{"id":1083,"date":"2020-08-06T08:00:52","date_gmt":"2020-08-06T01:00:52","guid":{"rendered":"https:\/\/rahmatan.com\/?p=1083"},"modified":"2020-08-06T08:58:50","modified_gmt":"2020-08-06T01:58:50","slug":"tinjauan-rekonstruksi-sejarah-al-quran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/tinjauan-rekonstruksi-sejarah-al-quran\/","title":{"rendered":"Tinjauan Rekonstruksi Sejarah Al-Quran"},"content":{"rendered":"<ol class=\"wp-block-list\"><li><strong>Iftitah<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Secara umum, studi\nal-Qur\u2019an dapat diklasifikasikan menjadi tiga level studi. Pertama, studi tentang teks (al-Qur\u2019an) dalam hubungannya dengan penulis\n(Allah). Kedua, studi tentang teks itu sendiri atau sejarah teks. Ketiga, studi\ntentang teks dalam hubungannya dengan realita masyarakat pembaca\/penafsir\nterhadap teks al-Qur\u2019an yang terekspresikan dalam produk-produk tafsir (Nur\nIkhwan, 2003: 235).<\/p>\n\n\n\n<p>Buku ini\njelas ditulis dan menjadi tulisan yang menggarap studi tentang teks dan sejarah\nal-Qur\u2019an, serta dilatarbelakangi oleh beberapa alasan. <strong>Pertama,\n<\/strong>keyakinan umat Islam tentang nilai sakralitas al-Qur\u2019an dengan\nmeyakininya sebagai titah suci yang datang dari Allah kepada Muhammad sebagai\nRasul-Nya, tetapi fakta yang ada menjelaskan proses kesejarahan yang panjang\ndan berliku. <strong>Kedua, <\/strong>kenyataan\nyang jelas adanya relasi wahyu Tuhan yang <em>ahistoris <\/em>dengan penurunannya\nyang bersifat kesejarahan, sehingga muncul problematika otentisitas dari proses\ntersebut. <strong>Ketiga<\/strong>, jika dikatakan bahwa proses <em>jam\u2019u al-Qur\u2019an <\/em>lebih\nbersifat <em>tawqify<\/em>, tetapi mengapa tidak ada riwayat yang menyatakan bahwa\nayat ini atau surat ini ditempatkan setelah atau sebelum ini dan itu. Serta\nditemukannya beragam versi <em>mushhaf<\/em> di kalangan sahabat sendiri. <strong>Keempat<\/strong>, Sejarah al-Qur`an bagi mayoritas\numat Islam &#8216;seolah-olah&#8217; diyakini sebagai sejarah yang stabil, tanpa problem,\nadem ayem, dan penuh nuansa keajegan, padahal sejatinya ia diwarnai oleh\nproblem-problem runyam dan mengalami retakan-retakan dalam proses\nkesejarahannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh\nkarenanya, pendekatan <strong>re-konstruksi<\/strong> di sini\nperlu dibaca sebagai membangun (ulang) serta mengotak-atik fakta dan tafsir\nsejarah al-Qur\u2019an dalam pandangan para intelektual muslim maupun\nnon-muslim\/orientalis. Menyitir apa yang diungkapkan oleh Prof. Quraish Shihab\ndalam kata pengantarnya, bahwa buku ini sangat kaya akan rujukan, terutama dari\nkarya-karya orientalis, sehingga hal itu menjadi keistemewaan tersendiri terhadap\nbuku ini. Meski sisi kontroversialnya juga akan sengat terlihat pula.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Sinopsis\nBuku<\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Uraian\ndalam buku ini dijabarkan dalam tiga bagian besar yang masing-masing bagian\nmemiliki focus studi yang komprehensif, tetapi masih memiliki ketersinambungan\ndengan bagian yang lainnya. Penulis, dalam bagian pertama, memulai dengan\nal-Qur\u2019an dan dimensi kesejarahan yang menyertainya. Dinyatakan di dalamnya\nbahwa, kondisi, situasi, tradisi serta tipologi masyarakat Arab pada pra-Islam\nsetidaknya telah memberikan pengaruh terhadap pola redaksi al-Qur\u2019an. Seperti\npola serta sistem perniagaan yang telah menjadi tipologi kehidupan ekonomi\nmasyarakat Arab telah teresap dalam redaksi al-Qur\u2019an (h. 15-17). Selain itu,\nkehidupan sosial kaum Arab juga tercermin dalam al-Qur\u2019an, semisal kehidupan\npengembaraan serta corak paradigm materialis masyarakat Arab yang disebabkan\noleh rasa pesimistik ala padang pasir (h. 18-19).