{"id":1165,"date":"2021-06-19T08:27:37","date_gmt":"2021-06-19T01:27:37","guid":{"rendered":"https:\/\/rahmatan.com\/?p=1165"},"modified":"2021-06-19T08:49:11","modified_gmt":"2021-06-19T01:49:11","slug":"berani-gak-sodaqoh-masjid-untuk-tangani-covid-19","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/berani-gak-sodaqoh-masjid-untuk-tangani-covid-19\/","title":{"rendered":"Berani Gak, Sodaqoh Masjid untuk Tangani Covid-19?"},"content":{"rendered":"<p>Lonjakan Covid-19 awal\nbulan Juni 2020 di Jepara berbeda dari kasus yang sama setahun lalu. Di dusun\nsaya, blok rumah yang terkena merata. Orang sakit datang bersamaan dan\nbergantian. Dan waktunya panjang. Hasil pengamatan saya, penyakit ini tidak\nseperti batu dan pilek biasa, sebagaimana orang-orang yang tak percaya Covid-19\nmengatakan meriang biasa. <\/p>\n\n\n\n<p>Pengamatan skala kecil\nini berawal ketika muadzin di dusun laporan ke saya. Saya kebetulan Ketua Badan\nKesejahteraan Masjid (BKM) di dusun saya. \u201dPak jamaahmu akeh seng loro (pak\nJamaah kamu banyak yang sakit,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Agar tidak terjadi simpang siur soal data,\npagi harinya saya mendata. Mulai dari imam masjid, jamaah semua penjuru saya\ncek langsung yang bersangkutan.\nBetul keluhannya sama. Batuk, pilek, panas, dan gemetar. Tidak bisa membau dan\nmencium. <\/p>\n\n\n\n<p>Saya kemudian woro-woro di grup <em>Whatsapp<\/em> masjid.\nMemberi pengumuman siapapun\nyang sakit ataupun tetangganya sakit segera memberi kabar.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak banyak yang lapot lewat grup WA. Lebih\nbanyak japri atau WA pribadi ke saya. Setelah data masuk, saya datangi perawat\nyang juga jamaah dan pengurus masjid. Bersyukur respon beliau cepat. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201dKalau belum parah, belikan multivitamin,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi ada beberapa jamaah kondisinya ngedrop. Nafasnya\nterengah-ngeah dan nafsu makan hilang. Dibawa ke rumah sakit tidak mau. Takut positif. Hal lainnya,\ninformasi dari perawat itu rumah sakit di Jepara penuh. Beberapa pasien dirujuk\nke Semarang dan Solo. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201dGini aja mas, tolong resep obat Covid,\u201d pintaku ke dia. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201dOk,\u201d jawabnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia kemudian menuliskan resep. Tugas kita bagi. Saya\ntitip multivitamin ke perawat itu. Dari awal Juni sampai sekarang sekitar tiga\ndus kami beli.<\/p>\n\n\n\n<p>Sumbernya dari mana? Bukan dari saya. Saya woro-woro di grup\nWA masjid. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201dMari sodaqoh obat untuk teman dan tetangga kita,\u201d tulis saya\ndi grup WA itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada satu ustadz, satu orang pegawai Pemkab,\ndan perawat itu yang menanggapi ajakan saya. Mereka menawarkan bantuan uang.\nSemuanya japri. Waktu tidak berabrengan, tetapi bergantian. <\/p>\n\n\n\n<p>Setelah ada dana, kami belikan obat. Semuanya multivitamin.\nPerawat inilah yang lebih banyak tahu siapa saja yang sakit. Karena dia yang\nbanyak dikabari warga. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201dMas jamaah ini sakit. Silahkan diberi multivitamin,\u201d tulisnya\ndi grup WA.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya segera meluncur. Waktu itu hampir pukul 23.00. <\/p>\n\n\n\n<p>Informasi tak hanya dari perawat itu. Ada juga dari jamaah dan\nwarga. Obat-obat langsung didistribusikan. Kondisi yang parah terpaksa hanya\nkami beri resep dari perawat itu. Karena cukup mahal. Sekitar Rp 70an ribu. <\/p>\n\n\n\n<p>Alhamdulillah rata-rata yang diberi multivitamin nafsu makan\nbertambah. Yang Awalnya merahasiakan sakitnya, akhirnya jujur. Bilang sakit dan\nminta multivitamin. <\/p>\n\n\n\n<p>Lalu bagaimana masjid memperhatikan banyak warga dan jamaah sakit, saya dan pengurus\nrapat di grup WA. Pro kontra teradi terkait prokes di Masjid. Tetapi akhirnya\nkita \u201csepakat\u201d prokes dilakukan. Mulai dari jaga jarak, bawa masker, dan tidak\nbersalaman. Beberapa\nimam dan sesepuh agama dan masyarakat juga jamaah sepakat jika masjid menerapkan sistem\nprokes. <\/p>\n\n\n\n<p>Pemberian obat dari jamaah ke jamaah saya singgung sedikit di\ntulisan sebelumnya. Teman yang saat ini lanjut doktoral di UIN Suka membaca\ntulisan saya. Ia kemudian WA. \u201cSodaqoh\nmasjid lebih baik untuk penanganan korona jamaah. Dibandingkan untuk membangun masjid. Selamatkan dulu jamaahnya. Itu tanggungjawab agama.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Saya sepakat ide liar teman saya itu. Saya sebelumnya tidak\nberfikiran sampai situ. <\/p>\n\n\n\n<p>Sekarang ini Jogo Tonggo hanya andalkan pemerintah. Sementara\ndi beberapa daerah kodisi pemerintah di tingkat bawah tidak efektif. Warga\nlebih taat perintah tokoh agama dan tokoh masyarakat dibandingkan tokoh\npemerintah. Tokoh agama inilah yang kemudian bisa mengorganisir jamaahnya.