralitas yang dimaksud di sini adalah bahwa setiap\nagama memiliki symbol kebudayaannya sendiri, yang mana mampu menjadi jembatan\nmanusia untuk mengenalkan profanitasnya kepada yang lain. Ia juga menjadi\nsemacam alat untuk mencairkan kebekuan ritual-ritual agama yang tidak bisa\nditembus. Salam multikultur, dengan begitu, ditempatkan bukan sebagai ritual\nsakral, melainkan penerjemahan bahasa manusia yang unik dan khas.<\/p>\n\n\n\n<p>Baca juga: <a href=\"https:\/\/penerbit.rahmatan.com\/paket-layanan-penerbitan-buku-ber-isbn\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" title=\"Saatnya Menerbitkan Buku\">Saatnya Menerbitkan Buku<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Diharapkan\nnantinya harmoni di antara pemeluk agama akan lebih terjalin erat. Pengenalan\nkebudayaan bukan barang instan yang cukup diajarkan dalam sekali sentuh. Ia\nmembutuhkan waktu lama agar mampu diserap secara komprehensif oleh manusia,\nsang penerima dan pencipta kebudayaan. Sinergi kebudayaan antar agama dapat\ndimaksimalkan sebagai gerbang untuk lebih membuka diri atas fakta keberagaman\ndi Indonesia. Dengan begitu, kabut yang menutup pandangan atas \u201cyang lain\u201d\ndapat dibukan lahan-perlahan. <\/p>\n\n\n\n<p>Kesadaran\nbertoleransi, dengan demikian, bisa digali dari hal yang sederhana. Jika\nkesadaran multikultur terlebih dulu tertanam di benak kesadaran masyarakat,\nmaka akan lebih mudah menanamkan semangat toleransi. Namun, sebagai catatan,\nkesadaran multikultur tersebut tentu tidak cukup hanya menjadi simbol dalam\npembukaan acara saja. Perlu tindakan dan kebijakan politik yang bisa memperkuat\nsehingga tidak terkesan sebagai pelumas bibir belaka.<\/p>\n\n\n\n<p>Kedepan, diharapkan terjadi hubungan harmonis antar agama yang tak sekadar simbolik. Namun menekankan pada penjagaan terhadap marwah kemanusiaan agar tidak terjadi diskriminasi, intoleransi yang berujung perpecahan, dan mengancam keutuhan NKRI yang majemuk. Salam multikultur bisa menjadi pintu masuk bagi harmoni keberagamaan.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salam multikultur bisa menjadi pintu masuk bagi harmoni keberagamaan. Tahun 2014 bisa dicatat sebagai ujian cukup berat bagi narasi keberagamaan di Indonesia. Pasalnya, selama pemilihan presiden yang dimenangkan Jokowi tersebut, gosip dan isu-isu berbau SARA bertebaran tak berhingga. Sehingga mengancam harmonisme masyarakat Indonesia yang multikultur. Tak hanya itu, kasus penolakan Front Pembela Islam (FPI) atas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":1247,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1219","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1219","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1219"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1219\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1893,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1219\/revisions\/1893"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1247"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1219"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1219"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1219"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}