<\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya,\npenulis juga mengkaji perihal asal-usul al-Qur\u2019an serta sumber-sumber yang\nterindikasi diserap oleh al-Qur\u2019an. Perlu diketahui pula, bahwa penulis dalam\nsub bahasan ini lebih banyak merujuk pada kajian-kajian orientalis. Uraian\ntersebut akhirnya juga akan berimbas kepada sistem pewahyuan yang ada dalam\nproses penurunan al-Qur\u2019an. Akhirnya, penulis menjabarkan secara komprehensif\nperihal kronologi serta susunan al-Qur\u2019an baik oleh ulama muslim maupun sarjana\nBarat. <\/p>\n\n\n\n<p>Bagian\nyang kedua dari buku ini, menjelaskan tentang proses pengumpulan al-Qur\u2019an mulai dari teks yang bersifat ucapan (<em>oral text<\/em>) menjadi teks yang\nbersifat tulisan (<em>written text<\/em>). Pada prinsipnya, <em>jam\u2019 al-Qur\u2019an<\/em> mempunyai dua arti,\nyakni: (a) menghafal, dan (b) mengumpulkan secara tertulis. Untuk pengertian\nkedua, tercatat ada tiga fase kesejarahan. <em>Pertama<\/em>,\nmasa Rasulullah saw; <em>kedua<\/em>, masa Abu\nBakr; dan <em>ketiga<\/em>, masa \u2018Utsman.\nAdapun pada fase berikutnya (setelah masa Utsman), kodifikasi al-Qur\u2019an hanya\nberkaitan dengan perbaikan al-Mushhaf (<em>tahsin\nal-Mushhaf<\/em>) atau pemeliharaannya saja. Sebagaimana studi kritis yang ada,\nbuku ini tidak hanya memaparkan narasi sejarah pengumpulan yang umum diketahui\noleh umat Islam, yakni dengan tokoh-tokohnya: Abu Bakar, Umar, Zaid bin Tsabit,\nUstman bin Affan. Melainkan\npula memunculkan tokoh-tokoh yang tidak sependapat dengan mereka, seperti Ibn\nMasud<\/p>\n\n\n\n<p>Bagian ketiga berbicara tentang sejarah\nal-Qur\u2019an pasca <em>Mushhaf Utsmani<\/em>, yang mana proses ini telah mencapai\npuncaknya pada abad 3 H\/9 M. Dari sini kita dapat memahami bahwa\nkomunikasi teks sepenuhnya telah final semenjak al-Mushhaf beredar dan menjadi\npedoman\/standar di perbagai penjuru dunia Muslim. Selain <em>tahsin al-Qur\u2019an<\/em>, buku ini juga memaparkan\nsecara detail perihal proses kesejarahan dari <em>ilm qira\u2019at al-Qur\u2019an <\/em>hingga\nterbentuknya tujuh ragam bacaan al-Qur\u2019an yang masyhur dengan <em>al-qira\u2019at\nal-sab\u2019ah<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Pesan\nDibalik Tuturan Penulis<\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Buku\nini bisa dikategorikan sebagai buku pembanding yang menuturkan sejarah\nal-Qur\u2019an dari sisi <em>outsider<\/em>. Nampaknya, penulis memposisikan diri\nsebagai penutur yang berusaha bersikap objekstf dengan mengacu pada standar\nilmiah yang ada. Penulis, juga menyadari bahwa upaya rekontruksi bangunan\nsejarah al-Qur\u2019an yang telah diyakini mapan oleh sebagian besar umat Islam\nbelum sepenuhnya sempurna. Namun satu hal yang pasti yang kelihatannya muncul\ndalam diri penulis adalah bahwa sejarah kalam Tuhan ini masih sangat misteri\ndan perlu perenungan yang mendalam. Sehingga dibutuhkan <em>effort <\/em>yang\nlebih dari sekedar mengetahui kemudian meyakininya saja tanpa bersikap kritis\nterhadapnya. Karena hal ini akan berdampak pada sisi spiritualitas teks yang\nhendak diungkap guna menjadi pentunjuk bagi umatnya, dan bukankah itu tujuan\npokok dari diturunkannya al-Qur\u2019an?