\nSiapa yang sakit. Siapa yang perlu pertolongan. <\/p>\n\n\n\n<p>Kondisi yang terkena pandemi ini sudah banyak. Merata. Dan\nperlu penanganan bersama. Mulai orang biasa sampai pejabat. Mulai dari lembaga\npemerintah dan ormas. Mulai dari tingkat pemerintah pusat sampai masjid tingkat\nbawah. <\/p>\n\n\n\n<p>Kendala kemudian, adakah dalil yang membolehkan uang masjid\nuntuk penanganan jamaah yang sakit. Lha ini yang akan terjadi pro kontra.\nSeperti biasa, agama selalu hampir demikian. <\/p>\n\n\n\n<p>Kalau dipermasalahkan kas masjidnya, maka awal saya worro-woro adalah sodaqoh untuk jamaah yang sakit. Jamaah saling dukung. Jadi kas masjid yang ikrarnya untuk masjid tidak terkurangi. Jadi tidak masalah. Ini jika ada yang mempermasalahkan tentang jariah masjid. Jika tidak ada maka jariah masjid untuk kemasalahan masjid termasuk jamaahnya akan lebih mudah.  <\/p>\n\n\n\n<p>Pemandangan berbeda dengan rata-rata masjid yang sekarang ini\nada. Seolah-olah masjid dan urusan jamaahnya berbeda. Sodaqoh masjid ya untuk\nurusan di dalam masjid bukan termasuk urusan jamaahnya. <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Menurut Sayyid Sabiq, pemahaman wakaf termasuk jariah ke masjid yaitu menahan harta dan memberikan manfaatnya di jalan Alloh. Jalan Alloh ini yang perlu pemahamanan panjang. Menolong jamaah menurut saya bagian dari jalan Alloh.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Menurut Taqiyyudin Abu Bakr dengan wakaf dimungkinkan adanya\npengambilan manfaat beserta menahan dan menghentikan harta yang dapat diambil\nmanfaatnya guna kepentingan kebaikan untuk mendekatkan diri kepada Allah.\nSilahkan baca skripsi Nusrul Aziz sarja UIN Walisongo tahun 2018.<\/p>\n\n\n\n<p>Penanganan Covid adalah kepentingan kebaikan. Juga untuk\nmendekatkan diri kepada Alloh. Menolong orang dalam kesakitannnya agar tidak\nmenular dan bisa segera sembuh. Pada akhirnya bisa kembali berjamaah. <\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaan selanjutnya, apakah yang ditolong hanya jamaah\nmasjid. Apakah yang tidak jamaah tidak boleh?<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau pendapat saya tidak. <em>Ta\u2019awanu \u2018\u2019alal birri wa taqwa\nwala taawanu ala ismi wal udwan<\/em>. Jelas kita diperintahkan menolong\nsiapapun. Apalagi dalam kondisi pandemi ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Menjadi kendala lain adalah, pemahaman agama di\nkampung-kampung sangat sempit. Bisa dimaklumi karena mereka rata-rata hanya\nberpendidikan informal. Pemahaman agama sebatas ia yang ia tahu. Juga tidak\nbanyak kitab refrensi. Bahkan beberapa hanya andalkan dawuh kiai. <\/p>\n\n\n\n<p>Ini berbeda dengan dunia kampus islam. Punya pikiran bebas\nberpendapat dan dilatih banyak referensi. <\/p>\n\n\n\n<p>Lalu bagaimana? Ilmu Islam masih ekslusif. Belum membumi. <\/p>\n\n\n\n<p>Pakar-pakar ilmu islam banyak yang \u201dngumpet\u201d di kampus. Atau\n\u201cngumpet\u201d di lingkungan borjuis. Perumahan mewah. Perumahan yang dihuni\nkalangan intelektual. Dan mereka bangga. <\/p>\n\n\n\n<p>Tidak banyak pakar atau ahli pendidikan Islam yang berani\nlantang di kampung mengubah kebiasaan adat agama di lingkungan bawah\/kampung.<\/p>\n\n\n\n<p>Lulusan sarjana Islam masih banyak ilmunya hanya untuk mencari\npekerjaan. Belum mau aplikasikan di tingkat bawah\/kampung. Mereka takut dengan\npertentanngan. Belum berani mengajarkan ilmu hasil pelajaran di kampus atau\nkitab-kitab kontemporer yang ia pelajari. Kalau demikian Agama hanya akan tetap pada posisinya. Tidak\nada kemajuan di dalamnya. (*) <\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lonjakan Covid-19 awal bulan Juni 2020 di Jepara berbeda dari kasus yang sama setahun lalu. Di dusun saya, blok rumah yang terkena merata. Orang sakit datang bersamaan dan bergantian. Dan waktunya panjang. Hasil pengamatan saya, penyakit ini tidak seperti batu dan pilek biasa, sebagaimana orang-orang yang tak percaya Covid-19 mengatakan meriang biasa. Pengamatan skala kecil [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":18,"featured_media":1173,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1165","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1165","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/18"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1165"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1165\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1172,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1165\/revisions\/1172"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1173"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1165"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1165"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1165"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}