<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Catatan\nAkhir<\/strong><\/li><li>Setelah membaca\nsekilas buku ini, saya mendapatkan kesan kuat bahwa buku ini menggambarkan\nmengenai kondisi serta situasi sejarah al-Qur\u2019an dalam rentang waktu: pra\nIslam-Islam (Muhammad)-mushhaf-pascamushhaf. Masa-masa itu adalah masa krusial\ndimana al-Qur\u2019an telah terikat oleh nilai kesejarahannnya. Al-Qur;an telah\nturun dari yang semula adalah wahyu <em>ahistoris <\/em>&nbsp;menjadi wahyu <em>historis<\/em> yang selayaknya <em>shalih\nli kulli zaman wa makan<\/em><\/li><li>Apa yang kemudian\npenting bagi kita? Sebagai muslim, kita meyakini akan keotentikan al-Qur\u2019an,\nnimimal kita meyakini apa yang kit abaca dan kita telaah saat ini adalah sebuah\nmushhaf yang meski terproses sedemikan rupa, namun itu tetap bersumber secara\nmutawatir hingga Rasul saw. sebagai kaum akademisi dan pemerhati studi\nal-Qur\u2019an, bahwa apa yang kita tahu dari sejarah al-Qur\u2019an ternyata ada retakan\nsejarah yang kita harus sikapi pula. Sehingga buku ini layak menjadi rujukan\npembanding\/setidaknya sebagai pembuka wawasan dalam tradisi intelektual kita<\/li><li>Satu hal yang perlu\ndipahami bahwa, buku ini banyak merujuk karya-karya orientalis sehingga buku\nini dikalangan umum \u201csekali lagi\u201d dianggap sebagai buku yang \u201cmenyesatkan\u201d.\nNamun satu hal yang perlu dipahami bahwa tidak semua orientalis dalam mengkaji <em>turats\n<\/em>memiliki niat yang kurang baik terhadap Islam. oleh karenanya, kita harus\ncerdas-cerdas bersikap terhadap orientalis. Bukankah hikmah\/ilmu bagaikan barang\nmewah bagi umat Islam yang hilang, jika kalian menemukan dimanapun itu maka\nambillah?<\/li><li>Semoga bermanfaat, <em>wa\nAllah A\u2019lam bi al-Shawab\u2026\u2026\u2026\u2026..<\/em><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>ATA<\/p>\n\n\n\n<p> <\/p>\n\n\n\n<p>Judul: Rekonstruksi Sejarah al-Quran<br>\nPenulis: Taufik Adnan Amal<br>\nPenyunting: Samsu Rizal Panggabean<br>\nPengantar: Prof. Dr. M. Quraish Shihab<br>\nDesain sampul: Ujang Prayana<br>\nTata letak: Priyanto<br>\nGenre: Sejarah<br>\nUkuran: 15 x 23 cm<br>\nTebal: 484 halaman<br>\nISBN: 978-602-9193-34-3<\/p>\n\n\n\n<p>Dr. Ahmad Tajuddin Arafat, Dosen FuHum UIN Walisongo, Semarang<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Iftitah Secara umum, studi al-Qur\u2019an dapat diklasifikasikan menjadi tiga level studi. Pertama, studi tentang teks (al-Qur\u2019an) dalam hubungannya dengan penulis (Allah). Kedua, studi tentang teks itu sendiri atau sejarah teks. Ketiga, studi tentang teks dalam hubungannya dengan realita masyarakat pembaca\/penafsir terhadap teks al-Qur\u2019an yang terekspresikan dalam produk-produk tafsir (Nur Ikhwan, 2003: 235). Buku ini jelas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1084,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1083","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1083","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1083"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1083\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1087,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1083\/revisions\/1087"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1084"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1083"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1083"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmatan.com\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1083"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}